Opini
Demo Salah Sasaran, Rakyat Menjerit Kue Kekuasaan Dibagi-bagi Pesta Politik Tak Kunjung Berhenti
Di saat rakyat menjerit, dari Istana kue kekuasaan terus dibagi-bagi, kursi lembaga baru ditambah, pesta politik tak kunjung berhenti.
Oleh: Hasri Jack
TRIBUN-SULBAR.COM - Gelombang demonstrasi mahasiswa kembali mewarnai jalan-jalan kota.
Gedung DPR menjadi sasaran, kantor bupati dan walikota digempur, bahkan isu-isu liar dibiarkan bergulir tanpa arah yang jelas.
Namun, semua itu sesungguhnya hanya bayangan.
Akar persoalan terbesar justru bersemayam di Istana.
Baca juga: Lirik Lagu Mandar Mokama Salili
Baca juga: Desa Bambamanurung dan Babana Jadi Desa Binaan Imigrasi Mamuju, Cegah PMI Nonprosedural & TPPO
Istana - dengan segala kebijakan yang lahir darinya—adalah biang masalah besar.
Pemangkasan anggaran daerah atas nama efisiensi telah memaksa kepala daerah memeras rakyat melalui pungutan dan pajak.
Di saat rakyat menjerit, dari Istana kue kekuasaan terus dibagi-bagi, kursi lembaga baru ditambah, pesta politik tak kunjung berhenti.
Sementara itu, konco-konco rezim tetap berpesta, menikmati privilese di tengah kesulitan ekonomi rakyat.
Mahasiswa harus jernih melihat kondisi negara hari ini. Lemahnya perputaran ekonomi di daerah, meningkatnya angka pengangguran, dan carut-marutnya hukum—semuanya bersumber dari Istana, bukan sekadar dari DPR atau pemerintah daerah.
Karena itu, protes yang diarahkan ke pinggiran hanya akan jadi tontonan.
Aksi yang salah sasaran justru menguntungkan rezim.
Rezim akan tetap nyaman, sementara rakyat terus menanggung penderitaan.
Demo yang pecah di mana-mana DPR jadi sasaran, isu dibiarkan makin liar di daerah bupati dan walikota digempur.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.