Opini

Feodalisme Kultural di Dunia Pesantren

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi ruang sosial dan kultural di mana ilmu, moral, dan adab berpadu.

Editor: Nurhadi Hasbi
DOK MUH YUSRANG
MUH. Yusrang, S.H Penyuluh Agama Islam – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mamuju Tengah 

Oleh: Muh Yusrang 

Setiap pagi, di halaman pondok pesantren, selalu tampak pemandangan yang menenangkan: seorang santri muda mencium tangan sang kyai dengan penuh takzim.

Gestur sederhana itu bukan sekadar sopan santun, melainkan simbol penghormatan dan spiritualitas yang telah hidup berabad-abad di bumi Nusantara.

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi ruang sosial dan kultural di mana ilmu, moral, dan adab berpadu.

Di sanalah muncul istilah yang sering diperdebatkan: feodalisme kultural, sebuah relasi hierarkis antara kyai dan santri yang oleh sebagian orang dianggap membatasi nalar kritis. Namun, apakah benar demikian?

Antara Feodalisme dan Adab

Secara historis, feodalisme dikenal sebagai sistem sosial-politik Eropa abad pertengahan, di mana rakyat tunduk kepada bangsawan sebagai imbalan perlindungan. Hubungan itu bersifat kaku dan menindas.

Namun, dalam konteks Nusantara, istilah feodalisme mengalami pergeseran makna. Ia bukan lagi soal penguasaan tanah, melainkan soal pola relasi sosial berbasis penghormatan dan hierarki moral.

Dalam dunia pesantren, hubungan kyai dan santri memang hierarkis. Santri patuh kepada nasihat kyai, menjaga tutur kata, bahkan mengabdi tanpa pamrih sebagai bentuk khidmah (pengabdian).

Namun berbeda dengan feodalisme klasik, relasi di pesantren justru lahir dari kesadaran spiritual dan keikhlasan hati. 

Di balik kepatuhan itu, tersimpan makna mendalam tentang bagaimana ilmu menuntut adab sebelum kepandaian.

Lirboyo dan Kearifan Tradisi

Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur, bisa menjadi contoh bagaimana “feodalisme pesantren” berjalan berdampingan dengan keterbukaan intelektual.

Berdiri sejak 1910 oleh KH Abdul Karim, Lirboyo tetap menjaga sistem pembelajaran klasik seperti sorogan dan wetonan di tengah arus modernisasi pendidikan.

Menurut penelitian Munir (2023), kepemimpinan kolektif para kyai di Lirboyo menjadi penopang stabilitas dan otoritas moral pesantren.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved