Opini
Feodalisme Kultural di Dunia Pesantren
Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi ruang sosial dan kultural di mana ilmu, moral, dan adab berpadu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/MUH-Yusrang-SH-Penyuluh-Agama-Islam-Kantor-Kementerian-Agama-Kabupaten-Mamuju-Tengah.jpg)
Para kyai tidak hanya berperan sebagai guru, tetapi juga penjaga tradisi, penengah sosial, dan sumber keteladanan.
Sedangkan riset Muhtadin dkk. (2023) menegaskan, loyalitas santri kepada kyai bukan hasil paksaan, tetapi tumbuh dari cinta dan penghormatan.
Hierarki sosial di Lirboyo bukan tembok pembatas, melainkan tangga spiritual. Santri dididik untuk memahami makna ketundukan hati sebelum menapaki kebebasan berpikir.
Dalam lingkungan seperti itu, penghormatan bukan bentuk pengekangan, tetapi jalan menuju kematangan rohani.
Tradisi Kritis di Balik Tembok Pesantren
Banyak orang luar menilai pesantren sebagai lembaga yang tertutup terhadap kritik. Padahal, justru di sinilah lahir tradisi ilmiah yang sangat terbuka — salah satunya melalui lembaga Bahtsul Masail.
Forum ini menjadi ruang diskusi antara santri dan kyai untuk membahas berbagai persoalan aktual: mulai dari hukum ekonomi modern, etika politik, hingga isu sosial kontemporer.
Dalam forum tersebut, santri tidak sekadar mendengar, tetapi aktif menyampaikan pendapat dan berdialog. Bahkan, tidak jarang terjadi perdebatan ilmiah yang hangat namun tetap beradab.
Tradisi seperti ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki mekanisme internal untuk mengolah kritik dan kontekstualisasi ajaran Islam tanpa kehilangan akar tradisinya.
Dengan kata lain, pesantren tidak menolak kritik — ia mendidik bagaimana kritik disampaikan dengan hormat, berdalil, dan beradab. Itulah yang membedakannya dari budaya debat dangkal di ruang publik modern.
Antara Adab dan Nalar
Menyebut pesantren sebagai lembaga “feodal” sering kali terlalu tergesa-gesa. Apa yang tampak sebagai feodalisme sebenarnya adalah konstruksi sosial yang menjaga tata nilai, etika, dan penghormatan.
Hubungan antara kyai dan santri bukanlah relasi kuasa, tetapi relasi batin yang didasari cinta dan keyakinan bahwa ilmu tidak dapat berkembang tanpa rasa hormat kepada sumbernya.
Dalam dunia pesantren, adab bukan sekadar etika formal, melainkan fondasi bagi proses pencarian kebenaran.
Seorang santri diajarkan untuk menghargai guru, kitab, dan tradisi — bukan untuk membatasi pikirannya, tetapi agar pikirannya berakar pada kerendahan hati.