Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Pancasila Mengajarkan Kita untuk Tidak Serakah

Padahal Pancasila bukan sekadar teks yang dibacakan saat upacara hingga dihafal, bukan juga hiasan yang hanya dipasang di dinding sekolah

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Pancasila Mengajarkan Kita untuk Tidak Serakah
OPINI - Furqan Mawardi, Wakil rektor I Universitas Muhammadiyah Mamuju menulis opini tentang mewujudkan generasi yang unggul dan berkualitas, maka kita perlu menanamkan kebiasaan-kebiasaan positif sejak dini
Furqan Mawardi for Tribun sulbar 

 

Oleh: Furqan Mawardi, Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju 

TRIBUN-SULBAR.COM - Setiap kali Pancasila diperingati, kita seringnya hanya tersibukkan menghafal setiap butirnya, akan tetapi seribu sayang terkadang kita luput merenungi setiap pesan yang terkadung di dalamnya.

Padahal Pancasila bukan sekadar teks yang dibacakan saat upacara hingga dihafal, bukan juga hiasan yang hanya dipasang di dinding sekolah dan kantor pemerintahan. 

Namun sejatinya pancasila adalah cermin tentang bagaimana manusia Indonesia seharusnya hidup berkehidupan. 

Baca juga: 3 Pemuda Curi Kelapa Milik Staf SMAN 1 Tapalang Mamuju Tak Jadi Diproses Hukum Usai Dimaafkan

Baca juga: Polisi Sebut Eks Ketua DPRD Mamuju Palsukan Laporan Makan Minum Catut Warung dan Toko Kelontong

Dan jika direnungkan lebih dalam, ada satu pesan besar yang mengalir dari sila pertama sampai sila kelima yang penting kita untuk mengambil pelajaran, yakni : Jangan Menjadi Manusia yang Serakah. 

Saya termasuk meyakini bahwa bangsa kita ini tidak kekurangan orang pintar. Negeri kita ini juga tidak miskin sumber daya. 

Tetapi kita terlalu sering dipertontonkan kerakusan. 

Ada yang serakah terhadap jabatan, serakah terhadap uang, serakah terhadap kekuasaan, bahkan serakah terhadap pujian dan penghormatan.

Ironisnya, kerakusan itu kadang dilakukan oleh orang-orang yang setiap hari berbicara tentang moral, agama, dan kebangsaan. 

Di sinilah Pancasila sebenarnya sedang memberikan pesan dan pelajaran kepada kita semua terkait setiap butirnya, yakni: 
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sesungguhnya memberikan pelajaran bahwa manusia bukan pusat alam semesta. Ada Tuhan yang mengawasi hidup ini. 

Orang yang benar-benar bertuhan seharusnya tahu batas antara kebutuhan dan ketamakan. Sebab keserakahan sering lahir ketika manusia merasa dirinya paling berkuasa dan lupa bahwa hidup hanyalah titipan sementara. 

Al-Qur’an mengingatkan: 
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1) 

Betapa banyak manusia yang akhirnya kehilangan nurani karena terlalu sibuk menumpuk dunia. 

Jabatan dijadikan alat memperkaya diri. Amanah berubah menjadi kesempatan mengambil keuntungan. 

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved