Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Pancasila Mengajarkan Kita untuk Tidak Serakah

Padahal Pancasila bukan sekadar teks yang dibacakan saat upacara hingga dihafal, bukan juga hiasan yang hanya dipasang di dinding sekolah

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Pancasila Mengajarkan Kita untuk Tidak Serakah
OPINI - Furqan Mawardi, Wakil rektor I Universitas Muhammadiyah Mamuju menulis opini tentang mewujudkan generasi yang unggul dan berkualitas, maka kita perlu menanamkan kebiasaan-kebiasaan positif sejak dini
Furqan Mawardi for Tribun sulbar 

Padahal agama tidak pernah mengajarkan kerakusan. Islam justru mengajarkan qana’ah, kesederhanaan, dan keberkahan hidup. 

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri. 

Keserakahan selalu membuat manusia kehilangan empati. 

Orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri biasanya sulit merasakan penderitaan orang lain. 

Hari ini kita melihat ironi di mana-mana. Ada orang hidup bermewah-mewahan di tengah rakyat yang kesulitan makan. 

Ada yang sibuk memperkaya diri ketika banyak anak putus sekolah. Bahkan ada yang tega mengambil hak rakyat kecil demi kepentingannya sendiri. 

Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda: 
“Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
Hadis ini sederhana, tetapi sangat dalam. Bahwa iman seharusnya melahirkan kepedulian sosial. 

Orang yang beradab tidak akan nyaman hidup berlebihan di tengah penderitaan orang lain. 

Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Keserakahan sering menjadi sebab retaknya persatuan. Banyak konflik lahir bukan karena perbedaan, tetapi karena ego dan kepentingan. Ada yang rela memecah belah masyarakat demi kekuasaan. 

Ada yang menjadikan agama, suku, dan identitas sebagai alat memenangkan ambisi politik. 

Padahal persatuan tidak mungkin lahir dari hati yang rakus. 

Persatuan hanya tumbuh dari keikhlasan untuk saling menjaga dan saling mengalah demi kepentingan bersama. 

Bangsa ini terlalu besar untuk dipertaruhkan demi ambisi kelompok. 

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, sesungguhnya mengandung pesan moral yang sangat kuat tentang amanah kekuasaan. 

Kekuasaan seharusnya melahirkan kebijaksanaan, bukan keserakahan. 

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved