Opini
Pancasila Mengajarkan Kita untuk Tidak Serakah
Padahal Pancasila bukan sekadar teks yang dibacakan saat upacara hingga dihafal, bukan juga hiasan yang hanya dipasang di dinding sekolah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Furqan-Mawardi-for-Tribun-sulbar.jpg)
Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Jabatan diperebutkan mati-matian, tetapi setelah didapatkan kadang lupa bahwa di dalamnya ada tanggung jawab besar kepada rakyat.
Politik akhirnya kehilangan hikmah karena terlalu dipenuhi kepentingan.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya...” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini seperti mengetuk hati kita semua bahwa kekuasaan bukan alat memperkaya diri, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Dan akhirnya sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Inilah sila yang paling keras menegur keserakahan.
Sebab keadilan tidak akan pernah lahir di tengah kerakusan.
Selama masih ada orang yang menumpuk kekayaan tanpa peduli penderitaan masyarakat, selama masih ada korupsi yang merampas hak rakyat, selama masih ada eksploitasi alam demi keuntungan segelintir orang, maka sesungguhnya kita belum benar mengamalkan sila kelima, bahkan justru kita sering menghianatinya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Bukanlah seorang mukmin yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Thabrani)
Hadis ini bukan hanya tentang makanan. Ia berbicara tentang kepekaan sosial, tentang rasa cukup, dan tentang pentingnya berbagi kehidupan dengan sesama.
Mungkin inilah yang mulai hilang dari kehidupan kita hari ini, yakni merasa cukup atau dalam bahasa agama qonaah.
Kita hidup di zaman ketika manusia berlomba memiliki segalanya, tetapi lupa menikmati apa yang sudah dimiliki.
Media sosial dipenuhi pamer kemewahan. Jabatan dipandang sebagai simbol prestise. Serta kesuksesan diukur dari banyaknya harta, bukan dari kebermanfaatan hidup.
Padahal bangsa ini tidak dibangun oleh orang-orang serakah. Negeri ini berdiri karena pengorbanan dari para pejuang, karena kebersamaan, karena kesediaan untuk mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Karena itu, memperingati Pancasila sesungguhnya bukan hanya menghafal lima sila, tetapi juga bertanya kepada diri kita masing-masing apakah hidup kita sudah cukup adil bagi orang lain? Apakah jabatan kita membawa manfaat?
Apakah kekayaan kita masih menyisakan kepedulian?
Apakah ilmu yang kita miliki membuat kita semakin rendah hati atau justru semakin rakus?, dan tentunya hanya hati nurani yang bersihlah yang mampu menjawabnya dengan jujur. (*)
Opini Tribun Sulbar
Opini
Hari Pancasila
Hari Lahir Pancasila
peringatan Hari Pancasila
Hari Kesaktian Pancasila
| Imam Lapeo : Cinta, Teladan dan Inspirator |
|
|---|
| Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Prabowonomics Mengubah Market Share Menjadi Market Power |
|
|---|
| Keberpihakan terhadap Ekologi Perspektif Sustainable Ethics dan Ekoteologi Kontekstual di Mamasa |
|
|---|
| Manipulasi Narasi Digital & Profesionalisme Penegakan Hukum: Melawan Arus Trial by Social Media |
|
|---|