Opini
Aromaterapi: Sains di Balik Wangi yang Menenangkan dan Menyembuhkan
Di balik keharuman bunga dan daun yang menenangkan, tersimpan mekanisme ilmiah yang nyata dan dapat dijelaskan oleh sains.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Prima-Trisna-Aji-Dosen-Spesialis-Medikal-Bedah-Universitas-Muhammadiyah-Semarang.jpg)
Oleh : Prima Trisna Aji
(Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang)
Di ruang rawat inap salah satu rumah sakit di kota Semarang, seorang pasien perempuan pasca operasi payudara tampak gelisah.
Nafasnya cepat, keningnya berkerut, dan matanya tak kunjung terpejam meski malam telah larut.
Nyeri pascaoperasi dan rasa takut menghadapi hasil patologi membuatnya cemas.
Seorang perawat kemudian menyalakan diffuser kecil di sudut ruangan, meneteskan beberapa tetes minyak lavender. Perlahan, aroma lembut memenuhi udara.
Beberapa menit kemudian, raut wajah pasien mulai tenang, napasnya melambat, dan ia pun tertidur tanpa perlu obat penenang tambahan.
“Entah kenapa, wangi itu seperti menenangkan hati saya,” ujarnya keesokan harinya dengan senyum tipis.
Kisah sederhana ini menggambarkan kekuatan aromaterapi menjadi sebuah pendekatan nonfarmakologis yang kini mulai mendapat perhatian dalam dunia kesehatan modern.
Di balik keharuman bunga dan daun yang menenangkan, tersimpan mekanisme ilmiah yang nyata dan dapat dijelaskan oleh sains.
Dari Tradisi Menuju Bukti Ilmiah
Sejak ribuan tahun yang lalu, masyarakat Mesir, India, dan Tiongkok kuno telah menggunakan minyak esensial untuk menenangkan pikiran dan mengobati berbagai keluhan tubuh.
Kini, ilmu kedokteran modern mengonfirmasi kebenaran praktik itu. Ketika aroma minyak esensial dihirup melalui diffuser, molekulnya merangsang reseptor penciuman di hidung yang langsung terhubung dengan sistem limbik otak pusat emosi dan pengatur hormon stres.
Akibatnya, kadar kortisol dalam darah menurun sementara serotonin dan endorfin meningkat, menghadirkan rasa rileks, nyaman, dan menurunkan persepsi nyeri.
Penelitian di Journal of Advanced Nursing (2023) menemukan bahwa pasien pasca operasi yang menerima terapi inhalasi lavender mengalami penurunan kecemasan hingga 25 persen dibanding kelompok tanpa aromaterapi.
Temuan serupa juga muncul dalam Complementary Therapies in Medicine, yang menunjukkan kombinasi peppermint dan rosemary mampu menurunkan intensitas nyeri kepala hingga 40 persen.