Jumat, 8 Mei 2026

Opini

Penguatan Dolar Amerika Serikat dan Tantangan Ketahanan Ekonomi Sulawesi Barat

Kurs bukan hanya angka teknis pasar valuta asing. Kurs menjadi mekanisme yang memengaruhi harga barang, biaya produksi

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Penguatan Dolar Amerika Serikat dan Tantangan Ketahanan Ekonomi Sulawesi Barat
Istemewa/Jeffriansyah DSA
DOK PRIBADI- Jeffriansyah DSA Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Mamuju 

Oleh: Jeffriansyah DSA

Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Mamuju

 

TRIBUN-SULBAR.COM- Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian penting dalam dinamika ekonomi nasional. Penguatan dolar bukan hanya persoalan pasar uang atau kebijakan moneter tingkat pusat. Kondisi ini juga memiliki dampak langsung terhadap perekonomian daerah termasuk Sulawesi Barat yang struktur ekonominya masih bertumpu pada sektor primer, konsumsi rumah tangga, perdagangan lokal, serta distribusi barang antarwilayah.

Teori ekonomi internasional, Paul R. Krugman, Maurice Obstfeld, serta Marc J. Melitz melalui buku International Economics: Theory and Policy edisi ke-9 tahun 2012 menjelaskan bahwa nilai tukar berperan penting dalam menentukan harga relatif barang antarnegara, arus perdagangan, serta keseimbangan ekonomi terbuka.

Kurs bukan hanya angka teknis pasar valuta asing. Kurs menjadi mekanisme yang memengaruhi harga barang, biaya produksi, daya saing ekspor, serta stabilitas ekonomi suatu negara atau wilayah yang terhubung pada sistem perdagangan nasional maupun global.

Penulis berpendapat bahwa nilai tukar tidak boleh dipahami sebagai isu ekonomi nasional semata. Jika kita berbicara daerah seperti Sulawesi Barat maka perubahan kurs dapat berubah menjadi persoalan sosial ekonomi karena langsung berkaitan dengan harga kebutuhan pokok, biaya produksi, serta kemampuan masyarakat mempertahankan daya beli.

Bagi Sulawesi Barat pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat perlu dipahami melalui cara kerja ekonomi daerah yang masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap pasokan barang luar wilayah.

Banyak kebutuhan masyarakat seperti bahan pangan olahan, alat pertanian, bahan bangunan, obat-obatan, barang elektronik, kendaraan, pupuk, pestisida, serta komponen produksi masih masuk melalui rantai distribusi panjang. Ketika dolar menguat maka biaya barang impor serta barang yang memiliki komponen impor ikut meningkat. Kenaikan tersebut kemudian bergerak menuju harga jual tingkat lokal.

Fenomena ini sejalan dengan konsep exchange rate pass-through. Rudiger Dornbusch, Stanley Fischer, serta Richard Startz dalam buku Macroeconomics edisi ke-11 tahun 2011 menjelaskan bahwa perubahan nilai tukar dapat memengaruhi harga domestik melalui kenaikan harga barang impor, biaya produksi, serta ekspektasi inflasi. Artinya pelemahan rupiah tidak berhenti pada pasar valuta asing. Dampaknya bergerak menuju pasar barang, pasar tenaga kerja, serta konsumsi rumah tangga.

Efek Pelemahan Rupiah 

Penulis berpendapat bahwa efek pelemahan rupiah terhadap daerah tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Pengaruhnya sering bergerak perlahan melalui kenaikan ongkos distribusi, naiknya harga barang, menurunnya margin usaha kecil lalu akhirnya melemahkan konsumsi rumah tangga. Karena itu pemerintah daerah perlu membaca pergerakan kurs sebagai sinyal awal terhadap potensi tekanan inflasi daerah.

Sulawesi Barat sebagai daerah berkembang menghadapi risiko lebih besar karena struktur ekonominya belum sepenuhnya terdiversifikasi. Pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan skala kecil, serta jasa informal masih menjadi penopang utama ekonomi masyarakat. Ketika biaya produksi meningkat akibat pengaruh kurs, petani, nelayan, pedagang kecil, serta pelaku UMKM menjadi kelompok pertama yang merasakan tekanan. Mereka harus menghadapi kenaikan harga input produksi sementara harga jual belum tentu naik secara seimbang.

Pada sektor pertanian dampak dapat terlihat melalui kenaikan harga pupuk, pestisida, bibit unggul, alat mesin pertanian serta biaya transportasi. Banyak komponen tersebut memiliki hubungan tidak langsung terhadap dolar karena bahan baku atau proses produksinya terkait pasar global. Ketika harga input naik, biaya produksi petani bertambah. Pada saat yang sama posisi tawar petani sering kali masih lemah karena harga hasil panen banyak ditentukan oleh pedagang pengumpul atau mekanisme pasar yang belum sepenuhnya berpihak kepada produsen kecil.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan dolar bukan sekadar persoalan makroekonomi. Persoalan ini masuk sampai ke ruang ekonomi rumah tangga. Masyarakat berpendapatan rendah akan merasakan tekanan melalui kenaikan harga kebutuhan pokok. Pelaku usaha kecil merasakan tekanan melalui kenaikan biaya bahan baku. Pemerintah daerah merasakan tekanan melalui meningkatnya kebutuhan pengendalian inflasi, subsidi tidak langsung, serta stabilisasi distribusi barang strategis.

Kurs Tekan Kesejahtraan Masayarakat 

Analisa Penulis bahwa kelompok yang paling rentan dalam situasi pelemahan rupiah adalah rumah tangga miskin, petani kecil, nelayan, serta pelaku UMKM. Kelompok ini tidak memiliki ruang yang besar untuk menyesuaikan pendapatan ketika harga barang naik. Akibatnya tekanan kurs dapat berubah menjadi tekanan kesejahteraan apabila tidak diimbangi kebijakan perlindungan ekonomi yang tepat.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved