Opini
Menanti Pembuktian "Assa" untuk Petani Polman
Tak main-main, kerugian akibat gagal panen itu ditaksir menembus miliaran rupiah. Tak banyak yang bisa terselematkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Romkyatobai-Yassir-Jurnalis-asal-Polman.jpg)
Ringkasan Berita:
- Petani bawang merah di Polman mengalami gagal panen akibat hama ulat dan krisis air, dengan kerugian mencapai miliaran rupiah.
- Kondisi ini terjadi berulang dan mendorong sebagian petani memilih merantau ke luar daerah hingga ke Malaysia.
- Kehadiran Bupati Polman memberi harapan baru, terutama terkait solusi pengendalian hama dan pemanfaatan sumber air untuk pertanian.
Oleh: Romkyatobai Yassir
(Jurnalis asal Polman)
UNTUNG saja 01 Polewali Mandar itu turun langsung melihat kegagalan hasil panen petani bawang merah di kecamatan Balanipa (14/4/2026).
Kedatangan Haji Assul, sapaan akrab Samsul Mahmud, Bupati Polman itu mencoba mengembalikan setetes harapan para petani yang selama ini hasil panen ambruk gegara hama ulat dan krisis air.
Laporan media massa, menyebut sebanyak 43 hektar lahan pertanian bawang merah di Kabupaten Polman mengalami gagal panen lantaran terkena serangan hama ulat dan kekurangan air.
Situasi ini membuat para petani hanya bisa “gigit cangkul”. Harapan mereka sirnah diujung, saat panen tiba.
Tak main-main, kerugian akibat gagal panen itu ditaksir menembus miliaran rupiah. Tak banyak yang bisa terselematkan.
Ulat-ulat itu menggerogoti daun bawang hingga mengering. Sotuasi mengering itu kian fatal lantaran lahan tadah hujan petani tak basah dimusim kemarau seperti saat ini.
Baca juga: 30 Hektar Tanaman Bawang di Bala Polman Diserang Hama Ulat, Petani Rugi Besar
Situasi inilah membuat para petani disana hanya bisa berpasrah diri laksana pasukan perang yang kalah perang.
Ironinya, rupanya selama ini para petani di Kecamatan Campalagian dan Balanipa senantiasa menderita gagal panen.
Penyebabnya, serangan hama ulat dan krisis air. Gagal panen disana adalah rutinitas yang merugikan petani.
Tapi mengapa mereka tetap bercocok tanam? Sebab mereka adalah warga negara yang tak pernah patah arang—walau hasil panen selalunya “gigit cangkul”.
Saya curiga kondisi ini yang memicu sebagian petani di kecamatan Campalagian dan Balanipa memilih hijrah ke daerah lain hingga menjadi tenaga kerja di negeri jiran Malaysia.
Pilihan hijrah itu tentu wajar, namun rasanya kurang rasional sebab lahan pertanian masih terhampar luas dikawasan kedua kecamatan itu. Hanya saja, hasil panen selalu gagal.
Baca juga: Tanaman Terserang Hama Ulat, Petani Bawang Merah di Polman Rugi Miliaran Rupiah
Kegagalan panen itulah yang harus disolusikan negara. Itulah perlunya kehadiran Pemerintah untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh para petani disana.
Harapan pada Solusi Pemerintah dan Peran Bupati
| Kado Ulang Tahun Duta Sheila On 7: Single Baru atau Keteladanan yang Tak Pernah Usang? |
|
|---|
| Mamasa: Karnaval di Atas Tangisan Epilepsi |
|
|---|
| Menimbang Energi Nuklir: Perspektif Hukum Tata Negara dalam Penguatan Kebijakan Energi Nasional |
|
|---|
| Man Behind the Gun Trump: The Domino Effect Reaching Indonesia |
|
|---|
| Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen Saat Konflik Timur Tengah Bank Indonesia Sedang Jaga Stabilitas |
|
|---|