Minggu, 17 Mei 2026

Opini

Menjaga Bahasa Mamuju Menjaga Identitas Kultural

pemakaian suatu bahasa daerah terjadi ketika generasinya sudah jarang menggunakannya dalam interaksi sehari-hari

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Menjaga Bahasa Mamuju Menjaga Identitas Kultural
Tribun-Sulbar.com/Agriawan
Argariawan Tamsil, Budayawan 

Oleh: Argariawan Tamsil, Budayawan

TRIBUN-SULBAR.COM - Di dalam kuliah sosiolinguistik, saya sering menyampaikan kepada para mahasiswa saya bahwa bahasa daerah merupakan warisan budaya luhur yang harus dilestarikan.

Sebab dunia bergerak secara cepat, jaman berganti dan jika bahasa daerah tidak kemudian dilestarikan maka identitas dan hubungan historis kita dengan masa lalu akan tergerus dan pelan-pelan akan hilang. 

Baca juga: Imbas Rupiah Melemah Kedelai Naik Perajin Tempe di Mamuju Kecilkan Ukuran Tempe Harga Tetap

Baca juga: Kasatpol PP Sulsel Minta 2 Warga Maros Kena Tipu Rekrutmen Lapor Polisi Saja, Lepas Tangan?

Mengapa bisa seperti itu? 

Karena keterputusan pemakaian suatu bahasa daerah terjadi ketika generasinya sudah jarang menggunakannya dalam interaksi sehari-hari.

Para penutur sudah mulai menutup usia (berkurang), serta pendidikan sebagai instrument penting tidak memasukkannya ke dalam muatan lokal. 

Beberapa hari ini saya mengamati beberapa diskusi di media sosial mengenai sosialisasi dari slogan taqi ma,basa Mamuju menuai diskusi panjang.

Saya tertarik mengamati fenomena tersebut dari kacamata kajian sosiolingistik serta latarbelakang saya yang juga berasal dari masyarakat kabupaten Mamuju khususnya di Tapalang. 

Saya melihat bahwa program pemerntah tersebut sebagai bagian dari upaya pelestarian bahasa lokal Mamuju yang makin hari makin terkikis pemakaiannya. 

Sejujurnya sebagai orang Mamuju, selama tinggal di Mamuju (sebatas yang saya amati), saya membenarkan tesis bahwa penutur bahasa Mamuju sudah sangat jarang dan langkah terdengar.

Paling hanya mentok pada kalimat “apaki danggang” atau “apa kinne akua” dan beberapa percakapan basik lainnya. 

Ada beberapa kosa kata yang sangat jarang dituturkan lagi. 

Misalnya kata bantal dalam bahasa Mamuju disebut kalingulu, dalam bahasa Tapalang disebut paqdisang. 

Seratus dalam bahasa Mamuju disebut sappattiara dan disebut sangatus dalam bahasa Tapalang. 

Pelita dalam bahasa Mamuju disebut korongtiga dan paqjannangang dalam bahasa Tapalang. 

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved