Opini
Infodemik Dukono Ketika Konten Viral Mengalahkan Peringatan Bencana
Padahal dalam ilmu kebencanaan, keselamatan sebagian orang tidak pernah dapat dijadikan dasar untuk menilai
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Erupsi-Gunung-Dekono-Halmahera-Utara.jpg)
Oleh:
Dr. Daryono, Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI)
TRIBUN-SULBAR.COM - Erupsi Gunung Dukono hari ini (8/5) kembali menunjukkan bahwa gunung api aktif tidak pernah bisa diperlakukan sebagai ruang wisata biasa.
Dua warga negara asing dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya harus dievakuasi dari kawasan berbahaya.
Dukono adalah gunung dengan aktivitas erupsi yang nyaris terus-menerus, sehingga setiap pelanggaran radius bahaya selalu mengandung risiko fatal.
Baca juga: 2 Remaja Diamankan Polisi Imbas Tawuran Antar Kelompok di Desa Tonyamang Polman
Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Wilayah Sulbar Sore hingga Malam Jumat 8 Mei 2026
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari dampak infodemik kebencanaan.
Di media sosial, publik lebih sering melihat video pendaki atau influencer yang berhasil naik lalu pulang dengan selamat.
Konten seperti itu perlahan membentuk distorsi persepsi risiko.
Orang menjadi merasa aman bukan karena kondisi gunung benar-benar aman, tetapi karena melihat orang lain tampak baik-baik saja di dalam video.
Padahal dalam ilmu kebencanaan, keselamatan sebagian orang tidak pernah dapat dijadikan dasar untuk menilai tingkat bahaya.
Fenomena ini dikenal sebagai survivorship bias.
Publik hanya melihat mereka yang berhasil turun dan mengunggah konten dramatis, sementara potensi ancaman yang tidak terjadi saat itu menjadi tidak terlihat.
Bahaya sebenarnya tetap ada dan bisa muncul sewaktu-waktu dalam bentuk lontaran material pijar, hujan abu pekat, gas vulkanik, maupun erupsi eksplosif mendadak.
Inilah wajah infodemik dalam mitigasi bencana: ketika informasi viral lebih dominan daripada informasi resmi yang dapat dipertanggungjawabkan dari otoritas kebencanaan terkait.
Akibatnya, rekomendasi ilmiah untuk keselamatan masyarakat dianggap berlebihan, sementara konten media sosial justru dijadikan acuan keselamatan.
Tragedi Dukono hari ini menjadi pengingat bahwa alam tidak pernah tunduk pada popularitas influencer, dan video “selamat mendaki” tidak pernah cukup untuk membatalkan risiko bencana. (*)