Opini Tribun
Tokata dan Tedong: Sebuah Cermin Sosial Kita
Dalam banyak kebudayaan, tanduk adalah simbol kekuasaan, vitalitas, dan kehormatan. Dewa Enlil misalnya di Mesopotamia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/sal-nanti-s.jpg)
Oleh : Nirwan Soeja
Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
TRIBUN-SULBAR.COM- Kita, masyarakat Indonesia, termasuk di Sulawesi Barat, sebenarnya tidak kekurangan cerita rakyat yang menyimpan pelajaran hidup. Hanya saja, mungkin kita lupa, atau sudah tidak peduli lagi. Di kepala orang-orang tua tersimpan banyak cerita, layaknya sebuah perpustakaan tua menunggu untuk dibuka kembali. Salah satunya adalah cerita Tokata dan Tedong.
Saya sudah lupa dari siapa dan kapan saya mendengar cerita itu, tapi yang jelas, ceritanya masih membekas dalam ingatan. Namun, asal-usulnya bukan yang. Yang lebih penting adalah pelajaran tentang moral di dalamnya: tentang keotentikan, kekuasaan, dan kejujuran. Tulisan ini hendak menginterpretasi nilai itu.
Dulu, saya diceritakan seperti ini;
“Diang mesa wattu, Tokata namelo’ le’ba’ ma’lolang, appo’ masiri’ aka’ u’de marasa tandu’na.”— Pada suatu waktu, Tokata (anoa) ingin pergi berkencan, tetapi ia merasa malu karena tanduknya tampak kurang indah. Jari, Tokata mellambi’ di tedong (kerbau), aka’ melo nasipaindang tandu’.— Akhirnya, Tokata mendatangi kerbau dengan maksud meminjam atau menukar tanduknya. Ia berharap, tappana sitammu na pa’indangngingi tandu’na tedong lako di tokata,— Setelah bertemu kerbau pun meminjamkan tanduknya.
Dengan satu pesan:
“Mesa peraunna tedong lako di tokata moa lambi’mi ma’lolang,”— Asal nanti, setelah pulang dari kencan, tanduk itu dikembalikan. Masiga tula’, tappana lambi’ ma’lolang tokata, u’de melo’ napabali tandukna.— Singkat cerita, setelah pulang dari kencan, Tokata tidak mau mengembalikan tanduknya. Ia napogau le’ba mekkapa’da u’de melo’ napessitai tedong,—yang ia lakukan, menghilang dan tak mau menemui kerbau.
Sejak itu, kata orang tua,
“Iyang indo’o, sappe dinoa u’de mala sitammu tedong anna tokata.”— Hingga kini, Tokata dan kerbau tak bisa bertemu lagi.
Cermin Sosial
Kurang lebih seperti itulah ceritanya: pendek, ringan, dan mungkin lucu bagi sebagian orang. Namun, di balik itu, cerita ini menyimpan alegori kuat. Tokata sosok kurang percaya diri pada tanduk miliknya sendiri, sehingga ia harus meminjam tanduk tedong demi membangun kepercayaan diri dan tentu demi pengakuan juga.
Pertanyaannya: Bukankah keadaan ini mirip dengan apa yang terjadi pada kita hari ini? Satu keadaan menjadikan penampilan sebagai mata uang sosial baru dalam interaksi. Orang-orang sibuk membangun citra, menempelkan identitas, bahkan meminjam persona orang lain agar terlihat lebih berharga di mata publik. Intinya, nilai kita di mata orang tergantung pada citra yang kita tampilkan. Disinilah keterkaitan kisah tokata dan tedong muncul: krisis otentisitas adalah wajah lain dari krisis kemanusiaan.
Erving Goffman, sosiolog Kanada-Amerika, dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life menulis bahwa kehidupan sosial menyerupai panggung teater (dramaturgi). Pernah dengar lagu Panggung Sandiwara dari God Bless? Serasa mirip. Kita semua adalah aktor yang tampil di depan “penonton”, berupaya menampilkan versi terbaik diri kita. Ada “front stage” di mana identitas dipoles, dan ada “back stage” dimana diri sejati tersembunyi.
Tokata adalah aktor yang gagal memainkan peran di atas panggungnya. Ia terlalu takut menampilkan “panggung belakang” dirinya. Tanduk yang sederhana tapi asli, lalu memilih tampil dengan tanduk pinjaman. Dalam sudut pandang Goffman, tindakan Tokata mencerminkan “disruption of performance: ia kehilangan keseimbangan antara ekspresi diri dan cara ia tampil.”