Opini Tribun
Statistik, Bank Sentral dan Perempuan: Membangun Ekonomi dari Dapur Rumah
perempuan yang setiap hari mengatur pengeluaran rumah tangga, menyiasati belanja di tengah fluktuasi harga, dan menyisihkan rupiah demi kebutuhan tak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Didiq-Rosadi-Ali-SST.jpg)
Statistik, Bank Sentral dan Perempuan: Membangun Ekonomi dari Dapur Rumah
Didiq Rosadi Ali, SST., M.Sc.- Statistisi di Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Barat
TRIBUN-SULBAR.COM, OPINI - Di balik stabilitas ekonomi rumah tangga, ada kekuatan yang jarang tercatat dalam laporan resmi. Ia tidak selalu muncul dalam data angkatan kerja, tak tercantum dalam neraca bank, dan sering kali luput dalam diskusi forum ekonomi nasional.
Namun perannya nyata: ibu rumah tangga—perempuan yang setiap hari mengatur pengeluaran rumah tangga, menyiasati belanja di tengah fluktuasi harga, dan menyisihkan rupiah demi kebutuhan tak terduga.
Tanpa harus mempelajari teori ekonomi secara formal, para ibu ini menjalankan fungsi mikroekonomi secara naluriah. Mereka membuat keputusan-keputusan kecil yang jika dikumpulkan, membentuk denyut nadi ekonomi nasional. Ironisnya, banyak dari mereka merasa “bukan bagian dari ekonomi”—karena tak memiliki penghasilan sendiri, tidak bekerja secara formal, atau tak memiliki rekening bank. Padahal, justru dari merekalah dimulai ketahanan ekonomi di tingkat paling dasar: keluarga.
Coba bayangkan: ketika harga beras naik, siapa yang pertama kali menyesuaikan belanja harian? Ketika tagihan listrik membengkak, siapa yang mengatur penggunaan alat elektronik? Ketika penghasilan suami menurun, siapa yang mulai mencari tambahan penghasilan dari rumah? Jawabannya hampir selalu perempuan. Sayangnya, peran penting ini sering dianggap sekadar bagian dari “naluri” atau “kodrat”, padahal di dalamnya terkandung kemampuan manajerial, analisis risiko, dan intuisi keuangan yang tajam.
Melek Ekonomi: Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan
Tantangan ekonomi hari ini jauh lebih kompleks dibanding dekade lalu. Teknologi finansial berkembang pesat. Aplikasi pinjaman, investasi digital, dompet elektronik, hingga skema transaksi tanpa uang tunai bisa diakses dalam genggaman. Namun kemudahan ini membawa risiko, terutama bagi mereka yang belum siap secara pengetahuan.
Karena itu, literasi ekonomi dan finansial bukan lagi keistimewaan kaum terdidik atau profesional keuangan. Ia adalah kebutuhan hidup yang mendasar, setara pentingnya dengan kemampuan membaca dan menulis. Ibu rumah tangga yang memahami dasar-dasar ekonomi akan lebih siap membuat keputusan finansial yang aman, rasional, dan berpihak pada keberlanjutan rumah tangga.
Misalnya, memahami bahwa inflasi 3 persen berarti harga kebutuhan pokok naik rata-rata 3 persen dalam setahun, ibu akan tahu bahwa dana belanja harus disesuaikan. Mereka bisa menimbang ulang prioritas belanja, menyusun rencana pengeluaran dan bahkan menilai tawaran pinjaman yang masuk akal dan membedakannya dari jebakan utang digital. Mereka juga akan lebih peka dalam memilih produk tabungan, mencermati promosi belanja daring, dan tidak mudah tergoda investasi dengan iming-iming “cuan cepat”.
Statistik dan Bank Sentral: Bukan Hanya Milik Ahli
Namun pemahaman itu tidak lahir dari intuisi semata. Di sinilah data dan kebijakan ekonomi makro seperti suku bunga, indeks harga konsumen, atau daya beli harus dijelaskan dalam bahasa yang akrab—bahasa dapur, bukan ruang rapat.
Peran bank sentral menjadi krusial. bukan hanya bertugas menjaga kestabilan nilai tukar dan suku bunga. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat memahami cara kerja sistem keuangan, agar dapat mengambil keputusan yang bijak.
Edukasi keuangan yang membumi, perlindungan konsumen, dan penyediaan infrastruktur sistem pembayaran digital adalah sebagian dari peran penting bank sentral di era modern.
Lewat pendekatan yang tepat, isu-isu ekonomi bisa disampaikan ke rumah-rumah dengan simpel: dari forum belanja sayur ke posyandu atau yang lebih kekinian dari siaran ke grup WhatsApp warga.