Kamis, 21 Mei 2026

Opini Tribun

Tokata dan Tedong: Sebuah Cermin Sosial Kita

Dalam banyak kebudayaan, tanduk adalah simbol kekuasaan, vitalitas, dan kehormatan. Dewa Enlil misalnya di Mesopotamia

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Tokata dan Tedong: Sebuah Cermin Sosial Kita
Istimewa
DOK PRIBADDI - Dosen UIII Nirwan 

Saat ini, fenomena Tokata seakan hidup di mana-mana: dari politik pencitraan, budaya akademik instan seperti jual beli gelar hingga pencurian simbolik lewat teknologi deepfake—teknologi disalahgunakan dengan meniru wajah dan suara seseorang hingga terlihat persis seperti orang itu. Kita juga melihat politisi yang menampilkan “panggung depan” penuh senyum dan joget di media sosial, sementara di belakang layar rakyat berjuang dalam kegetiran hidup. Sama seperti Tokata, mereka meminjam “tanduk kekuasaan” tanpa rasa tanggung jawab moral untuk mengembalikannya.

Tanduk sebagai Metafora Kekuasaan

Dalam banyak kebudayaan, tanduk adalah simbol kekuasaan, vitalitas, dan kehormatan. Dewa Enlil misalnya di Mesopotamia memakai mahkota bertanduk sebagai simbol otoritas langit. Dewa Cernunnos dalam tradisi Keltik bertanduk rusa sebagai lambang vitalitas alam. Sedangkan di Toraja, tanduk tedong disusun di depan rumah tongkonan sebagai arsip visual status sosial dan pengorbanan keluarga.

Karena itu, dalam cerita, ketika Tokata meminjam tanduk Tedong, ia sebenarnya sedang meminjam tanda kekuasaan. Metafornya begitu. Ia tidak sedang meminjam benda, melainkan representasi sosial yang mengubah cara orang lain memandang dirinya. Dalam bahasa semiotika, tanduk adalah signifier of power. Tanda yang membentuk persepsi dan legitimasi.

Namun, sebagaimana setiap simbol kekuasaan, tanduk juga mengandung risiko: ia bisa memperindah citra, tapi juga menipu pandangan. Tokata mendapatkan bentuk kuasa, tetapi kehilangan makna. Ia menjadi representasi dari apa yang disebut Goffman sebagai the self as a mask — diri yang terperangkap dalam peran yang ia ciptakan sendiri. Dalam retorika disebut pseudos ethos—sebuah citra yang dibuat-buat.

Kepercayaan yang Dikhianati

Tedong, dalam kisah ini, adalah lambang kepercayaan, sosok yang memberi dengan tulus. Ia mewakili rakyat yang mempercayai pemimpin, atau masyarakat yang menyerahkan simbol-simbol legitimasi kepada figur yang dianggap layak. Namun Tokata mengkhianati kepercayaan itu. Ia melanggar perjanjian, dan di situlah krisis ethos terjadi.

Dalam pelajaran retorika Aristoteles, kita mengetahui bahwa kekuatan seseorang dibangun atas tiga tiang: tiang ethos (karakter moral), pathos (empati), dan logos (nalar). Tokata kehilangan semuanya. Ia kehilangan ethos karena berkhianat—maksudnya mengingkari janji, kehilangan pathos karena tak mampu merasakan ketulusan Tedong, dan kehilangan logos karena menutup rasionalitas moralnya sendiri.

Kalau kita tafsirkan sedikit agak getir, maka pengkhianatan tokata itu bukan barang baru dalam politik kita.  Pengkhianatan dimulai dari hal yang kecil. Sebagai contoh, janji politik yang tidak dipenuhi. Janji kesejahteraan hanya berhenti di spanduk yang robek dihantam angin sebelum dijadikan dinding rumah. Kata-kata kehilangan daya moralnya. Ia malah menjelma menjadi sekadar alat manipulasi. Dalam semiotika, janji Tokata adalah index of sincerity—penanda ketulusan yang berubah menjadi index of deceit—penanda kepalsuan. Singkatnya, ia berdusta.

Padahal, dulu orang tua sering mengingatkan dalam bahasa daerah “Moi nameroppo’i langi’ metumba’i lita, moa’ ningoang iyo, iyo tobottea”, yang berarti  “meski langit runtuh menimpa kita dan tanah menggulung, jika kita sudah berkata ‘iya’, maka kata iya harus ditepati.” Kalimat ini sebenarnya mengajarkan pendidikan karakter yang kuat dan logika berpikir yang dibangun melalui ungkapan metaforis dan imajinatif. Saya sering menyebutnya dalam bahasa daerah: “kada kedo silopa’” Antara kata dan tindakan menyatu. Intinya adalah konsistensi.

Lihat betapa hebatnya kemampuan orang tua dulu dalam mengharmoniskan rasio, kata dan tindakan. Kemampuan inilah yang nyaris hilang di kita hari ini. Jika pertanyaan diajukan misalnya: seberapa pintar kita menyusun kalimat metaforis seperti ungkapan orang tua di atas saat ini, dan seberapa dalam jangkauan imajinasi kita dalam berbahasa? Jawabannya, mungkin akan terdengar ironik: dangkal. Mungkin terlalu cepat jika kita katakan “tidak bisa,” namun tanda-tanda ke arah sana semakin terlihat.

Akhirnya, kisah tokata dan tedong adalah cermin sosial kita. kita hidup di masa ketika batas antara otentisitas dan pencitraan semakin kabur. Mungkin, sudah saatnya kita menengok kembali kisah kecil ini atau kisah-kisah lainnya dan bertanya: tanduk siapakah yang sedang kita pakai hari ini?

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved