Opini Tribun Sulbar
Memahami Peran Mendalam Seorang Istri Agar Terwujud Keluarga Sejahtera
Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia akan pentingnya keluarga sebagai sumber kekuatan untuk membangu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Hamsina-Halik-Pegiat-Literasi-Revowriter-Penulis-Buku-Antologi-Bunda-Ajari-Aku-Menuju-Mukallaf.jpg)
Tentu saja hal ini tidak muncul begitu saja tanpa sebab, hal ini dipengaruhi atau disebabkan oleh banyaknya kebijakan yang ditetapkan oleh negara yang justru memicu dan menimbulkan masalah serius pada keluarga sehingga menghilangkan fungsi keluarga.
Sekulerisme, yang merupakan asas dari kapitalisme, telah melahirkan keluarga yang jauh dari agama.
Sehingga membuat mereka dapat melakukan hal-hal yang tidak benar dikarenakan tidak memahami standar antara benar dan salah.
Standar yang hanya disandarkan pada perasaan atau akal manusia semata, tentu akan berbeda penilaiannya tiap-tiap individu.
Inilah pula yang menjadikan fungsi religi dalam keluarga rusak.
Berbagai solusi yang diberikan sebagaimana yang disebutkan di awal, yaitu intervensi untuk menyiapkan keluarga yang berkualitas, sungguh tidak menyentuh akar permasalahan.
Apa yang terjadi saat ini tidak lain merupakan buah dari sistem kapitalisme sekulerisme yang diterapkan. Yang mana aturan dibuat oleh manusia cenderung pada kepentingan si pembuat aturan.
Selain itu definisi generasi emas yang akan diwujudkan juga tidak jelas. Bahkan orientasinya hanya duniawi. Jadi bukan hal yang keliru jika dikatakan peringatan Harganas hanya sekedar ceremonial karena berbagai hal yang kontradiktif. Pada kenyataannya bangunan keluarga ideal sejatinya tidak akan pernah terbentuk dalam sistem sirkularisme kapitalisme.
Beda halnya dalam kacamata Islam, keluarga ideal digambarkan sebagai keluarga yang berorientasi pada akhirat, tanpa melupakan atau meninggalkan dunia. Islam pun menetapkan agar setiap individu muslim menjadikan Islam sebagai landasan hidupnya dalam menjalani setiap aktivitasnya.
Dengan demikian, akan melahirkan individu yang akan berupaya taat dalam segala aturan, khususnya dalam berkeluarga. Orang tua dan anak memahami kewajiban dan segala tanggung jawabnya serta saling membantu dan memahami sesama anggota keluarga.
Hal ini tentu akan mewujudkan fungsi keluarga dan akan mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Disamping itu, Islam juga menetapkan aturan yang jelas dan mengikat terkait hak dan kewajiban pasangan suami istri, kewajiban terhadap anak-anak dan hak-hak lainnya yang terkait satu sama lain. Sehingga mereka bisa menikmati kesenangan dunia.
Namun, untuk mewujudkan keluarga yang demikian sejatinya membutuhkan support sistem.
Dalam Islam, negara di posisikan sebagai rain (pelayan) dan junnah (pelindung), membangun kebijakan untuk menyiapkan keluarga tangguh dan melahirkan generasi cemerlang pembangun peradaban mulia.
Dan disaat negara sanggup memenuhi seluruh kebutuhan rakyatnya, maka sebuah institusi keluarga tidak akan mengalami kesulitan dalam segi ekonomi. Sebab, negara akan menjamin setiap kebutuhannya.
Sehingga keluarga bisa fokus dalam mendidik dan menghasilkan generasi yang berkualitas. (*)