Sabtu, 25 April 2026

Opini Tribun Sulbar

Memahami Peran Mendalam Seorang Istri Agar Terwujud Keluarga Sejahtera

Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia akan pentingnya keluarga sebagai sumber kekuatan untuk membangu

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Memahami Peran Mendalam Seorang Istri Agar Terwujud Keluarga Sejahtera
ist/Tribun-Sulbar.com
Hamsina Halik (Pegiat Literasi Revowriter dan Penulis Buku Antologi Bunda Ajari Aku Menuju Mukallaf) 

Oleh: Hamsina Halik, A. Md
Pegiat Literasi

TRIBUN-SULBAR.COM - Keluarga merupakan bangunan kecil yang berada di tengah-tengah masyarakat.

Sebagai tempat pembelajaran pertama dan utama tentang kehidupan bagi anggota-anggotanya. Tempat lahirnya generasi penerus peradaban.

Oleh sebab itu, bangunan keluarga ideal adalah keluarga yang kuat dan mampu menghasilkan generasi tangguh.

Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia akan pentingnya keluarga sebagai sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan negara.

Pemerintah sendiri tengah menyiapkan keluarga yang berkualitas dimulai sejak prenatal (masa sebelum kehamilan), masa kehamilan, dan masa 1000 hari pertama kehidupan manusia.

Dimulai dari remaja putri dengan memberikan tablet tambah darah untuk memastikan mereka betul-betul sehat dan kelak setelah menikah siap hamil, bimbingan perkawinan bagi calon pengantin, cek kesehatan sebelum menikah, cek HB darah, cek lingkar lengan, dan memberikan intervensi gizi untuk ibu dan bayi sampai 1000 hari pertama kehidupan.

Lebih lanjut, intervensi untuk menyiapkan keluarga yang berkualitas juga dilakukan dengan menyiapkan fasilitas pemantauan kesehatan dan gizi ibu dan bayi yang terstandar di Posyandu dan Puskesmas mulai dari alat timbang terstandar, alat ukur antropometri, dan juga penyuluhan gizi dengan kader-kader yang terlatih.

Sehingga ditekankan agar BKKBN dapat terus mengawal keluarga Indonesia terkait upaya pemerintah dalam rangka percepatan penurunan stunting sesuai target Presiden Jokowi. Diharapkan angka stunting bisa di bawah 20 persen sebagaimana ketentuan SDGs.

Berbagai Masalah Menimpa Keluarga

Prihatin. Inilah kata yang bisa menggambarkan bagaimana kondisi sebagian besar keluarga saat ini.

Di era yang begitu maju, namun sangat disayangkan keluarga diterpa berbagai ujian yang mengancam keutuhan dan kebahagiaannya.

Perempuan atau kaum ibu ditengah keluarga memiliki posisi yang sangat penting.

Namun, jika kaum ibu ini tidak ditempatkan pada posisi yang semestinya, maka ketimpangan akan terjadi.

Bagi kaum ibu, peran utama mereka adalah sebagai ummu wa rabbatul bait, yaitu sebagai pengurus dan pengatur rumah tangganya sekaligus guru pertama bagi anak-anaknya.

Lantas, ketika mereka dipaksa keluar rumah untuk bekerja, akan membuat posisi mereka secara terpaksa juga sebagai tukang punggung.

Alhasil, peran utamanya akan terganggu, tanggung jawabnya sebagai pendidik anak-anaknya dalam menanamkan akidah dan akhlak akan berkurang porsinya dan tidak maksimal dalam menjalankan perannya.

Padahal, bekerja bagi seorang perempuan adalah mubah.

Selain itu, meningkatnya angka perceraian yang kemudian memberikan dampak buruk kepada anak-anak.

Laporan Statistik Indonesia tahun 2023 semakin mempertegas fenomena ini, dengan 463.654 kasus perceraian tercatat sepanjang tahun. Dan yang sangat disayangkan adalah bahwa 76 persen dari kasus perceraian tersebut merupakan cerai gugat, pihak istri yang memilih mengakhiri ikatan pernikahan.

Berbagai faktor yang memic perceraian seperti ketidakcocokan, himpitan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga perselingkuhan.

Banyak keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan, anak-anak mereka stunting. Karena orang tua tidak mampu memberi gizi terbaik untuk anaknya.

Suami istri juga tidak memahami hak dan kewajiban mereka dalam keluarga.

Karena mereka sibuk mencari uang demi bertahan hidup.

Keluarga tidak terutus, anak terbengkalai, saling menyalahkan satu sama lain, timbul konflik yang berujung pada perceraian.

Pada akhirnya anak-anak yang menjadi korban, hilang arah hingga mereka terjerumus pada kenakalan anak-anak yang kian meluas.

Juga remaja putri, yang dimana nantinya mereka akan menjadi calon ibu, jika mereka tidak paham bagaimana menjadi istri dan ibu sebagai bagian visi keimanan dan ketakwaan, maka mereka akan dihadapkan pada berbagai kesulitan.

Yang akan berdampak pada rendahnya mental health pada dirinya. Hingga saat ini, tidak sedikit kasus ibu muda yang menganiaya, melecehkan, bahkan tega menghilangkan nyawa anaknya sendiri.

Bangunan Keluarga Ideal

Berbagai masalah yang menimpa keluarga saat ini, menunjukkan bahwa keluarga tidak mampu menjalankan fungsinya untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.

Tentu saja hal ini tidak muncul begitu saja tanpa sebab, hal ini dipengaruhi atau disebabkan oleh banyaknya kebijakan yang ditetapkan oleh negara yang justru memicu dan menimbulkan masalah serius pada keluarga sehingga menghilangkan fungsi keluarga.

Sekulerisme, yang merupakan asas dari kapitalisme, telah melahirkan keluarga yang jauh dari agama.

Sehingga membuat mereka dapat melakukan hal-hal yang tidak benar dikarenakan tidak memahami standar antara benar dan salah.

Standar yang hanya disandarkan pada perasaan atau akal manusia semata, tentu akan berbeda penilaiannya tiap-tiap individu.

Inilah pula yang menjadikan fungsi religi dalam keluarga rusak.

Berbagai solusi yang diberikan sebagaimana yang disebutkan di awal, yaitu intervensi untuk menyiapkan keluarga yang berkualitas, sungguh tidak menyentuh akar permasalahan.

Apa yang terjadi saat ini tidak lain merupakan buah dari sistem kapitalisme sekulerisme yang diterapkan. Yang mana aturan dibuat oleh manusia cenderung pada kepentingan si pembuat aturan.

Selain itu definisi generasi emas yang akan diwujudkan juga tidak jelas. Bahkan orientasinya hanya duniawi. Jadi bukan hal yang keliru jika dikatakan peringatan Harganas hanya sekedar ceremonial karena berbagai hal yang kontradiktif. Pada kenyataannya bangunan keluarga ideal sejatinya tidak akan pernah terbentuk dalam sistem sirkularisme kapitalisme.

Beda halnya dalam kacamata Islam, keluarga ideal digambarkan sebagai keluarga yang berorientasi pada akhirat, tanpa melupakan atau meninggalkan dunia. Islam pun menetapkan agar setiap individu muslim menjadikan Islam sebagai landasan hidupnya dalam menjalani setiap aktivitasnya.

Dengan demikian, akan melahirkan individu yang akan berupaya taat dalam segala aturan, khususnya dalam berkeluarga. Orang tua dan anak memahami kewajiban dan segala tanggung jawabnya serta saling membantu dan memahami sesama anggota keluarga.

Hal ini tentu akan mewujudkan fungsi keluarga dan akan mewujudkan keluarga yang berkualitas.

Disamping itu, Islam juga menetapkan aturan yang jelas dan mengikat terkait hak dan kewajiban pasangan suami istri, kewajiban terhadap anak-anak dan hak-hak lainnya yang terkait satu sama lain. Sehingga mereka bisa menikmati kesenangan dunia.

Namun, untuk mewujudkan keluarga yang demikian sejatinya membutuhkan support sistem.

Dalam Islam, negara di posisikan sebagai rain (pelayan) dan junnah (pelindung), membangun kebijakan untuk menyiapkan keluarga tangguh dan melahirkan generasi cemerlang pembangun peradaban mulia.

Dan disaat negara sanggup memenuhi seluruh kebutuhan rakyatnya, maka sebuah institusi keluarga tidak akan mengalami kesulitan dalam segi ekonomi. Sebab, negara akan menjamin setiap kebutuhannya.

Sehingga keluarga bisa fokus dalam mendidik dan menghasilkan generasi yang berkualitas. (*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved