Rabu, 10 Juni 2026

Opini

Memanen Satir: Cara Netizen Menelanjangi Wibawa Elite

Di balik keriangan nada itu, tersimpan sebuah ironi perayaan frustrasi publik di Indonesia.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Memanen Satir: Cara Netizen Menelanjangi Wibawa Elite
dokumen pribadi/Andi Ismira
OPINI - Dosen FISIPHUM Universitas Sulawesi Barat, Andi Ismira, M.A 

Ketika sebuah kritik dikemas terlalu lucu dan renyah, ia mengalami proses penjinakan. Pesan perlawanan di dalamnya menguap, melodi dan lirik yang menggelitik.

Berdasarkan Teori Katarsis (Catharsis Theory), komedi ini bertindak sebagai katup penyelamat (safety valve). 
Masyarakat yang awalnya marah atas isu etika atau polemik akademis, merasa "kemarahannya sudah tersalurkan" setelah ikut bernyanyi atau membagikan meme tersebut.

Energi protes yang harusnya bermanifestasi menjadi tuntutan nyata di dunia nyata, menguap di kolom komentar. Publik merasa puas hanya dengan menertawakannya.

Lebih jauh lagi, kegagalan publik ini melahirkan ironi terbesar: Target justru muncul sebagai sosok protagonis. Dalam teori dramaturgi dan penjenamaan politik digital, elit modern tidak lagi memakai topeng kekuasaan yang kaku dan feodal. 

Di mata masyarakat awam , Bahlil bertransformasi dari seorang pejabat yang dikritik menjadi sosok "pemimpin yang asyik," tahan banting, relatable, dan berjiwa besar.

Melupakan beberapa kasus kontroversial yang pernah menggugah tuntutan keadilan dari masyarakat, dalam posisi Bahlil sebagai pejabat publik, di antaranya: Kontroversi Gelar Doktor (S3) Kilat di UI, pernyataan insensitif Bahlil dalam kasus Rempang Eco-Friendly,  sengkarut pelarangan pengecer gas LPG 3 kg yang sempat memicu kelangkaan di pasar, hingga kebijakan pemberian Wilayah Izin Usaha pertambangan kepada Ormas keagamaan.

Satire netizen, secara tragis, justru melakukan laundering (pencucian) reputasi politik secara cuma-cuma. Kritik substantif akhirnya mati, bukan karena dibungkam oleh senapan, melainkan karena ditenggelamkan oleh gelak tawa kita sendiri.

Pada akhirnya, komedi memang selalu menjadi senjata terbaik bagi kaum yang lemah untuk bertahan hidup di tengah sumbatan komunikasi politik.

Namun, sejarah selalu mengingatkan bahwa senjata tersebut akan berbalik menjadi tumpul bahkan menjadi bumerang ketika elite yang dihadapi tahu betul cara berdansa dan mengorkestrasi lelucon tersebut. Kritik substansial atas akuntabilitas jabatan mendadak lumat oleh atmosfer ramah tamah yang dibangun elite.

Meme "Mas Bahlil Ganteng" beserta seluruh keriangan melodi yang menemani kita di sudut-sudut kafe hari ini bukanlah sebuah penanda runtuhnya wibawa kekuasaan. 

Sebaliknya, ia adalah simbol dari kepasrahan publik yang telah kehilangan taring kritiknya dan memilih untuk merayakan kekalahan dengan cara yang paling estetik.

Refleksi menohok ini harus kita bawa pulang: selama netizen Indonesia masih mengira bahwa memviralkan sebuah meme adalah sebuah kemenangan politik yang mutlak, selama itu pula para elite akan terus memimpin jalannya sirkus kekuasaan ini dengan nyaman sembari, tentu saja, ikut tertawa bersama.(*)

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved