Opini
Tangan Tuhan Tidak Minta Maaf
Banyak orang menganggap sepak bola hanyalah permainan. Sembilan puluh menit di lapangan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/ICAL-MARADONA.jpg)
Oleh: Ahmad Faisal (Albiceleste Garis Keras)
TRIBUN-SULBAR.COM- “Saya mencetak gol dengan kepala, tetapi tangan Tuhan yang memasukkannya. Itu adalah pembalasan bagi penjajah.”
-Diego Armando Maradona-
Banyak orang menganggap sepak bola hanyalah permainan. Sembilan puluh menit di lapangan, sebelas lawan sebelas, lalu semuanya selesai. Namun saya tidak pernah percaya bahwa sepak bola sesederhana itu. Bagi saya sepak bola adalah produk kebudayaan, dan seperti semua produk kebudayaan, ia tidak pernah netral.
Di dalamnya tersimpan sejarah, identitas, kepentingan kelas, bahkan ideologi. Sebuah pertandingan bisa menjadi metafora perang, dan sebuah gol bisa menjadi pembalasan atas dekade penindasan. Karena itu, ketika seseorang memilih sebuah tim, ia tidak hanya memilih warna jersey. Ia sedang memilih narasi besar yang ingin diyakininya.
Ia sedang memilih kelas sosial yang ingin dibelanya. Pilihan itu jarang rasional secara statistik; ia selalu emosional, dan di situlah politik bekerja. Maka dengan sadar, tanpa malu, dan tanpa berpura-pura netral, saya memilih Argentina. Dan saya tidak akan meminta maaf untuk itu.
Saya tidak memilih Argentina karena Lionel Messi atau tiga trofi Piala Dunia. Saya memilih Argentina karena negeri itu mewarisi tradisi yang terusik oleh status quo. Tradisi yang menjadikan sepak bola sebagai senjata simbolik bagi mereka yang tak bersuara. Di zaman ketika sepak bola menjadi mesin uang raksasa, tradisi ini adalah anomali yang membahagiakan.
Dari Che ke Maradona: Sepak Bola sebagai Senjata Simbolik
Argentina adalah tanah yang melahirkan Ernesto Che Guevara. Seorang revolusioner yang mengajarkan bahwa diam di hadapan penindasan adalah bentuk persetujuan. Che percaya bahwa manusia tidak boleh hidup tanpa keberpihakan. Mungkin sekilas ini terdengar jauh dari lapangan hijau, tetapi Diego Maradona membuktikan sebaliknya.
Maradona bukan hanya pesepak bola, ia adalah anak miskin dari Villa Fiorito. Ketika dunia memujanya sebagai bintang, ia tetap lantang tentang kemiskinan, Amerika Latin, dan ketimpangan global. Ia menato wajah Che di lengannya dan tak pernah menyembunyikan kritiknya terhadap dominasi negara-negara besar. Baginya, sepak bola adalah harga diri rakyat kecil.
Puncaknya adalah Piala Dunia 1986, ketika Argentina mengalahkan Inggris di perempat final. Dua gol tercipta. Tangan Tuhan yang kontroversial, dan aksi solo melewati lima pemain, gol tersebut kemudian dikenal dengan nama (Gol Abad Ini). Bagi Maradona, gol pertama bukanlah kecurangan. Ia menyebutnya sebagai "pembalasan simbolik" atas Perang Falklands empat tahun sebelumnya, di mana Argentina kalah dan ratusan tentara mudanya tewas.
Setelah pertandingan, Maradona menyatakan bahwa ia mempersembahkan kemenangan itu untuk rakyat Argentina. Juga untuk rakyat Inggris yang tidak menginginkan perang. Ia menolak hadiah resmi dari FIFA. Baginya, trofi tidak berarti apa-apa jika tidak berpihak pada mereka yang menderita. Tangan Tuhan tidak minta maaf karena ia sedang membela yang benar.
Tradisi Maradona tidak berhenti bersamanya. Ia menjadi arketipe pemberontak dengan bola di kakinya. Saya mendukung Argentina karena saya percaya bahwa sejarah berpihak pada yang tertindas. Bukan pada yang sedang menang. Itulah mengapa tangan Tuhan tidak pernah, dan tidak akan pernah meminta maaf.
| Tolak Tambang Logam Tanah Jarang Selamatkan Lingkungan dan Masa Depan Mamuju |
|
|---|
| Selamatkan Sulbar! Krisis Ekologi dan Ancaman Bencana Kok Pemerintah Paksa Eksploitasi Tambang? |
|
|---|
| Pesta Babi, Sapiens dan Ilusi di Atas Piring Kita |
|
|---|
| Perkara Keimigrasian dan Akuntabilitas Kekuasaan Administratif Negara |
|
|---|
| Menjaga Rupiah Dimulai dari Menyehatkan APBN |
|
|---|