Opini
Memanen Satir: Cara Netizen Menelanjangi Wibawa Elit
Di balik keriangan nada itu, tersimpan sebuah ironi perayaan frustrasi publik di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Dosen-FISIPHUM-Universitas-Sulawesi-Barat-Andi-Ismira-MA.jpg)
Filosof Mikhail Bakhtin menyebutnya sebagai panggung karnaval (Carnivalesque). Di dalam "karnaval" media sosial, struktur dan hierarki kekuasaan dunia nyata mendadak runtuh.
Jabatan menteri, ketua umum partai besar, atau status elit yang semula nampak jauh tak tersentuh, seketika didegradasi menjadi sosok konyol yang bisa ditertawakan oleh siapa saja melalui teori superioritas (Superiority Theory), saat publik berhasil menertawakan sang penguasa, untuk sesaat mereka merasa "menang". Mereka merasa lebih cerdas, lebih bermoral, dan berada di atas angin.
Penyusun lagu Mas Bahlil Ganteng beserta jutaan netizen lainnya sedang merayakan ilusi keberhasilan menelanjangi wibawa sang elit.
Di bawah bayang-bayang ancaman UU ITE atau represi digital, demonstrasi di jalanan atau kritik akademis yang kaku sering kali berakhir dengan tembok tebal kekuasaan (atau lebih buruk: kriminalisasi).
Ketika kritik langsung berisiko terjerat UU ITE, meme dan lagu jenaka hadir sebagai tameng pelindung yang membuat kritik tersebut sulit dipidanakan karena dianggap "cuma bercanda".
Oleh karena itu, taktik infrapolitik, sebuah metode perlawanan terselubung dalam bungkusan komedi kreatif sehari-hari, sering menjadi pilihan aman.
Pergeseran makna ketika target ikut tertawa
Bayangkan sebuah skenario klasik: seorang pejabat meradang, mengancam akan melapor ke polisi, atau mengerahkan pemengaruh (influencer) untuk melakukan pembelaan kaku. Respons defensif seperti itu justru akan memvalidasi kritik publik dan memicu amarah yang lebih besar.
Namun, apa yang terjadi ketika lingkaran elit memilih untuk "ikut tertawa"?
Ketika lelucon "Mas Bahlil Ganteng" atau meme sejenis direspons dengan senyuman, sikap santai, atau bahkan diadopsi secara kasual sebagai materi gurauan internal mereka, narasi politiknya telah bergeser.
Kritik tajam yang awalnya bermuatan gugatan substantif, entah itu soal etika politik, dinamika internal partai, hingga polemik gelar akademik, mendadak dijinakkan menjadi sekadar konten hiburan yang ramah keluarga.
Di panggung ini, politisilah yang tertawa paling akhir. Di mata masyarakat awam yang tidak terlalu peduli pada carut-marut politik, elit yang "tahan banting" dan tidak antikritik seperti ini justru memanen simpati.
Mereka dicitrakan sebagai sosok yang humble, berjiwa besar, dan memiliki sense of humor yang baik.
Kritik yang semula diniatkan sebagai bentuk perlawanan, lewat mekanisme ini, berhasil dikooptasi dan direduksi menjadi alat penjenamaan ulang (rebranding) yang sangat efektif dan, ironisnya, itu semua disediakan secara gratis oleh netizen.
Di sinilah letak kekeliruan fatal dalam membaca lanskap politik modern. Publik hari ini terjebak dalam ilusi kemenangan (illusion of victory).
Publik menyangka bahwa dengan menelanjangi wibawa legitimasi elit juga akan serta-merta ikut runtuh. Sebaliknya, dalam ekosistem politik digital yang hiperrealistis, elit tidak lagi takut pada satire; mereka justru belajar cara berdansa bersamanya.
| Tangan Tuhan Tidak Minta Maaf |
|
|---|
| Tolak Tambang Logam Tanah Jarang Selamatkan Lingkungan dan Masa Depan Mamuju |
|
|---|
| Selamatkan Sulbar! Krisis Ekologi dan Ancaman Bencana Kok Pemerintah Paksa Eksploitasi Tambang? |
|
|---|
| Pesta Babi, Sapiens dan Ilusi di Atas Piring Kita |
|
|---|
| Perkara Keimigrasian dan Akuntabilitas Kekuasaan Administratif Negara |
|
|---|