Minggu, 7 Juni 2026

Opini

Pesta Babi, Sapiens dan Ilusi di Atas Piring Kita 

Negara kerap menggunakan kekuasaannya untuk mempermudah korporasi besar masuk dan menguasai jutaan hektar lahan rakyat atas nama efisiensi

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Pesta Babi, Sapiens dan Ilusi di Atas Piring Kita 
Tribun-Sulbar.com/Irfan
Irfan Nutrisionis Puskesmas Campalagian 

Oleh: Irfan
Nutrisionis Puskesmas Campalagian

TRIBUN-SULBAR.COM - Film dokumenter Pesta Babi karya sutradara Dandhy Laksono sukses memantik diskusi hangat di ruang publik. 

Namun, jika kita mengupas riuhnya perdebatan politik dan budaya di media sosial, ada satu isu krusial yang kerap luput dari perhatian: hubungan manusia dan pangan. 

Film ini menegaskan sebuah diskursus fundamental yang sering dilupakan oleh para perumus kebijakan kesehatan: persoalan isi piring kita tidak pernah sekadar urusan biologis untuk mengenyangkan perut atau memenuhi angka kecukupan gizi (AKG). 

Baca juga: Hari Kedua Pencarian, Dua Bocah Hilang Tenggelam di Sungai Mapilli Polman Belum Ditemukan

Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Sulbar, Sabtu 6 Juni 2026: Waspada Hujan Lebat Disertai Petir Malam Ini

Pangan adalah manifestasi paling intim dari kekuasaan, identitas budaya, distribusi sumber daya, relasi manusia dengan alam, dan yang paling krusial, politik pembangunan.

Untuk membedah kompleksitas yang dihadirkan Dandhy Laksono dkk, kita perlu meminjam pisau bedah dua pemikir besar: Yuval Noah Harari melalui karyanya Sapiens: A Brief History of Humankind (2011) dan Paul McMahon lewat bukunya yang provokatif, Berebut Makan: Politik Baru Pangan (2013). 

Melalui titik temu kedua gagasan ini, kita akan melihat bagaimana status gizi sebuah komunitas hari ini dikonstruksi secara paksa oleh narasi sejarah dan cengkeraman pasar global, terutama ketika ditarik ke dalam eksavator Proyek Strategis Nasional (PSN) yang kini tengah gencar merambah tanah Papua.

Dari Mitologi ke Komoditi: Melacak Jejak Sapiens dalam Sepotong Daging

Dalam bukunya Sapiens, Harari mengingatkan kita bahwa kekuatan terbesar Homo sapiens hingga bisa menguasai bumi adalah kemampuan kita untuk mempercayai "mitos bersama"—sebuah narasi fiktif yang disepakati bersama. 

Lewat narasi itulah, entah berupa uang, hukum, atau ikatan kebangsaan, jutaan manusia yang tidak saling kenal bisa bekerja sama dan hidup berdampingan.

Dalam konteks Pesta Babi, babi bukan sekadar hewan ternak bermoncong pendek. 

Di berbagai komunitas adat di Nusantara, khususnya di pegunungan tengah Papua, babi adalah instrumen narasi bersama yang maha penting. 

Ia adalah pengikat struktur sosial, simbol hukum adat, alat rekonsiliasi konflik antar-suku, dan lambang spiritualitas. 

Ketika ritual "pesta babi" atau bakar batu digelar, komoditas ini berfungsi sebagai lembaga jaminan sosial organik: redistribusi protein hewani terjadi secara merata ke seluruh anggota suku tanpa sekat ekonomi. 

Ini adalah bentuk kedaulatan pangan berbasis komunal yang mandiri dan fungsional selama ribuan tahun.

Namun, Harari juga mengingatkan kita pada Revolusi Pertanian sekitar 10.000 tahun lalu. Harari menyebut babak sejarah ini sebagai "penipuan terbesar dalam sejarah. 

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved