Opini
Pesta Babi, Sapiens dan Ilusi di Atas Piring Kita
Negara kerap menggunakan kekuasaannya untuk mempermudah korporasi besar masuk dan menguasai jutaan hektar lahan rakyat atas nama efisiensi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Nutrisionis-Puskesmas-Campalagian.jpg)
Alih-alih membuat hidup manusia lebih mudah, transisi dari berburu-pengumpul menjadi bertani dan beternak justru menjebak manusia dalam hirarki sosial yang menindas dan dominasi penuh atas spesies lain demi efisiensi produksi.
Kritik Harari ini menemukan wujud paling mengerikannya ketika negara memaksakan narasi "modernisasi" lewat Program Strategis Nasional (PSN) di Papua, seperti mega-proyek Food Estate (Lumbung Pangan) di Merauke atau proyek perluasan perkebunan tebu dan sawit skala raksasa.
Atas nama ketahanan pangan nasional dan kemandirian energi, hutan adat yang menjadi habitat berburu dan ekosistem sagu ditebang secara mekanis.
Sapiens modern yang memegang kendali regulasi mengubah fungsi alam menjadi sekadar komoditas industri. Dalam narasi pembangunan ini, babi dan sistem pangan lokal masyarakat Papua terpinggirkan dari rencana pembangunan ekonomi, dianggap "primitif", tidak efisien, dan digantikan oleh monokultur sawit, tebu, atau padi dalam skala besar yang dikuasai oleh korporasi.
Berebut Makan di Bawah Bayang-Bayang Proyek Strategis Nasional: Perspektif McMahon
Jika Harari memberikan kita fondasi makro-historis tentang bagaimana manusia memanipulasi narasi pangan, maka Paul McMahon dalam Berebut Makan menarik kita ke dalam realitas geopolitik kontemporer yang anarkis.
McMahon memetakan bagaimana sistem pangan global modern tidak dirancang untuk memberi makan populasi dunia, melainkan untuk menghasilkan keuntungan bagi segelintir oligarki dan korporasi multinasional melalui konsesi lahan berskala raksasa.
Dalam ekosistem yang timpang ini, hubungan antara negara, pasar, dan masyarakat menjadi pesakitan.
Negara kerap menggunakan kekuasaannya untuk mempermudah korporasi besar masuk dan menguasai jutaan hektar lahan rakyat atas nama "efisiensi" dan "kemandirian pangan".
Namun pertanyaan krusial McMahon selalu bergaung: kemandirian pangan untuk siapa? Dan siapa yang akhirnya tersingkir dari meja makan?
Gambaran yang ditayangkan dalam dokumenter Pesta Babi menjadi sangat relevan ketika dikontekstualisasikan dengan jeritan masyarakat adat Papua di sekitar wilayah PSN.
Ketika korporasi datang membawa buldoser untuk membuka lahan pertanian skala besar, yang terjadi bukanlah pengentasan kelaparan lokal, melainkan penghancuran kedaulatan pangan lokal.
Peternak babi tradisional kehilangan wilayah jelajah ternaknya yang semula mengandalkan umbi-umbian di hutan. Hutan sagu yang menjadi sumber karbohidrat utama bertumpuk-tumpuk dihancurkan.
Sistem pangan modern yang dipaksakan lewat PSN di Papua menciptakan skenario eksklusi yang kejam.
Korporasi yang disokong instrumen keamanan negara menguasai hulu hingga hilir sistem pangan.
Rakyat Papua yang semula adalah subjek berdaulat atas pangan mereka sendiri, kini dipaksa menjadi penonton, buruh murah di tanah adatnya sendiri.