Minggu, 7 Juni 2026

Opini

Pesta Babi, Sapiens dan Ilusi di Atas Piring Kita 

Negara kerap menggunakan kekuasaannya untuk mempermudah korporasi besar masuk dan menguasai jutaan hektar lahan rakyat atas nama efisiensi

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Pesta Babi, Sapiens dan Ilusi di Atas Piring Kita 
Tribun-Sulbar.com/Irfan
Irfan Nutrisionis Puskesmas Campalagian 

Mereka teralienasi atas apa yang mereka tanam, apa yang mereka ternak, dan akhirnya, apa yang masuk ke mulut anak-anak mereka.

Genosida Gizi dan Ironi di Balik Angka Stunting

Ketika kita menjalin perspektif Harari dan McMahon untuk membaca realitas Papua dalam dokumenter Pesta Babi, kita akan menemukan sebuah ironi gizi yang menyayat hati sekaligus mengerikan. 

Papua adalah wilayah yang secara alamiah dikaruniai protein hutan dan kekayaan hayati yang luar biasa. 

Namun hari ini, provinsi-provinsi di Papua secara konsisten menduduki peringkat teratas dengan angka stunting dan gizi buruk tertinggi di Indonesia.

Sebagai seorang Nutrisionis, saya melihat fenomena ini bukan sebagai akibat dari kemalasan atau ketidaktahuan ibu-ibu Papua tentang kebutuhan gizi, melainkan sebagai bentuk "genosida gizi" yang struktural akibat bias pembangunan pangan yang "Jawa-sentris" dan "padi-sentris". 

PSN di Papua dirancang bukan untuk memahami isi piring orang Papua, melainkan untuk memenuhi ambisi pasokan pangan nasional di luar Papua atau komoditas ekspor pasar global.

Ketika hutan adat dikonversi menjadi perkebunan tebu atau sawit skala PSN, ekosistem lokal runtuh. 

Pasokan protein mandiri dari babi peliharaan rakyat dan hewan buruan menurun drastis karena hilangnya habitat pangan mereka. Akibatnya, masyarakat adat mengalami dislokasi konsumsi pangan. 

Mereka terpaksa beralih pada makanan instan berkualitas rendah, karbohidrat sederhana, mi instan, dan minuman manis pabrikan dari warung kelontong atau mart-mart yang sporadis.

Dampaknya adalah kemunculan Triple Burden of Malnutrition (Tiga BebanMalnutrisi) yang ekstrem. 

Di satu sisi, anak-anak Papua mengalami kekurangan gizi yang berujung pada tingginya angka stunting dan wasting, kekurangan mikronutrien karena babi mereka mati atau tidak lagi memiliki ruang hidup. 

Di sisi lain, penyakit metabolik seperti diabetes melitus tipe 2 dan obesitas mulai mengintai generasi muda Papua akibat pola makan tinggi gula dan karbohidrat rafinasi industri. Gizi, dalam konteks PSN di Papua, telah menjadi instrumen penindasan paling sunyi yang merusak kualitas genetik satu generasi.

Gizi Adalah Keadilan Sosial dan Hak Atas Tanah

Kesehatan manusia (gizi manusia) secara mutlak terikat pada kesehatan tanah dan kedaulatan budaya. 

Ketika negara mengasingkan babi dari sistem kebudayaan Papua melalui stigma-stigma modernitas atau restriksi ruang akibat pembangunan infrastruktur, negara sebenarnya sedang meruntuhkan sistem ketahanan kesehatan masyarakat yang paling tangguh.

 Memaksa masyarakat Papua mengonsumsi beras industri atau biskuit pabrikan sebagai intervensi stunting, sembari membiarkan tanah adat mereka dirampas untuk kepentingan kapital, adalah sebuah kemunafikan ilmiah.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved