Opini
Memanen Satir: Cara Netizen Menelanjangi Wibawa Elite
Di balik keriangan nada itu, tersimpan sebuah ironi perayaan frustrasi publik di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Dosen-FISIPHUM-Universitas-Sulawesi-Barat-Andi-Ismira-MA.jpg)
Melalui algoritma media sosial yang bergerak cepat, isu-isu yang membutuhkan refleksi mendalam dan akuntabilitas nyata akhirnya terdistraksi.
Kita tidak lagi memperdebatkan substansi kebijakan atau tata kelola kekuasaan; kita hanya sibuk menunggu variasi meme atau sound TikTok berikutnya yang lebih lucu.
Publik luput membaca bahwa dalam lanskap politik modern, satire yang semula diciptakan untuk menusuk jantung kekuasaan justru dapat berbalik menjadi bumerang yang menguntungkan pihak yang dikritik.
Ketika lelucon tersebut direspons dengan santai, disambut senyuman, atau bahkan dirangkul sebagai materi branding, senjata perlawanan netizen seketika kehilangan ketajamannya.
Alih-alih meruntuhkan legitimasi politik, kegaduhan jenaka ini justru memberikan publisitas gratis yang masif, memoles citranya menjadi sosok yang tahan banting, dan mereduksi kritik substansial menjadi sekadar komoditas hiburan yang cepat kedaluwarsa.
Pada akhirnya, sindiran komedik menggiring proses personalisasi politik.
Meski tidak berbicara tentang kebijakan energi, hilirisasi mineral, atau tata kelola sumber daya alam, sehubungan dengan peran Bahlil sebagai Menteri pada bidang tersebut, sosok “Mas Bahlil” dikemas begitu dekat dengan keseharian publik.
Fenomena ini mengingatkan kita pada konstruksi figur “Gemoy” terhadap Prabowo Subianto pada kontestasi pemilihan presiden sebelumnya.
Pergeseran makna lagu "Mas Bahlil Ganteng" dari yang semula diniatkan sebagai sindiran sinis (satire) menjadi sekadar hiburan jenaka yang dinikmati masyarakat luas adalah sebuah lonceng kematian bagi kritik itu sendiri.
Protes moral yang sejatinya serius, kalah oleh logika algoritma hiburan. Sementara netizen sibuk memoles sound jedag-jedug "Mas Bahlil Ganteng" di TikTok, di luar ruang digital, kenyataan hidup justru berjalan mencekik.
Masyarakat dihadapkan pada pelemahan nilai tukar rupiah yang tak kunjung pulih, yang berdampak langsung pada meroketnya harga-harga barang pokok.
Di tengah kecemasan itu, ruang publik justru dipenuhi oleh noise (kebisingan) retorika politik dari para pembuat kebijakan
Publik mendengar klaim-klaim tanpa data melalui pidato-pidato bombastis, salah satunya terkait pelemahan rupiah atas dollar yang tak berdampak kepada masyarakat desa.
Publik juga menyaksikan kontradiksi logika elite yang terlihat gamblang dalam ranah diplomasi; misalnya, ketika publik dibuat geram oleh respons Menlu Sugiono yang secara defensif menyebut intersepsi militer Israel terhadap 9 WNI relawan kemanusiaan di kapal Global Sumud Flotilla bukan sebagai aksi "penculikan atau penyanderaan".
Segelintir dari sekian banyak gestur komunikasi politik pejabat pemerintahan yang insensitif tersebut, menguap begitu saja, kalah bersaing dengan algoritma hiburan yang membuat publik lupa cara untuk marah.
| Tangan Tuhan Tidak Minta Maaf |
|
|---|
| Tolak Tambang Logam Tanah Jarang Selamatkan Lingkungan dan Masa Depan Mamuju |
|
|---|
| Selamatkan Sulbar! Krisis Ekologi dan Ancaman Bencana Kok Pemerintah Paksa Eksploitasi Tambang? |
|
|---|
| Pesta Babi, Sapiens dan Ilusi di Atas Piring Kita |
|
|---|
| Perkara Keimigrasian dan Akuntabilitas Kekuasaan Administratif Negara |
|
|---|