Rabu, 10 Juni 2026

Opini

Memanen Satir: Cara Netizen Menelanjangi Wibawa Elit

Di balik keriangan nada itu, tersimpan sebuah ironi perayaan frustrasi publik di Indonesia.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Memanen Satir: Cara Netizen Menelanjangi Wibawa Elit
dokumen pribadi/Andi Ismira
OPINI - Dosen FISIPHUM Universitas Sulawesi Barat, Andi Ismira, M.A 

Oleh: Andi Ismira, M.A
(Dosen FISIPHUM Universitas Sulawesi Barat)

"MBG: Mas Bahlil Ganteng. Buah apa yang paling manis? Buahlil!"

Sayup-sayup, lantunan melodi yang belakangan ini akrab di telinga itu terdengar lagi.

Nadanya ceria dikumandangkan mengiringi langkah tegap Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia menjelang naik ke podium untuk berpidato pada perhelatan Mubes V Kosgoro 1957. 

Langkahnya terhenti kikuk, ketika lagu jenaka yang menjadikannya sebagai objek utama itu diputar.

Orang nomor satu di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral itu tersipu dan tertawa, nampak menikmati lagu yang belakangan akrab di ruang dengar publik Indonesia itu.

Lagu  “Mas Bahlil Ganteng”, selama kurang lebih sebulan terakhir telah menjelma menjadi soundtrack harian yang melintasi berbagai ruang personal kita, baik di lini masa digital maupun di dunia nyata.

Menariknya, lagu tersebut disusun dari komentar-komentar netizen pada ruang digital salah satu video wawancara podcast Bahlil dengan influencer.

Di balik keriangan nada itu, tersimpan sebuah ironi perayaan frustrasi publik di Indonesia.

Sesaat, nampaknya lagu itu terasa seperti sebentuk komedi satir ekspresi keresahan rakyat Indonesia di tengah sengkarut situasi sosial politik, nilai tukar rupiah yang anjlok, dan komunikasi politik oleh para pejabat elit yang kerap hadir penuh kejutan. 

Meme, lagu jenaka, dan tebak-tebakanyang berseliweran di media sosial bukanlah fenomena kosong tanpa makna. Pendekatan sosiologi politik memandang ini sebagai perlawanan klasik yang termutakhirkan oleh algoritma.

Baca juga: Dosen Unsulbar: Konflik AS-Israel vs Iran Ancam Jalur Energi Global

Dalam dinamika ruang publik digital, masyarakat dunia maya rentan didera frustrasi politik dan kebuntuan jalur formal.

Pada kondisi ini, komedi dan meme telah lama bertransformasi menjadi apa yang disebut sosiolog James C. Scott sebagai "weapons of the weak". Senjata kaum lemah. Ketika jalur formal untuk mengkritik elit terasa buntu, tersumbat, atau bahkan berisiko hukum, publik secara refleks akan meretas jalur kultural.

Salah satunya melalui humor. Lewat bait-bait jenaka dan video satire, masyarakat awam yang jauh dari akses pengambilan kebijakan menuangkan aspirasi untuk merasakan kepuasan ketika mengabaikan sakralitas kekuasaan dan  mendegradasi wibawa elit politik.

Panggung digital seketika berubah menjadi arena karnaval, di mana hierarki sosial dibalikkan demi memberikan katarsis instan bagi kejenuhan publik atas karut-marut realitas di dunia nyata.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved