Opini
Menyambut Ramadan di Tengah Digitalitas
Dan itu digerakkan melalui laman world wide web, sampai pada media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, hingga platform X.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Pandu-Litdig-Komdigi-RI-Alumni-Fakultas-Dakwah-UINAM.jpg)
(Catatan Reflektif bagi Otoritas Keagamaan)
Oleh : SHALAHUDDIN
(Pandu Litdig Komdigi RI & Alumni Fakultas Dakwah UINAM)
Kehadiran media digital berbasis internet kian melebur dalam lanskap kehidupan masyarakat Indonesia.
Hal itu tak hanya bergerak pada aktivitas di platform digital dan dunia maya untuk mencari dan mengonsumsi informasi tentang peristiwa yang terjadi di sekitar hingga tren yang menggelayut dalam benak mereka.
Tetapi juga tentang bagaimana ekonomi bergerak dan menjadi sumber benefit kehidupan rumah tangga dari platform digital.
Bahkan aktivitas privat atau personal yang bernuansa keagamaan pun telah membaur dalam aktivitas di ruang virtual.
Sehingga kita tak dapat menafikan bahwa perilaku masyarakat dalam mengakses dan memaknai teks agama juga cenderung mengalami perubahan.
Bahkan satu level di atasnya, di antara kita telah sampai pada reproduksi pesan keagamaan pada platform digital.
Bagaimana teks agama dimaknai lalu direkonstruksi mengikuti alur logika media digital.
Baca juga: Digital Nomad : Redefinisi Budaya Kerja
Tentu dengan beragam motivasi yang menyertai masing-masing kreator.
Baik karena motivasi pengalaman psikologis maupun motivasi ekonomis.
Dan itu digerakkan melalui laman world wide web, sampai pada media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, hingga platform X.
Mengakses sumber-sumber keagamaan, baik yang sifatnya otoritatif maupun yang didasarkan pada motivasi pribadi secara instan, akhirnya berdampak pada perkembangan wacana serta praktik beragama yang baru.
Bila diamati, hal ini cukup akseleratif di tengah masyarakat virtual.