Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Menyambut Ramadan di Tengah Digitalitas

Dan itu digerakkan melalui laman world wide web, sampai pada media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, hingga platform X.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Menyambut Ramadan di Tengah Digitalitas
dokumen pribadi/dok pribadi shalahuddin
(Pandu Litdig Komdigi RI & Alumni Fakultas Dakwah UINAM) 

Jika demikian, tentu kita membutuhkan formulasi dalam menghadapi ragam fenomena tersebut.

Momentum Ramadan selalu menarik menjadi medium strategis untuk mengedukasi tanpa henti tentang praktik beragama masyarakat kita.

Sebab di tengah religiusitas yang makin personal, kehadiran fisik ke masjid tak akan dianggap esensial lagi.

Namun pada momen tertentu (Jumat dan Ramadan) tetap menjadi atensi jamaah.

Mengapa? Sebab Jumat dan Ramadan bukan sekadar ritual, tetapi juga tentang manajemen impresi dan identitas. Ibadah merupakan kebutuhan simbolik dalam kehidupan virtual.

Untuk itu, otoritas keagamaan dalam menyambut salah satu momentum tersebut, pertama, perlu memahami bahwa salah satu segmentasi jamaah saat ini adalah komunitas masyarakat yang dibentuk oleh pengalaman personal beragama melalui platform digital berbasis internet.

Kemudian secara spesifik mencoba memahami kondisi psikologis audiens digital agar narasi yang disampaikan senantiasa relevan sebagai upaya membumikan pesan-pesan Tuhan secara efektif.

Karena kehadiran aktor keagamaan yang peduli pada “ruang terdalam” mereka secara personal akan menarik atensi yang lebih baik.

Meski pada saat yang bersamaan kita juga ditantang menghadapi lapisan audiens yang menyimak pesan dai/mubalig bukan lagi sebagai “gelas kosong” yang datang ke majelis, tetapi boleh jadi telah menjadi kurator otoritas.

Kedua, aktor keagamaan (da’i/mubalig dan pengurus masjid) tak lagi cukup fokus menjadikan masjid sebagai front stage dari aktivitas dakwah.

Tetapi perlu menatap medan dakwah yang lebih dinamis dan progresif.

Tentu dengan dukungan legitimasi moral dan intelektual yang memadai.

Tak cukup sampai di situ, sebagai seorang performer, dunia dakwah hari ini turut bergerak pada kontestasi visual dan retorika yang berdampak pada pembentukan identitas performer itu sendiri.

Misalnya, gaya berpakaian, intonasi suara, bahasa tubuh, dan narasi moral yang disampaikan.

Betapapun pesan disampaikan dengan teduh dan impresi karismatik ditampilkan, bila terdapat visualisasi yang dapat memancing atensi negatif dari jamaah (audience) atau memicu untuk menjadi bahan tertawaan, tentu akan mengurangi kekhusyukan dalam proses transmisi pesan keagamaan.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved