Opini
Menyambut Ramadan di Tengah Digitalitas
Dan itu digerakkan melalui laman world wide web, sampai pada media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, hingga platform X.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Pandu-Litdig-Komdigi-RI-Alumni-Fakultas-Dakwah-UINAM.jpg)
Pada kondisi tertentu, bahkan bisa saja yang terjadi adalah performer justru menjadi bahan konten tak berfaedah.
Ketiga, tetap memberi penguatan agar jamaah tidak mudah percaya ceramah viral yang sumbernya tidak jelas agar mampu membedakan mana figur yang hanya mengandalkan popularitas dengan pesan keagamaan, dan mana dai yang memang memiliki kompetensi memadai.
Tentu ini hal yang tidak mudah. Namun penting untuk tetap disampaikan agar institusi keagamaan yang otoritatif tak tergantikan oleh hal-hal yang semata berangkat dari viralitas.
Keempat, dalam konteks digitalitas, isu puasa bukan lagi hanya tentang menahan makan dan minum serta kesetaraan dalam kemanusiaan.
Tetapi juga sebagai latihan mengendalikan impuls digital.
Bahkan bila perlu, agar tampak ramah digital, mimbar keagamaan dapat mendorong kampanye “i’tikaf bukan hanya di masjid, tetapi juga i’tikaf dari algoritma”.
Sehingga Ramadan hadir tak hanya terasa bagi kepentingan otoritas keagamaan secara eksklusif, tetapi juga berfungsi sebagai ruang detoks digital kolektif.(*)