OPINI

Nestapa Guru Honorer

Sebab, selama ini tenaga honorer direkrut dengan sistem yang tidak jelas, sehingga mereka kerap mendapat gaji di bawah upah minimum regional (UMR). 

Editor: Hasrul Rusdi
Ist/Tribun-Sulbar.com
Rahmawati, S. Pd, Ketua Majelis ta'lim Mar'atul Muthmainna 

CASN (CPNS dan PPPK). Per Juni 2021 (sebelum pelaksanaan seleksi CASN 2021), terdapat sisa THK-II sebanyak 410.010 orang.

Itu artinya masih ada sebanyak 410.010 tenaga honorer saat ini. Jumlah THK-II itu terdiri atas tenaga pendidik sebanyak 123.502, tenaga kesehatan 4.782, tenaga penyuluh 2.333, dan tenaga administrasi 279.393.

Sejumlah 184.239 dari tenaga administrasi tersebut berpendidikan D-III ke bawah yang sebagian besar merupakan tenaga administrasi kependidikan, penjaga sekolah, administrasi di kantor pemda, dan administrasi di puskesmas/rumah sakit.

Selain itu, keberadaan tenaga honorer di sektor pendidikan sangatlah banyak.

Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) di website Kemendikbud.go.id jumlah guru honorer sekolah negeri dan lembaga pendidikan mencapai 704.503 orang.

Fakta di lapanganpun menunjukkan bahwa kehidupan guru honorer masih jauh dari kata sejahtera.

Selain itu mereka juga kerap mendapatkan tugas yang lebih berat di luar tugas utamanya sebagai pendidik, antara lain menjadi operator sekolah, pengelola dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), serta kegiatan administrasi lainnya.

Namun meskipun tugas mereka lebih berat, tapi kenyataannya gaji yang mereka dapatkan sangat minim.

Honorer dalam Pusaran Kapitalisme

Peliknya permasalahan guru honorer tentunya membuat kita sadar bahwa problem solving yang akan dijalankan pemerintah nyatanya belum betul-betul menyelesaikan masalah.

Hal ini menjadi wajar karena saat ini kita sedang berada dalam cengkeraman sistem kapitalisme. Sistem yang hanya berorientasi pada profit.

Sistem yang juga selalu memberikan karpet merah bagi para pemilik modal. Hubungan antara penguasa dan rakyat hanya didasarkan pada untung rugi.

Dalam memenuhi kebutuhan, rakyat harus berjuang sendiri tanpa diimbangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang memadai.

Membiarkan kehidupan dalam cengkeraman sistem kapitalisme akan membuat rakyat termasuk para guru sulit untuk merasakan kesejahteraan. Padahal, guru merupakan ujung tombak pendidikan.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved