OPINI

Nestapa Guru Honorer

Sebab, selama ini tenaga honorer direkrut dengan sistem yang tidak jelas, sehingga mereka kerap mendapat gaji di bawah upah minimum regional (UMR). 

Editor: Hasrul Rusdi
Ist/Tribun-Sulbar.com
Rahmawati, S. Pd, Ketua Majelis ta'lim Mar'atul Muthmainna 

Solusi Cerdas Pegawai Honorer

Pendidikan adalah hal yang penting dalam mencetak generasi penerus estafet peradaban suatu bangsa, maka sudah selayaknya guru sebagai pendidik generasi tersebut mendapat gaji dan pelayanan yang maksimal agar fokus dan maksimal dalam mendidik generasi.

Prinsip pengelolaan urusan ummat dalam Islam didasarkan pada aturan yang sederhana, pelayanan prima, dan tenaga kerja yang mumpuni dalam menangani urusan rakyat.

Negara menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi rakyatnya, khususnya bagi kaum laki-laki yang mempunyai kewajiban bekerja dan menafkahi keluarganya.

Selain itu, tidak ada persyaratan kompleks bagi tenaga kerja yang ingin bekerja dalam departemen, jawatan, atau unit-unit. Terpenting, mereka memiliki status kewarganegaraan dan memenuhi kualifikasi, baik laki-laki maupun perempuan, Muslim maupun non-Muslim.

Iman Ad Damsyiqi menceritakan dalam sebuah riwayat dari Al Wadliyah bin Atha bahwa semasa pemerintahan Umar bin Khaththab ada tiga guru yang mengajar anak-anak. Mereka diberikan gaji masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas).

Jika saat ini harga 1 gram emas 500 ribu rupiah, maka gaji guru saat itu setiap bulannya adalah sebesar Rp31.875.000,00. MasyaAllah bukan?

Pemberian gaji ini tentunya tidak memandang status guru tersebut, apakah mereka PNS ataupun honorer. Hal yang jelas adalah bahwa mereka berstatus sebagai tenaga kerja.

Pengaturan gaji, negara akan mengambil dari kas baitulmal. Apabila kas baitulmal tidak tercukupi maka negara bisa menariknya dari dharibah atau pajak yang bersifat sementara.

Dan pajak ini hanya dipungut dari rakyat yang benar-benar kaya (crazy rich). Disaat yang sama, karena tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai, maka rakyat tidak akan menjadikan PNS/ASN sebagai satu-satunya pekerjaan impian.

Ketenagakerjaan dalam Islam menggunakan sistem pemenuhan kebutuhan bukan sekadar status.(*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved