Selasa, 7 April 2026

Opini

Depresiasi Rupiah, Fundamental Ekonomi dan Sentimen Pasar

Indeks ini mencerminkan penguatan atau pelemahan nilai tukar dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia. 

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Depresiasi Rupiah, Fundamental Ekonomi dan Sentimen Pasar
Tribun Sulbar / Ist
Dosen FEB Unhas/ Komisaris Utama PTPN IX Muhammad Syarkawi Rauf.(Ist) 

Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf
(Dosen FEB Unhas/ Ketua KPPU RI 2015 – 2018)

Depresiasi mata uang Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan mata uang emerging market economies (EMEs) di Asia dipengaruhi oleh faktor sentimen negatif pelaku pasar akibat kenaikan US Dollar Index

Indeks ini mencerminkan penguatan atau pelemahan nilai tukar dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia. 

US dollar index diperkenalkan pertama kali oleh The Federal Reserve, bank sentral AS pada tahun 1973.

US dollar index dibangun dengan mengacu pada enam mata uang utama dunia, yaitu: Euro dengan bobot 57,6 persen, Yen Jepang 13,6 persen, Pound Sterling Inggris 11,9 persen, Krona Swedia 4,2 persen dan Franc Swiss 3,6 persen.

US dollar index mengalami kenaikan selama sebulan terakhir, yaitu dari titik terendah sebesar 96,452 pada 18 September 2025 hingga titik tertinggi sekitar 98,564 pada 25 September 2025.

Selanjutnya, hingga 2 Oktober 2025 indeks dolar AS menurun menjadi 97,892, yang mencerminkan bahwa mata dolar AS kembali melemah terhadap enam mata uang utama dunia.

Kecenderungan ini mencerminkan bahwa pada awalnya mata uang dolar AS melemah terhadap enam mata uang utama dunia lalu mengalami apresiasi pada 25 September 2025.

Selanjutnya, hingga saat ini, posisi dolar AS terus mengalami fluktuasi untuk kembali ke keseimbangan baru.

Tren peningkatan US dolar index sejalan dengan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yaitu berada pada titik terlemah sebesar Rp. 16.765, 3 per dolar AS pada 25 September 2025.

Saat ini, nilai tukar rupiah per dolar AS berfluktuasi menuju keseimbangan baru sekitar Rp. 16.600 – 17.000 per dolar AS. 

Secara internal, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi oleh faktor fundamental, dalam hal ini indikator makro ekonomi nasional, seperti inflasi, pertumbuhan jumlah uang beredar (JUB) yang mencerminkan likuiditas perekonomian, pertumbuhan ekonomi, defisit fiskal, dan BI rate sebagai suku bunga acuan atau suku bunga kebijakan moneter.

Fenomena pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat dijelaskan dengan menggunakan flexible price monetary model (FPMM).

FPMM menghubungkan antara fluktuasi suatu mata uang dengan perbedaan pertumbuhan JUB, perbedaan pertumbuhan ekonomi, perbedaan suku bunga riil antara Indonesia dengan AS. 

FPMM menyebutkan bahwa perbedaan pertumbuhan JUB antara Indonesia dengan AS dapat menyebabkan fluktuasi nilai tukar rupiah per dolar AS.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved