Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Depresiasi Rupiah, Fundamental Ekonomi dan Sentimen Pasar

Indeks ini mencerminkan penguatan atau pelemahan nilai tukar dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia. 

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Depresiasi Rupiah, Fundamental Ekonomi dan Sentimen Pasar
Tribun Sulbar / Ist
Dosen FEB Unhas/ Komisaris Utama PTPN IX Muhammad Syarkawi Rauf.(Ist) 

Artinya, rasio utang terhadap GDP Indonesia semakin menuju angka psikologis 60 persen sebagai batas atas utang yang dianggap aman. 

Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak terdeprisiasi ekstrim? Langkah yang dapat dilakukan adalah menjaga agar suku bunga riil Indonesia lebih besar dibandingkan dengan AS. 

Hal ini bisa dicapai dengan dua cara, yaitu: pertama, melakukan relaksasi suku bunga acuan (BI rate) secara terukur dengan tetap memperhatikan tren relaksasi suku bunga acuan (policy rate) secara internasional, khususnya relaksasi suku bunga bank sentral AS. Dalam hal ini Federal Fund Rate (FFR). 

Langkah kedua, menjaga agar inflasi Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan inflasi AS.

Saat ini, inflasi Indonesia pada September 2025 sekitar 2,65 persen secara tahunan (year on year) lebih rendah dibandingkan inflasi AS pada Agustus 2025 sekitar 2,9 persen.

Diperkirakan oleh lembaga trading economics, inflasi AS pada September 2025 lebih rendah dari Agustus 2025, yaitu sebesar 2,7 – 2,8 persen. 

Sejalan dengan FPMM, BI harus mengelola likuiditas perekonomian nasional agar pertumbuhan money supply (JUB) nasional lebih rendah dibandingkan pertumbuhan JUB di AS.

Kenaikan JUB yang tidak terukur akan berdampak pada depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Menjaga momentum ekspansi perekonomioan nasional yang ditunjukkan oleh peningakatn pertumbuhan ekonomi nasional pada kwartal kedua 2025 sebesar 5,12 persen.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kwartal pertama 2025 yang hanya 4,87 persen secara tahunan.

Hal ini kontras dengan pertumbuhan ekonomi AS pada kwartal kedua 2025 yang hanya 2,1 persen.

Pertumbuhan ekonomi AS pada kwartal kedua 2025 mengalami ekspansi dibandingkan kwartal pertama 2025 yang hanya 2,0 persen. 

Sementara pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2025 secara tahunan diperkirakan sekitar 1,8 persen.

Hal ini lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan sebesar 4,8 – 5,4 persen pada tahun 2025. 

Akhirnya, mengingat fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS lebih banyak disebabkan oleh faktor persepsi atau sentimen pasar terhadap perekonomian nasional, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) diminta untuk memperbaiki komunikasi publik dalam rangka transparansi dan akuntabilitas kebijakan untuk mengurangi premi risiko dan persepsi risiko terhadap perekonomian nasional.(*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved