Senin, 13 April 2026

Opini

Setelah Salim S. Mengga: Siapa Bisa Menyamai, Bukan Sekadar Mengisi?

Kebanyakan orang mengantar kepergian Salim S. Mengga dengan deretan kisah, fragmen kenangan yang disusun rapi agar duka

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Setelah Salim S. Mengga: Siapa Bisa Menyamai, Bukan Sekadar Mengisi?
Istimewa
DOK PRIBADI- Ahmad Faisal (Ical) 

 

Oleh: Ahmad Faisal (Orang Muda Sulawesi Barat)

 

TRIBUN-SULBAR.COM- “Marondong duambongi anna matea, mau anak u, mau appo u, damuanna menjari maraqdia moa tania to maasajangi pa’banua. Da muanna dai di peuluang mua masuangngi pulu-pulunna, mato’dor I kedzona, apa iya mo tu’u namaruppu-ruppu lita’.”
 (I Manyambungi, Raja Tanah Mandar pertama)

Kebanyakan orang mengantar kepergian Salim S. Mengga dengan deretan kisah, fragmen kenangan yang disusun rapi agar duka terasa lebih mudah diterima. Saya memilih jalan yang lain, kembali, berulang-ulang, pada satu petuah yang tak pernah berhenti ia nyalakan. Bukan karena bunyinya indah di telinga, melainkan karena bagi saya, bait-bait I Manyambungi bukan sekadar perhiasan kata. Ia adalah bara yang menguji siapa yang sungguh-sungguh, dan siapa yang hanya singgah. Ia adalah amanat yang tidak selesai diucapkan, tetapi harus di pertanggungjawabkan, nafas demi nafas, hingga hela terakhir.

Saya percaya, tanpa menyisakan celah ragu, almarhum tidak pernah memperlakukan petuah itu sebagai kutipan kosong. Ia tidak menggantungnya di dinding pidato. Ia menanamnya di dalam diri. Ia menjadikannya rangka jiwa, bukan sekadar susunan kalimat. Ia menjadikannya arah, bukan sekadar suara.

Pesan I Manyambungi melampaui sekadar warisan moral. Ia berdiri sebagai etika dasar yang keras dan tak bisa dinegosiasikan, setara dengan fondasi paling purba tentang mengapa seseorang layak memegang kuasa. Di dalamnya terpatri tiga harga mati kepemimpinan. Cinta yang tak berpura pada tanah kelahiran, keberpihakan yang tegas pada mereka yang lemah, dan keluhuran yang tak retak antara kata dan laku. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar.

Dan justru di zaman yang koyak oleh pragmatisme ini, ketika politik kerap kehilangan wajahnya, ketika kekuasaan tercerai dari tanggung jawab, dan jabatan terlalu sering menjelma menjadi sekadar kulit tanpa isi, standar dari I Manyambungi berdiri seperti karang yang menolak hancur.

Ia menjadi satu-satunya jangkar yang mampu menahan agar kuasa tidak sepenuhnya tercerabut dari rasa, agar kepemimpinan tidak sepenuhnya jatuh menjadi transaksi.

Dalam bahasa filsafat moral, retak antara mengetahui kebenaran dan menjalankannya disebut akrasia. Kegagalan batin yang membuat manusia berhenti di pengetahuan, tetapi gagal tiba di tindakan. Banyak yang paham apa yang benar.

Sedikit yang sanggup hidup di dalamnya. Almarhum berada di sisi yang langka itu. Ia tidak berhenti pada tahu. Ia bergerak menuju laku. Ia tidak sekadar mengerti tiga prasyarat I Manyambungi, ia menjelma ke dalamnya. Ia menjadi tubuh bagi pesan itu, menjadikannya hidup, berjalan, dan terasa.

Ia tidak bersembunyi di balik prosedur, tidak berlindung di balik aturan untuk menghindari tanggung jawab moral. Ia melangkah dari keyakinan. Ia memilih sikap ketika banyak orang memilih aman. Kutipan I Manyambungi bukan naskah yang ia hafalkan, melainkan pisau yang ia pakai untuk membedah kenyataan, untuk menilai mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus dilawan.

Di sanalah letak bobot keberartiannya. Ia tidak sekadar menduduki kursi Wakil Gubernur. Ia memberi isi pada kursi itu. Ia mengubah jabatan dari simbol administratif menjadi ruang pengabdian yang nyata. Integritasnya tidak lahir dari kata-kata yang disusun rapi, tetapi dari konsistensi yang berulang.

Kedekatannya dengan rakyat tidak dibangun oleh sorot kamera, tetapi oleh langkah kaki yang benar-benar sampai. Ia tidak sekadar mengetahui nasihat leluhur, ia membiarkannya mengalir dalam darahnya. Ia tidak sekadar tampak sebagai pemimpin, ia menjadi pemimpin karena ia tak mampu mengkhianati nuraninya sendiri.

Maka ketika ajal datang menjemput, yang runtuh bukan sekadar satu posisi dalam struktur kekuasaan. Yang hilang bukan sekadar seorang pejabat. Yang gugur adalah penanda nilai, sebuah standar hidup yang selama ini diam-diam menjaga arah. Yang pergi adalah sosok yang berhasil memadukan suara dan tindakan menjadi satu gerak yang utuh, tanpa retak.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved