Opini
Hari Ibu Nasional: Parenting Bukan Sekadar Naluri, tapi Tanggung Jawab Bersama
Parenting hari ini tidak lagi sesederhana memberi makan, menyekolahkan anak, lalu berharap semuanya berjalan baik
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Elinda-RizasariSpdMpd.jpg)
Selama ini, kita terlalu lama mempercayai mitos bahwa ibu secara otomatis tahu cara mengasuh anak dengan benar. Padahal, parenting adalah keterampilan yang perlu dipelajari, diperbarui, dan disesuaikan dengan konteks zaman.
Anak-anak yang tumbuh di era digital membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka memerlukan kelekatan emosional, komunikasi dua arah, batasan yang konsisten, serta keteladanan perilaku bukan sekadar kontrol, hukuman, atau
larangan.
Jika ibu tidak dibekali pengetahuan parenting yang memadai, risiko yang muncul bukan hanya konflik keluarga, tetapi juga masalah jangka panjang pada perkembangan emosi, perilaku, dan kesehatan mental anak.
Dalam jangka panjang, kegagalan pengasuhan bukanlah kegagalan individu, melainkan kegagalan sistem sosial.
Dari Memuliakan Ibu ke Mendukung Ibu
Hari Ibu Nasional tidak cukup hanya dengan memuliakan peran ibu melalui simbol dan ucapan. Yang jauh lebih penting adalah mendukung ibu agar mampu menjalani parenting yang sehat dan manusiawi.
Dukungan itu tidak bisa dibebankan hanya pada ibu. Keluarga, pasangan, sekolah, komunitas, dan negara memiliki peran yang sama pentingnya. Parenting bukan semata tanggung jawab
individu, melainkan tanggung jawab sosial.Ketika ibu dibiarkan sendirian menghadapi tantangan pengasuhan, yang dipertaruhkan bukan hanya kesejahteraan ibu, tetapi juga kualitas generasi masa depan.
Solusi: Membangun Ekosistem Parenting Sehat
Momentum Hari Ibu Nasional 22 Desember 2025 harus diarahkan pada langkah nyata, bukan sekadar seremoni. Pertama, pendidikan parenting perlu menjadi layanan publik yang sistematis, misalnya melalui kelas parenting berbasis sekolah dan puskesmas, yang mudah diakses dan tidak menghakimi.
Kedua, kesehatan mental ibu harus diprioritaskan, karena ibu yang kelelahan secara emosional sulit menjalani pengasuhan yang positif. Ketiga, peran ayah dan keluarga besar perlu diperkuat, agar pengasuhan tidak bertumpu pada satu orang. Keempat, sekolah dan komunitas harus menjadi mitra orang tua, bukan sekadar penilai keberhasilan anak.
Kelima, narasi publik tentang ibu perlu diubah, dari sosok yang harus selalu sempurna menjadi manusia yang juga berhak belajar, salah, dan dibantu.
Penutup
Hari Ibu Nasional adalah momentum refleksi: parenting bukan sekadar naluri, tetapi proses belajar seumur hidup. Ibu bukan mesin pengasuhan yang selalu kuat, melainkan manusia yang membutuhkan dukungan, pengetahuan, dan ruang bernapas.
Jika kita sungguh ingin membangun generasi yang sehat secara fisik dan mental, maka mendukung ibu dalam menjalani parenting yang sehat bukan pilihan tambahan, melainkan keharusan moral.Merayakan ibu berarti memastikan mereka tidak berjuang sendirian—bukan hanya hari ini, tetapi setiap hari.(*)
| Tolak Tambang Logam Tanah Jarang Selamatkan Lingkungan dan Masa Depan Mamuju |
|
|---|
| Selamatkan Sulbar! Krisis Ekologi dan Ancaman Bencana Kok Pemerintah Paksa Eksploitasi Tambang? |
|
|---|
| Pesta Babi, Sapiens dan Ilusi di Atas Piring Kita |
|
|---|
| Perkara Keimigrasian dan Akuntabilitas Kekuasaan Administratif Negara |
|
|---|
| Menjaga Rupiah Dimulai dari Menyehatkan APBN |
|
|---|