Opini
Hari Ibu Nasional: Parenting Bukan Sekadar Naluri, tapi Tanggung Jawab Bersama
Parenting hari ini tidak lagi sesederhana memberi makan, menyekolahkan anak, lalu berharap semuanya berjalan baik
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Elinda-RizasariSpdMpd.jpg)
Penulis : Dr. Elinda Rizkasari,S.Pd.,M.Pd
Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta
TRIBUN-SULBAR.COM- Di negeri ini, kita terlalu sering memuji ibu sebagai pahlawan keluarga, tetapi terlalu jarang menyiapkan sistem agar ia tidak kelelahan dalam diam. Setiap 22 Desember, bangsa ini kembali merayakan Hari Ibu Nasional. Ibu dipuji sebagai sosok paling berjasa dalam kehidupan anak dan keluarga.
Namun di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, satu pertanyaan penting patut diajukan: apakah ibu benar-benar didukung untuk menjalani peran parenting yang sehat, atau justru dibiarkan berjuang sendiri di bawah beban ekspektasi yang kian berat?
Parenting hari ini tidak lagi sesederhana memberi makan, menyekolahkan anak, lalu berharap semuanya berjalan baik. Tantangan pengasuhan semakin kompleks mulai dari paparan gawai sejak dini, tekanan akademik, masalah kesehatan mental anak, hingga krisis keteladanan dalam keluarga.
Di tengah kompleksitas itu, ibu sering ditempatkan sebagai aktor utama, bahkan satu-satunya, dalam keberhasilan atau kegagalan pengasuhan.
Ibu di Tengah Tekanan Zaman
Banyak ibu masa kini menjalani peran ganda: sebagai pengasuh utama dan sebagai pekerja.Mereka dituntut hadir penuh secara emosional bagi anak, sekaligus tetap produktif secara ekonomi. Ironisnya, dukungan sistem sering kali tidak sebanding dengan tuntutan tersebut.
Dalam realitas sehari-hari, tidak sedikit ibu yang merasa bersalah ketika bekerja, dan merasa tidak cukup ketika di rumah.
Parenting perlahan berubah menjadi sumber kecemasan, bukan lagi ruang tumbuh bersama. Media sosial memperparah keadaan dengan standar pengasuhan “sempurna” yang sering kali tidak realistis, seolah kesalahan sekecil apa pun adalah kegagalan ibu sebagai orang tua.
Hari Ibu Nasional seharusnya menjadi momentum untuk menyadari bahwa pengasuhan anak bukan hanya soal niat baik ibu, tetapi juga soal kesiapan mental, kesehatan emosional, dan dukungan lingkungan.
Kisah Nyata di Balik Ruang Keluarga
Seorang ibu muda, sebut saja Ibu Maya, ibu dua anak usia 6 dan 9 tahun, pernah bercerita dengan suara lirih bahwa ia merasa gagal sebagai orang tua. Setiap pagi ia harus berangkat bekerja, setiap malam menghadapi anak yang tantrum, sulit fokus belajar, dan hanya tenang saat memegang gawai.
Ia sudah mencoba berbagai cara: disiplin keras karena takut anak “keterlaluan”, lalu berbalik membiarkan saja karena lelah dan kehabisan energi.
“Semua orang bilang, ibu itu nalurinya pasti tahu. Tapi saya justru bingung harus mulai dari mana,” katanya.
Yang dialami Ibu Maya adalah potret banyak ibu Indonesia hari ini. Parenting masih dipersepsikan sebagai kemampuan alami perempuan, sehingga kebutuhan akan edukasi dan pendampingan pengasuhan sering dianggap tidak penting. Padahal, tanpa pengetahuan dan dukungan yang memadai, pengasuhan mudah berubah menjadi pola reaktif, penuh emosi, dan minim refleksi.