Mamuju Tengah
Bantu Suami, Warga Topoyo Mateng Manfaatkan Pekarangan Budidaya Entok
Menurutnya, budidaya entok dipilih karena perawatannya relatif mudah dan tidak memerlukan lahan luas.
Penulis: Sandi Anugrah | Editor: Abd Rahman
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/GTRWEGRG.jpg)
Ringkasan Berita:
- Yaya (27), seorang ibu rumah tangga di Desa Topoyo, Mamuju Tengah (Mateng), berhasil memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk berbudidaya entok (manila) selama dua tahun sebagai sumber tambahan pendapatan keluarga.
- Yaya memilih budidaya entok karena perawatannya relatif mudah, tidak memerlukan lahan luas, serta dikenal tahan penyakit dan memiliki pertumbuhan cepat
- Entok dijual dengan harga per ekor mulai dari Rp60 ribu hingga Rp200 ribu (untuk jenis jantan)
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH – Seorang ibu rumah tangga, Yaya (27) memanfaatkan pekarangan rumahnya di Desa Topoyo, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat berbudidaya entok atau manila.
Ia menunjukkan kreativitas dan semangat berwirausahanya dalam membantu perekonomian suaminya.
Yaya mengatakan , kegiatan ini tidak hanya menjadi sumber tambahan pendapatan.
Baca juga: Kronologi Penipuan IKD: Warga Kumasari Kehilangan Rp20 Juta Usai Ikuti Arahan Pelaku
Baca juga: Eks Pj Kades Tapandullu Korban Murni, Kuasa Hukum Terkejut: Pencuri DD Rp388 Juta Mantan Bos Bank
Tetapi juga mendorong ketahanan pangan keluarga di tingkat komunitas.
Menurutnya, budidaya entok dipilih karena perawatannya relatif mudah dan tidak memerlukan lahan luas.
Ia menjelaskan, unggas ini dikenal tahan terhadap penyakit dan memiliki pertumbuhan cepat.
Sehingga cocok dibudidayakan secara mandiri di rumah.
“Alhamdulillah, Saya sudah sekitar dua tahun berbudidaya entok, bantu-bantu suami Pak," ucap Yahya, Ibu rumah tangga di Desa Topoyo, Kecamatan Topoyo, Mateng, Senin (24/11/2025).
Selain konsumsi pribadi, hasilnya seperti telur dan daging entok dapat dijual langsung ke pasar atau ke pengepul.
Harga per-ekor mulai Rp60 ribu hingga Rp150 ribu.
"Paling mahal jenis jantan bisa tembus Rp150 ribu hingga Rp200 ribu, adapun betina sekitar Rp60 ribu,” ujar Yaya.
Yaya menambahkan, selain nilai ekonominya, budidaya entok juga memberikan manfaat lain.
Kotorannya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas untuk tanaman di pekarangan yang sama.
| Warga Paraili Mamuju Tengah Mengaku Dihipnotis OTK, Uang Rp15 Juta Raib |
|
|---|
| Cuaca Ekstrem Picu Banjir di Mamuju Tengah, 145 Kepala Keluarga Terdampak |
|
|---|
| Anggota DPRD Mamuju Tengah Minta Pemkab Segera Tangani Warga Terdampak Banjir |
|
|---|
| 4 Desa Terdampak Banjir di Mamuju Tengah 1 Pohon Besar Tumbang |
|
|---|
| Bayi Satu Tahun di Mamuju Tengah Hanyut Terseret Arus Sungai, Ditemukan Meninggal Dunia |
|
|---|