Minggu, 24 Mei 2026

Opini

Bisik Hati yang Terserak

Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa gangguan psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi semakin meningkat. 

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Bisik Hati yang Terserak
dok pribadi
Ketua LDNU Sulawesi Barat, Kiyai Muda Nur Salim Ismail 

Ketiga, dalam ilmu komunikasi, membangun kesadaran atas ‘metakomunikasi’ (komunikasi tentang komunikasi) pada level intrapersonal menjadi penting. 

Kita perlu belajar untuk ‘berbicara’ kepada diri sendiri dengan bahasa yang lembut, jujur, dan konstruktif. Keterampilan ini tidak hanya memperbaiki kesehatan mental, tetapi juga meningkatkan kualitas interaksi sosial.

Dalam konteks sosial, komunikasi internal yang sehat menjadikan seseorang lebih empatik dan mampu berkomunikasi efektif dengan orang lain. 

Sebaliknya, orang yang mengalami disonan batin, cenderung sulit membangun hubungan yang harmonis dan rentan mengalami konflik interpersonal.

Pada akhirnya, bisik hati yang terserak adalah refleksi dari realitas modern yang penuh kebisingan, baik dari luar maupun dalam diri kita sendiri. 

Mengurai kekusutan komunikasi internal bukan sekadar pekerjaan psikologis, tetapi juga perjalanan filosofis dan spiritual yang mendalam.

Sebagaimana Socrates mengingatkan, “Hidup yang tidak diuji, tidak layak untuk dijalani.” Kita diajak untuk melakukan muhasabah secara terus-menerus dan berani menghadapinya. 

Dengan membangun komunikasi internal yang jernih dan penuh kasih. Kita tidak hanya memulihkan keseimbangan jiwa, tetapi juga menyiapkan diri. Agar menjadi pribadi yang matang, bijak, dan mampu menghadirkan harmoni dalam dunia yang terus bergerak makin cepat ini. (*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved