Minggu, 24 Mei 2026

Opini

Bisik Hati yang Terserak

Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa gangguan psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi semakin meningkat. 

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Bisik Hati yang Terserak
dok pribadi
Ketua LDNU Sulawesi Barat, Kiyai Muda Nur Salim Ismail 

Oleh:  Nur Salim Ismail

TRIBUN-SULBAR.COM- Kemajuan zaman, salah satunya, ditandai oleh derasnya arus informasi dan tekanan kehidupan serba cepat. Dalam situasi semacam ini, manusia modern menghadapi dilema pelik: bagaimana menemukan ketenangan di tengah gelombang pikiran yang tiada henti? 

Banyak dari kita terjebak dalam kebisingan luar yang menyita perhatian. Namun ironisnya, seringkali gagal mendengarkan bisik hati sendiri. 

Padahal, komunikasi internal, yakni dialog yang terjadi antara seseorang dengan dirinya sendiri, adalah fondasi utama dalam menjaga kesehatan mental, pengambilan keputusan bijak, serta membangun kualitas hubungan interpersonal.

Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa gangguan psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi semakin meningkat. 

Data World Health Organization (WHO) pada 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 280 juta orang di dunia menderita depresi. 

Salah satu faktor utama adalah kegagalan dalam mengelola komunikasi internal yang sehat. 

Gangguan tersebut sangat terkait dengan bagaimana individu menghadapi konflik batin, mengekspresikan pikiran dan emosinya, serta bagaimana mereka menerima dan memaknai pengalaman hidup.

Psikologi kognitif menjelaskan, komunikasi internal sebagai proses mental di mana kita melakukan dialog dengan diri sendiri. Proses ini dapat berupa refleksi, perenungan, maupun self-talk (bicara pada diri). 

Ketika komunikasi internal berlangsung secara harmonis, individu mampu mengendalikan emosinya, membuat keputusan dengan bijak, dan membangun rasa percaya diri yang kokoh.

Namun, kenyataan modern jauh dari ideal. Kita hidup dalam masyarakat multitasking, dimana pikiran terus bergerak tanpa henti. Dalam konteks ini, komunikasi internal mudah terpecah dan terserak oleh gangguan luar maupun internal. 

Istilah “fragmentasi diri” yang diperkenalkan oleh filsuf eksistensialis seperti Søren Kierkegaard dan dilanjutkan oleh psikolog modern seperti Carl Jung menggambarkan bagaimana individu merasa terpecah antara berbagai suara batin yang saling bertentangan, antara keinginan, norma sosial, dan realitas hidup.

Fragmentasi ini menimbulkan disonan kognitif. Suatu kondisi psikologis di mana seseorang merasakan ketidaksesuaian antara keyakinan, sikap, dan perilaku. 

Dalam kondisi demikian, komunikasi internal menjadi sumber stres dan kecemasan, karena dialog dengan diri sendiri berubah menjadi ajang pertentangan yang melelahkan.

Sejak zaman Yunani kuno, filsafat telah memberikan landasan penting mengenai kesadaran diri dan komunikasi internal. Konsep “Gnothi seauton” atau “Kenalilah dirimu,” menegaskan bahwa memahami diri adalah syarat utama untuk mencapai kebahagiaan dan kebijaksanaan. 

Pandangan ini meyakini bahwa kebahagiaan (eudaimonia) bukan hanya soal kenikmatan sesaat, tetapi tercapai melalui keselarasan antara pikiran, perasaan, dan tindakan.

Dalam filsafat Stoa atau Stoikisme mengajukan satu tema yang menarik. Yakni pentingnya ‘ataraxia’. 

Ini diartikan sebagai ketenangan batin yang dicapai dengan mengendalikan emosi dan menerima kenyataan sebagaimana adanya. Stoikisme mengajarkan agar manusia dapat fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan dan melepaskan keinginan pada hal-hal di luar kendali. 

Sehingga komunikasi internal menjadi sarana untuk menyusun ulang perspektif dan memelihara keseimbangan jiwa.

Epikurus terkenal dengan ajarannya tentang pencarian kebahagiaan melalui pengurangan rasa sakit (aponia). 

Ia mengajarkan bahwa ketenangan batin hanya dapat diraih dengan komunikasi internal yang jernih, tanpa gangguan kecemasan berlebihan. Ia menulis bahwa ketakutan dan kekhawatiran sering kali adalah produk pikiran yang tidak terkontrol, dan dengan ‘dialog’ batin yang sehat, seseorang dapat melepaskan diri dari belenggu tersebut.

Peran Self-Talk

Dalam era kontemporer, psikologi telah mengembangkan konsep self-talk positif sebagai salah satu teknik utama untuk memperbaiki komunikasi internal. Self-talk adalah dialog batin yang berfungsi sebagai alat untuk mengubah pola pikir negatif menjadi positif, meningkatkan motivasi, dan mengelola stres.

Penelitian oleh psychologist Donald Meichenbaum menyebutkan bahwa self-talk positif berperan penting dalam terapi kognitif untuk membantu pasien mengatasi trauma dan kecemasan. Sebaliknya, self-talk negatif yang terus-menerus mengkritik diri sendiri, justru memperburuk kondisi psikologis.

Komunikasi internal juga berperan besar dalam proses pengambilan keputusan. Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow menguraikan dua sistem berpikir manusia: sistem cepat yang intuitif dan emosional, serta sistem lambat yang analitis dan rasional. Dialog batin yang sehat mengintegrasikan kedua sistem ini. Sehingga keputusan yang diambil tidak impulsif dan penuh penyesalan.

Ruang untuk Dialog Diri

Pertanyaan besar yang harus kita jawab adalah: bagaimana caranya membangun komunikasi internal yang sehat di tengah era yang penuh distraksi dan tekanan ini?

Pertama, kita perlu menyadari bahwa komunikasi internal bukanlah sekadar dialog pikiran, melainkan juga melibatkan kesadaran emosi dan penerimaan diri. Di sinilah psikologi positif dan pendekatan mindfulness berperan. 

Latihan mindfulness mengajarkan individu untuk hadir sepenuhnya pada saat ini, mengamati pikiran tanpa menghakimi, sehingga meminimalkan fragmentasi diri dan konflik batin.

Kedua, pendekatan tasawuf yang kental dengan nilai spiritual dapat menjadi sumber inspirasi. Konsep muhasabah—introspeksi diri secara terus menerus dan jujur—merupakan cara sufistik untuk membersihkan jiwa dan menyelaraskan komunikasi internal. Bahkan konsep Man ‘arafa Nafsahu Faqad ‘arafa Rabbahu (Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya), menunjukkan keterkaitan antara kesadaran diri dengan dimensi spiritual.

Ketiga, dalam ilmu komunikasi, membangun kesadaran atas ‘metakomunikasi’ (komunikasi tentang komunikasi) pada level intrapersonal menjadi penting. 

Kita perlu belajar untuk ‘berbicara’ kepada diri sendiri dengan bahasa yang lembut, jujur, dan konstruktif. Keterampilan ini tidak hanya memperbaiki kesehatan mental, tetapi juga meningkatkan kualitas interaksi sosial.

Dalam konteks sosial, komunikasi internal yang sehat menjadikan seseorang lebih empatik dan mampu berkomunikasi efektif dengan orang lain. 

Sebaliknya, orang yang mengalami disonan batin, cenderung sulit membangun hubungan yang harmonis dan rentan mengalami konflik interpersonal.

Pada akhirnya, bisik hati yang terserak adalah refleksi dari realitas modern yang penuh kebisingan, baik dari luar maupun dalam diri kita sendiri. 

Mengurai kekusutan komunikasi internal bukan sekadar pekerjaan psikologis, tetapi juga perjalanan filosofis dan spiritual yang mendalam.

Sebagaimana Socrates mengingatkan, “Hidup yang tidak diuji, tidak layak untuk dijalani.” Kita diajak untuk melakukan muhasabah secara terus-menerus dan berani menghadapinya. 

Dengan membangun komunikasi internal yang jernih dan penuh kasih. Kita tidak hanya memulihkan keseimbangan jiwa, tetapi juga menyiapkan diri. Agar menjadi pribadi yang matang, bijak, dan mampu menghadirkan harmoni dalam dunia yang terus bergerak makin cepat ini. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved