Minggu, 24 Mei 2026

Opini

Bisik Hati yang Terserak

Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa gangguan psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi semakin meningkat. 

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Bisik Hati yang Terserak
dok pribadi
Ketua LDNU Sulawesi Barat, Kiyai Muda Nur Salim Ismail 

Pandangan ini meyakini bahwa kebahagiaan (eudaimonia) bukan hanya soal kenikmatan sesaat, tetapi tercapai melalui keselarasan antara pikiran, perasaan, dan tindakan.

Dalam filsafat Stoa atau Stoikisme mengajukan satu tema yang menarik. Yakni pentingnya ‘ataraxia’. 

Ini diartikan sebagai ketenangan batin yang dicapai dengan mengendalikan emosi dan menerima kenyataan sebagaimana adanya. Stoikisme mengajarkan agar manusia dapat fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan dan melepaskan keinginan pada hal-hal di luar kendali. 

Sehingga komunikasi internal menjadi sarana untuk menyusun ulang perspektif dan memelihara keseimbangan jiwa.

Epikurus terkenal dengan ajarannya tentang pencarian kebahagiaan melalui pengurangan rasa sakit (aponia). 

Ia mengajarkan bahwa ketenangan batin hanya dapat diraih dengan komunikasi internal yang jernih, tanpa gangguan kecemasan berlebihan. Ia menulis bahwa ketakutan dan kekhawatiran sering kali adalah produk pikiran yang tidak terkontrol, dan dengan ‘dialog’ batin yang sehat, seseorang dapat melepaskan diri dari belenggu tersebut.

Peran Self-Talk

Dalam era kontemporer, psikologi telah mengembangkan konsep self-talk positif sebagai salah satu teknik utama untuk memperbaiki komunikasi internal. Self-talk adalah dialog batin yang berfungsi sebagai alat untuk mengubah pola pikir negatif menjadi positif, meningkatkan motivasi, dan mengelola stres.

Penelitian oleh psychologist Donald Meichenbaum menyebutkan bahwa self-talk positif berperan penting dalam terapi kognitif untuk membantu pasien mengatasi trauma dan kecemasan. Sebaliknya, self-talk negatif yang terus-menerus mengkritik diri sendiri, justru memperburuk kondisi psikologis.

Komunikasi internal juga berperan besar dalam proses pengambilan keputusan. Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow menguraikan dua sistem berpikir manusia: sistem cepat yang intuitif dan emosional, serta sistem lambat yang analitis dan rasional. Dialog batin yang sehat mengintegrasikan kedua sistem ini. Sehingga keputusan yang diambil tidak impulsif dan penuh penyesalan.

Ruang untuk Dialog Diri

Pertanyaan besar yang harus kita jawab adalah: bagaimana caranya membangun komunikasi internal yang sehat di tengah era yang penuh distraksi dan tekanan ini?

Pertama, kita perlu menyadari bahwa komunikasi internal bukanlah sekadar dialog pikiran, melainkan juga melibatkan kesadaran emosi dan penerimaan diri. Di sinilah psikologi positif dan pendekatan mindfulness berperan. 

Latihan mindfulness mengajarkan individu untuk hadir sepenuhnya pada saat ini, mengamati pikiran tanpa menghakimi, sehingga meminimalkan fragmentasi diri dan konflik batin.

Kedua, pendekatan tasawuf yang kental dengan nilai spiritual dapat menjadi sumber inspirasi. Konsep muhasabah—introspeksi diri secara terus menerus dan jujur—merupakan cara sufistik untuk membersihkan jiwa dan menyelaraskan komunikasi internal. Bahkan konsep Man ‘arafa Nafsahu Faqad ‘arafa Rabbahu (Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya), menunjukkan keterkaitan antara kesadaran diri dengan dimensi spiritual.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved