Opini
Bisik Hati yang Terserak
Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa gangguan psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi semakin meningkat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Ketua-LDNU-Sulawesi-Barat-Kiyai-Muda-Nur-Salim-Ismail.jpg)
Oleh: Nur Salim Ismail
TRIBUN-SULBAR.COM- Kemajuan zaman, salah satunya, ditandai oleh derasnya arus informasi dan tekanan kehidupan serba cepat. Dalam situasi semacam ini, manusia modern menghadapi dilema pelik: bagaimana menemukan ketenangan di tengah gelombang pikiran yang tiada henti?
Banyak dari kita terjebak dalam kebisingan luar yang menyita perhatian. Namun ironisnya, seringkali gagal mendengarkan bisik hati sendiri.
Padahal, komunikasi internal, yakni dialog yang terjadi antara seseorang dengan dirinya sendiri, adalah fondasi utama dalam menjaga kesehatan mental, pengambilan keputusan bijak, serta membangun kualitas hubungan interpersonal.
Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa gangguan psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi semakin meningkat.
Data World Health Organization (WHO) pada 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 280 juta orang di dunia menderita depresi.
Salah satu faktor utama adalah kegagalan dalam mengelola komunikasi internal yang sehat.
Gangguan tersebut sangat terkait dengan bagaimana individu menghadapi konflik batin, mengekspresikan pikiran dan emosinya, serta bagaimana mereka menerima dan memaknai pengalaman hidup.
Psikologi kognitif menjelaskan, komunikasi internal sebagai proses mental di mana kita melakukan dialog dengan diri sendiri. Proses ini dapat berupa refleksi, perenungan, maupun self-talk (bicara pada diri).
Ketika komunikasi internal berlangsung secara harmonis, individu mampu mengendalikan emosinya, membuat keputusan dengan bijak, dan membangun rasa percaya diri yang kokoh.
Namun, kenyataan modern jauh dari ideal. Kita hidup dalam masyarakat multitasking, dimana pikiran terus bergerak tanpa henti. Dalam konteks ini, komunikasi internal mudah terpecah dan terserak oleh gangguan luar maupun internal.
Istilah “fragmentasi diri” yang diperkenalkan oleh filsuf eksistensialis seperti Søren Kierkegaard dan dilanjutkan oleh psikolog modern seperti Carl Jung menggambarkan bagaimana individu merasa terpecah antara berbagai suara batin yang saling bertentangan, antara keinginan, norma sosial, dan realitas hidup.
Fragmentasi ini menimbulkan disonan kognitif. Suatu kondisi psikologis di mana seseorang merasakan ketidaksesuaian antara keyakinan, sikap, dan perilaku.
Dalam kondisi demikian, komunikasi internal menjadi sumber stres dan kecemasan, karena dialog dengan diri sendiri berubah menjadi ajang pertentangan yang melelahkan.
Sejak zaman Yunani kuno, filsafat telah memberikan landasan penting mengenai kesadaran diri dan komunikasi internal. Konsep “Gnothi seauton” atau “Kenalilah dirimu,” menegaskan bahwa memahami diri adalah syarat utama untuk mencapai kebahagiaan dan kebijaksanaan.