Sabtu, 23 Mei 2026

Opini

Ansor Banser Mengawal Kebijakan Tani Presiden Prabowo

Dalam berbagai kesempatan, Prabowo menegaskan pentingnya kedaulatan pangan sebagai salah satu fondasi utama ketahanan nasional.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Ansor Banser Mengawal Kebijakan Tani Presiden Prabowo
Istimewa
ANSOR BANSER - Muhammad Aras Prabowo, Pengamat Ekonomi dan Ketua Prodi Akuntansi UNUSIA 

Dalam dinamika ekonomi nasional yang kompleks, salah satu tantangan terbesar adalah memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi benar-benar inklusif—bukan hanya dinikmati oleh segelintir elite atau korporasi besar, tetapi juga menyentuh lapisan bawah masyarakat seperti petani, buruh tani, dan nelayan. 

Di sinilah muncul pentingnya konsep toleransi ekonomi: sebuah prinsip keadilan ekonomi yang membuka ruang partisipasi setara bagi semua kelompok, terlepas dari latar belakang sosial, budaya, maupun geografis.

Banser, sebagai garda sipil yang lahir dari rahim keberagaman dan semangat kebangsaan, memiliki posisi unik untuk menjadi pengawal nilai ini. 

Dalam sejarahnya, Banser dikenal sebagai penjaga pluralisme dan keharmonisan sosial. Kini, peran itu bisa diperluas ke ranah ekonomi—menjaga agar akses terhadap sumber daya ekonomi dan kebijakan pertanian tidak terjebak dalam eksklusivitas, dan tetap terbuka bagi kelompok marginal.

Banser dapat menjadi pelindung rakyat kecil dari bentuk-bentuk eksklusi ekonomi: misalnya ketika subsidi pupuk hanya jatuh ke tangan kelompok tertentu, atau ketika program bantuan pertanian tidak dapat diakses oleh petani di daerah terpencil karena hambatan informasi atau diskriminasi struktural. 

Di sini, Banser hadir sebagai penjaga inklusi, memastikan bahwa semua petani—baik yang besar maupun kecil, yang berada di pusat maupun di pinggiran—mendapatkan hak yang sama atas dukungan negara.

Selain itu, Banser juga bisa menjadi fasilitator dialog ekonomi antar-kelompok masyarakat, mempertemukan petani dengan pedagang, koperasi dengan pesantren, serta kelompok lokal dengan pemangku kebijakan. 

Pendekatan ini penting untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan memperkuat struktur ekonomi yang berbasis gotong royong. 

Dalam konteks ini, toleransi ekonomi berarti memberi ruang pada kearifan lokal dan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat, bukan semata-mata mengejar efisiensi pasar.

Nilai moderasi dan toleransi yang telah lama menjadi napas perjuangan Banser pun dapat diterjemahkan dalam kerja-kerja ekonomi: tidak ekstrem kanan yang serba kapitalistik, tidak pula ekstrem kiri yang serba kontrol negara. 

Tetapi berada di tengah, memperjuangkan keberimbangan antara efisiensi dan keadilan, antara pertumbuhan dan pemerataan.

Toleransi ekonomi juga berarti menolak monopoli dan oligopoli yang membungkam suara rakyat kecil. 

Banser, dengan kekuatan sipilnya, dapat berperan aktif dalam mengawasi praktik-praktik tidak sehat di pasar pangan, seperti penimbunan beras atau manipulasi harga oleh kartel. 

Dalam hal ini, mereka bukan hanya pelindung fisik masyarakat, tapi juga pelindung hak-hak ekonomi masyarakat.

Dengan keberadaan kader-kadernya yang tersebar hingga ke pelosok desa, Banser mampu mengidentifikasi ketimpangan yang sering luput dari pantauan pusat, lalu menyuarakannya secara kolektif dalam ruang-ruang advokasi kebijakan. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved