OPINI

Bully Lagi, Bully Terus, Stop Bully!

Dalam kurun waktu 9 tahun terakhir, sejak 2011 hingga 2019 kasus bullying mencapai 37.381 aduan yang masuk ke (KPAI)

Editor: Hasrul Rusdi
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi Bullying: Bully Lagi, Bully Terus, Stop Bully! 

Seperti memukul, menendang, meludahi, mendorong, mencekik, dll. Kasus inilah menyebakan korban sakit atau bahkan menyebabkan melayangnya nyawa seseorang.

Ketiga, secara verbal, yaitu bully yang menggunakan bahasa verbal yang tujuanya yaitu menyakiti hati seseorang.

Seperti mengejek, memberi nama julukan yang jelek, memfitnah dll. Bully semacam ini bisa menyebabkan korban trauma dan psikisnya terganggu.

Keempat, cyber. bullying cyber merupakan bentuk perilaku bullying yang dilakukan melalui media
elektronik atau online seperti handphone, komputer, internet, website, e-mail, SMS dll.

Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia. Baik di
sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

Jadi jelas, setiap perilaku yang didalamnya terdapat konteks penganiayaan baik secara fisik maupun psikis bisa dikategorikan ke dalam istilah bullying.

Sehingga, apa yang terjadi dengan generasi muda saat ini tak lepas dari kegagalan negara melakukan penjagaan serta pembinaan terhadap mereka. Mengapa demikian? Tidak lain karena negara membiarkan pemikiran dan gaya hidup liberal sekuler mengepung generasi melalui berbagai sarana.

Juga membiarkan para orang tua berjibaku sendiri mendekap anak-anak mereka dari serangan kaum
kapitalis sekuler.

Di bidang pendidikan, negara minim menanamkan nilai-nilai takwa bahkan melalui pendidikan agama sekalipun.

Dari sisi media, negara pun juga gagal menghilangkan konten-konten kekerasan, porno dan nilai-nilai merusak lainnya.

Pun tak sanggup membendung sebaran budaya kufur yang rusak dan merusak generasi. Sehingga remaja pun mengambil mentah-mentah apa saja yang dijajakan kaum kapitalis, serta menjadikan gaya hidup sekuler liberal sebagai identitasnya.

Padahal, Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur persoalan ini. Sebagaimana sabda
Rasulullah SAW.

“Abu Musa radhiyallahu’anhuma berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam
manakah yang lebih utama?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya. “ (HR. Bukhari)

Dari hadits tersebut jelas, bahwa tak layak disebut muslim sejati jika masih sering menjadikan saudara muslim yang lain celaka akibat keburukan lisan dan tangan kita.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved