Rabu, 10 Juni 2026

Opini

Tangan Tuhan Tidak Minta Maaf

Banyak orang menganggap sepak bola hanyalah permainan. Sembilan puluh menit di lapangan

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Tangan Tuhan Tidak Minta Maaf
Istimewa/istimewa
DOK ICAL- Fans Timnas Argentina 

Di desa-desa Afrika. Di gang-gang sempit Asia Tenggara. Di favela Brasil sendiri. Di kampung-kampung nelayan Indonesia. Di wilayah-wilayah pinggiran yang dilupakan pusat kekuasaan, orang-orang melihat refleksi diri mereka.

Mereka melihat perjuangan tanpa jaminan kemenangan. Mereka melihat luka yang tidak sembuh. Dan mereka melihat kemungkinan bahwa yang kecil bisa mengalahkan yang besar. Setidaknya untuk sembilan puluh menit. Setidaknya cukup lama untuk mengingatkan bahwa manusia tidak bisa direduksi menjadi angka. Mereka memeluk Argentina karena Argentina tidak minta maaf.

Keberpihakan Adalah Kemenangan yang Sebenarnya

Karena itu, saya tidak pernah percaya bahwa sepak bola adalah urusan netral. Cara kita memilih tim mencerminkan cara kita memandang dunia. Apakah kita berdiri bersama mereka yang hanya memiliki kekuatan karena modal? Apakah kita memuja yang kaya karena mereka kaya? Ataukah kita memilih tradisi yang percaya bahwa rakyat biasa dapat menjadi pelaku sejarah?

Saya memilih yang kedua. Saya memilih Argentina. Bukan karena Messi. Bukan karena trofi. Saya memilih Argentina karena di balik garis biru-putih itu, saya melihat sesuatu yang semakin langka di zaman yang mencekik dengan efisiensi dan keberpihakan terselubung kepada yang kaya. Saya melihat keberanian untuk memihak kepada manusia biasa. Dan tidak minta maaf karenanya.

Saya melihat Maradona yang meludahi FIFA. Saya melihat Zanetti yang mengirim surat cinta untuk para pemberontak di hutan Chiapas. Saya melihat Messi yang diam-diam membawa la pausa melawan mesin. Mereka tidak minta maaf. Mengapa saya harus minta maaf? Itu bukan sekadar sepak bola. Itu adalah pernyataan bahwa di dunia yang ingin menyamaratakan dan mengkotakkan, kita masih bisa memilih.

Dan pilihan itu tidak pernah netral. Maka dengan dada penuh, tanpa setengah hati, saya katakan. Tangan Tuhan tidak minta maaf. Dan tangan kita, jika berani memilih sisi, juga tidak perlu minta maaf.

Karena di dunia yang kejam ini, keberpihakan kepada yang lemah adalah satu-satunya kemenangan yang tidak pernah menyesakkan dada. Dan bagi saya, itulah alasan terbaik untuk mencintai sepak bola.(*)

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved