Sabtu, 13 Juni 2026

Opini

Tangan Tuhan Tidak Minta Maaf

Banyak orang menganggap sepak bola hanyalah permainan. Sembilan puluh menit di lapangan

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Tangan Tuhan Tidak Minta Maaf
Istimewa/istimewa
DOK ICAL- Fans Timnas Argentina 

Zanetti dan Messi: Dua Wajah Perlawanan yang Berbeda

Jika Maradona adalah api yang menyala-nyala, maka Javier Zanetti adalah air yang mengalir tenang. Namun keduanya sama-sama menghunjam ke dasar perlawanan. Pada tahun 2004, kapten Inter Milan ini secara terbuka mendukung gerakan Zapatista di Chiapas, Meksiko. Kelompok pemberontak pribumi yang menolak globalisasi neoliberal pasca-NAFTA.

Zanetti meyakinkan petinggi Inter Milan untuk mengumpulkan dana 5.000 euro dari denda pemain. Uang itu ia sumbangkan bersama sebuah ambulans dan perlengkapan olahraga kepada komunitas Zapatista.

Ia juga mengirim surat tulisan tangan yang berisi pernyataan tegas, ”Creemos en un mundo mejor, un mundo sin globalización, enriquecido por las diferencias culturales y costumbres de todos los pueblos.” Jika di terjemahkan secara bebas, maka artinya. “Kami percaya pada dunia yang lebih baik, dunia tanpa globalisasi.”

Subkomandan Marcos, pemimpin Zapatista, menyambut hangat surat itu. Ia bahkan menantang Inter Milan untuk bertanding persahabatan dengan Maradona sebagai wasit. Meski tak pernah terealisasi, gestur Zanetti menunjukkan bahwa seorang atlet papan atas bisa memilih sisi. Zanetti tumbuh di lingkungan miskin El Docke, Buenos Aires. Baginya, membela Zapatista adalah membela masa kecilnya sendiri.

Sementara Zanetti berbicara dengan surat dan donasi, Lionel Messi memilih cara yang sunyi. Ia tidak berpidato. Ia tidak meneriakkan slogan. Ia tidak menjadikan dirinya simbol perlawanan secara eksplisit. Namun kisah hidupnya tetap menyimpan muatan sosial yang kuat. Messi adalah anak keluarga pekerja dari Rosario. Pada usia 11 tahun, ia didiagnosis defisiensi hormon pertumbuhan.

Klub-klub besar Argentina menolak membiayai pengobatannya. Alasan mereka, risiko terlalu tinggi. Dalam logika pasar yang memuja kesempurnaan, Messi seharusnya tersisih. Namun Barcelona, jauh di seberang lautan, bersedia mengambil risiko. Messi hijrah dan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah takdir. Yang lebih menarik, ia tidak pernah melupakan asal-usulnya.

Ia tetap membawa la pausa (ritme lambat khas Argentina) ke tengah sepak bola Eropa yang serba cepat dan terukur. Ia menolak menjadi pesepak bola robotik yang didikte algoritma data.

Jika Che mengajarkan keberanian melawan ketidakadilan struktural, dan Maradona melawan dominasi geopolitik, maka Messi mengajarkan keberanian melawan logika homogenisasi. Tiga wajah berbeda, satu tradisi. Sekali lagi, tangan Tuhan tidak minta maaf, dan tangan-tangan lain pun ikut terangkat.

El Pibe dan Mengapa Dunia Memilih Argentina

Antropolog Eduardo Archetti menangkap esensi semua hal di atas dalam satu konsep. El pibe. El pibe adalah anak jalanan Argentina yang cerdik, nakal, dan tak kenal menyerah. Ia tidak memiliki fasilitas mewah. Tidak ada nutrisi terukur. Tidak ada pelatih lisensi UEFA. Yang ia punya hanyalah bola, imajinasi, dan tekad untuk membuktikan bahwa dirinya ada.

El pibe adalah antitesis dari pesepak bola terlatih ala Eropa. Ia bukan patuh pada taktik korporat. Ia adalah simbol akal-sehat rakyat jelata yang mampu mengakali sistem. Maradona adalah el pibe yang menang dengan tangan Tuhan. Messi adalah el pibe yang diam-diam membongkar pertahanan. Zanetti adalah el pibe yang telah dewasa dan menemukan bahasa politiknya.

Para filsuf seperti Antonio Gramsci dan Pierre Bourdieu membantu kita memahami mengapa konsep ini penting. Gramsci menyebut kebudayaan sebagai arena perebutan hegemoni. Di arena itu, kelas berkuasa berusaha meyakinkan masyarakat bahwa nilai-nilai mereka adalah wajar. Sepak bola modern adalah contoh sempurna, klub jadi korporasi, pemain jadi aset ekonomi, suporter jadi konsumen.

Dalam logika ini, banyak orang mendukung tim seperti memilih produk di supermarket. Mereka berbondong-bondong ke klub terkaya. Manchester City, PSG, Real Madrid. Jarang yang bertanya, nilai apa yang sebenarnya saya beli? Kelas sosial mana yang saya perkuat? Mereka tidak berani memilih sisi. Tangan mereka diam saja. Tangan Tuhan tidak minta maaf. Tangan mereka? Tidak terlihat.

Sebagian besar legenda Argentina tidak lahir dari kemewahan akademi elite. Maradona, Messi, Zanetti, Di María (anak penambang batu bara), De Paul (dari daerah kumuh Sarandí), mereka tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan kekurangan. Mereka membuktikan bahwa sejarah tidak hanya milik mereka yang lahir dengan privilese. Maka tak heran jika Argentina dicintai di tempat-tempat yang jauh dari Buenos Aires.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Berita Populer

Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved