Opini
Menjaga Rupiah Dimulai dari Menyehatkan APBN
Namun dalam jangka panjang nilai tukar juga mencerminkan tingkat kepercayaan pasar terhadap arah pengelolaan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/opini-ekonomi.jpg)
Sebaliknya pengeluaran adalah sisi yang relatif lebih bisa dikelola. Berdasarkan konsep tersebut ketika tekanan fiskal meningkat tentu jawaban paling rasional bukan selalu menambah utang melainkan menata ulang belanja.
Indonesia membutuhkan sense of crisis. Bukan kepanikan tetapi kesadaran bahwa ruang fiskal tidak tak terbatas. Pemerintah harus mampu membedakan antara belanja yang benar-benar produktif dan belanja yang hanya populer secara politik. Program sosial tetap penting tetapi harus dirancang agar efektif, terukur dan tepat sasaran.
Masa depan ekonomi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas respons fiskal dalam waktu dekat. Jika pemerintah mampu memperkuat disiplin anggaran, menjaga belanja produktif, memperbaiki desain program prioritas dan membangun kepercayaan pasar sehingga tekanan terhadap rupiah dapat dikelola dengan lebih baik. Namun, jika kebijakan fiskal terus dibaca sebagai tidak hati-hati maka rupiah akan tetap rentan terhadap tekanan.
Rupiah bukan hanya simbol mata uang. Rupiah adalah cermin kepercayaan terhadap cara negara mengelola ekonominya. Menjaga rupiah tidak cukup dengan menjaga pasar valas. Menjaga rupiah berarti menjaga kredibilitas APBN dan memperkuat kualitas belanja serta memastikan setiap kebijakan fiskal berpihak pada keberlanjutan ekonomi nasional.
Pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah utang Indonesia masih aman, melainkan apakah APBN kita masih cukup sehat untuk membiayai masa depan?