Opini
Imam Lapeo : Cinta, Teladan dan Inspirator
Di penghujung Oktober di Mamuju, kanda Syafiuddin Kadir menemukan jalan kelola bathin dan menyarankan pelarian
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/sarmamnsda.jpg)
Dalam buku Dr. H. Shaleh Putuhena: Historioggrafi Haji Indonesia, LKIS, 2007, disebutkan, meskipun keadaan pelayaran niaga ke Timur Tengah dan suasana politik tidak kondusif untuk perjalanan haji, sepanjang abad XVIII masih juga secara sporadis banyak penduduk Nusantara yang mengunjungi Haramain. Bagi sebagian orang, kunjungan itu adalah untuk menuntut ilmu, sebagaimana pada permulaan haji, dan bagi sebagian yang lain untuk menunaikan ibadah haji, biasanya segera kembali ke Nusantara.
Perjalanan haji dan terutama untuk tujuan belajar Agama Islam ke Haramain, tidak berjalan mulus. Utusan tokoh dari Nusantara yang hendak ke Haramain, seiring waktu kemudian mengalami hambatan akibat penguasa Belanda tidak mengizinkan pelayaran dari Nusantarra ke Jeddah, Timur Tengah.
Kedua, seperti yang disebutkan oleh Kiai Syarifuddin Muhsin, bahwa permulaan ibadah haji Imam Lapeo bersama rombongan Kadhi Barru, kondisi Arab Saudi ketika itu rawan keamanan. Tak ada jaminan keamanan perjalanan dari Jeddah ke Mekkah, pasukan bersenjata menghadang walau itu alasan beribadah. Di Mekkah saat itu, kelebihan awal Imam Lapeo disaksikan secara kasat oleh rombongan, di sisi lain -- lantaran cukup lama rombongan ini di tanah Mekkah -- informasi yang sampai ke Mandar, tak ada jaminan Imam Lapeo dan rombongan haji selamat kembali ke Nusantara (Sulawesi).
Sekembalinya dari Mekkah, Imam Lapeo meneruskan dakwahnya. "Beliau ke tanah Luwu, Kolaka (Sulawesi Tenggara), dan sering ke Pulau Salemo (Pangkep)," kata Kiai Syarifuddin Muhsin Thahir.
Setelah enam tahun berkeliling dakwah di kawasan Sulawesi bagian selatan dan tenggara, Imam Lapeo kembali ke Mandar.
Di Mandar, Imam Lapeo yang sudah memasuki umur kedewasaan memasifkan pengajaran Agama Islam. Masa itu, kehidupan keagamaan di kawasan Mandar masih menganut animisme. Imam Lapeo memilih Campalagian sebagai basis pengajaran Agama Islam. Membangun Surau, Musolla di daerah Laliko. Inilah embrio kebangkiran syiar Islam di tanah Mandar secara massif. Dan, awal puncaknya -- akhir abad XIX -- memulai pembangunan Masjid Nuruttaubah di Lapeo. Pembangunan masjid ini di bawah kendali langsung oleh Imam Lapeo.
Karakter Masjid Nurutraubah di Lapeo mengadopsi unsur-unsur masjid di daerah yang pernah beliau kunjungi: Sumatera, Banten, dan Jawa Timur. Menara Masjid Gantiang di Kota Padang, tiang-tiang penyanggah masjid dari kayu pilihan yang kokoh di Banten lama dan Masjid Sunan Ampel di Surabaya, termasuk bentuk dan ukuran Beduq, semacam terduplikasi ke Masjid Nuruttaubah Lapeo, Campalagian, Polewali Mandar, Sulawesi Barat sekarang.
Sejak berdirinya masjid tua di Sulawesi bagian barat ini pada awal abad XX Masehi, Imam Lapeo bertindak selaku Imam Masjid. Sejak 120-an tahun itulah nama Imam Lapeo mulai akrab di telinga khalayak ramai hingga hari ini. Kisah penamaan KH Muhammad Thahir akan terurai dalam isi buku.
Pernikahan pertama Imam Lapeo dilangsungkan ketika umur beliau menginjak 59 tahun. Sebuah fakta terang menjelaskan bahwa Imam Lapeo terlampau kuat dan disiplin dalam berdakwah. Nama Sayyid Alwi bin Abdullah bin Sahl Jamalullail yang menyarankan Imam Lapeo menikah. Kisahnya ada dalam isi buku.
Imam Lapeo melakukan penbelajaran syiar Islam ke daerah Manakarra -- Mamuju, Mamuju Tengah, dan Pasangkayu -- saat ini. Bahkan secara rutin mengunjungi Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Salah satu bukti sejarah mengenali jejak Imam Lapeo sampai ke Manakarra dan Sulawesi Tengah, ditemukan 85 masjid yang dibanngun beliau. Kisah ini terangkum panjang dalam ini buku.
Perjalanan 12 Provinsi
Selama penelitian, mendatangi 12 provinsi di Indonesia, 79 kabupaten/kota, 156 kecamatan. Dan, ratusan desa/kelurahan.
Mewawancarai 268 Narasumber: Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat, Pemuda, dan Mahasiswa di 12 Provinsi.
MAKASSAR, Sabtu, 12 Juli 2025, sekitar pukul 15.30 wita, saya naik di KM Binaiya berbendera Merah Putih -- Indonesia. Sebelum waktu magrib, satu dari 26 armada kapal milik PELNI ini mulai bergerak meninggalkan Dermaga Pelabuhan Sorkarno-Hatta, Jl. Penghibur, Makassar, Sulsel. Pelayaran kapal penumpang pelat merah ini transit di Pelabuhan Labuan Bajo, NTT. Dari atas kapal yang sedang berdiam diri di Dermaga Labuan Bajo berpenghuni tiga ribuan penumpang, saya menikmati benar kawasan laut Labuan Bajo. Sabtu, 13 Juli, sekitar pukul 13.00 wita. Banyak kapal pesiar pelbagai ukuran dengan artistiknya yang memesona lalulalang: Labuan Bajo - Pulau Komodo. Di bawah sinar mentari yang menyengat, cukup berpindah-pindah di dek kapal di mana tidak terpapar langsung sinar matahari. Di malam hari sekitar pukul 22.45 wita, KM Binaiya sandar di Pelabuhan Bima, NTB.
Setelah 4 hari di Kota Bima, sebuah mobil ekspedisi trans Nusa Tenggara membawa saya ke Kabupaten Sumbawa. Kisah panjang dan eksotisme Gunung Tambora hanya sambil lalu di telinga saya yang diceritakan oleh bapak Hasan, pemilik rumah yang saya tumpangi setia menemani selama di Kota Bima.
Perjalanan darat Bima - Sumbawa cukup menantang. Di atas bus mini padat penumpang, lalai sejenak berpegang kuat bisa terlempar ke kursi depan. Drivernya ugal-ugalan. Kecepatan tinggi. Tak ada beda tanjakan, penurunan, dan kelokan tajam gas tetap diinjak. Bus melaju. Bagi penumpang lain ini sudah biasa. Meski dalam suasana perjalanan miris, saya masih bisa menikmati keelokan pegunungan Bima, Dompu, dan Sumbawa sebelum gelap malam. Tak lebih 24 jam saja di Sumbawa Besar, selain hanya pertelepon ke beberapa pihak. Selanjutnya ke Kota Mataram: Jawa kecil di Nusa Tenggara.
Nuansa Islam di Mataram, Lombok Tengah, dan Lombok Timur -- daerah yang saya kunjungi -- tak lepas peran tokoh besar Tuan Guru KH Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW) ini adalah Pahlawan Nasional. Sejumlah Guru Besar di UIN Mataram yang saya temui, takzim benar ketika bercerita mengenai sosok Ulama besar NTB ini. Bersyukur bisa bertemu Tuan Guru KH Burhanuddin di Lombok Tengah, Sabtu, 19 Juli 2025. Ketika itu beliau sedang dirawat di RS Praya Lombok Tengah. Beliau masih tampak ceria dan kerap tersenyum di atas bansal. Keterangan keluarga dekat, Tuan Guru Burhan, sapaannya, kecapean setelah habis mengunjungi 8 provinsi dalam rangka pembenahan pengurus daerah NW -- organisasi sosial kemasyarakatan Islam yang bergerak di bidang pendidikan dan dakwah.
Tuan Guru Burhan seolah tak mau menyerah dari kelelahannya bahkan nyaris terjatuh dari mimbar saat beri sambutan di Kota Denpasar, Bali, dan sejak itu beliau dilarikan ke Jakarta lalu dibawa ke Lombok setelah kondisi kesehatannya sudah tidak terlalu mengkuatirkan.
Keteguhan Dakwah Tuan Guru Burhan seolah mengingatkan kita upaya dan kerja keras ulama terdahulu membimbing umat. Beliau-beliau bekerja tak kenal menyerah. Ditambah lagi, untuk periode dulu, Ulama di Nusantara bergerak mendidik Umat di bawah tekanan penjajah Belanda.
Paparan singkat di atas menjadi gambaran bahwa betapa Ulama kita terdahulu adalah wujud Hadist Nabi Muhammad SAW (HR. Turmidzi dan Abu Daud): Al-Ulama Waratsatul Anbiya (Ulama adalah Pewaris Para Nabi).
Saya meninggalkan NTB menaiki kapal mewah Dharma Lautan Utama (DLU) menuju Surabaya, Jawa Timur. Di Pelabujan Tanjung Perak, Surabaya, saya cukup berjalan kaki menuju dermaga tempat kapal penumpang umum tujuan Bangkalan, Madura. Setelah empat hari di Bangkalan, saya kembali ke Surabaya dan langsung menuju kawasan Ampel. Lima hari mondok di dekat Masjid Sunan Ampel lalu meneruskan perjalanan ke Kota Yogyakarta untuk waktu dua hari-malam. Tujuan ke kampus Fakultas Sejarah UGM dan rumah kediaman Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun.
Dari kota Yogya kembali menaiki bus antarprovinsi ke DKI Jakarta, Selasa, 29 Juli 2025. Sejak awal berangkat di Makassar, saya sengaja memilih perjalanan laut dan darat saja, lebih murah meski tentu kelelahan: digoyang obak, diguncang hentakan jalan di atas bus dengan waktu tempuh setiap perjalanan relatif lama. Di Jakarta, mengetahui kondisi ini, sahabat saya Doktor Muhammad Zain dan adinda Sukriadi sebenarnya menawarkan perjalanan berikutnya pakai pesawat terbang. Saya menolak. Ini bukan perjalanan wisata, itu yang tertanam di pikiranku. Dukungan kedua kolega tadi membangkitkan semangat saya untuk bergerak ke Sumatera, juga Banten. Lalu kembali ke Jawa Timur untuk tujuan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Sumenep. Saya kembali mondok 5 hari di kawasan Ampel Denta, Kota Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Sumenep, Madura, dan selanjutkan ke Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Perjalanannya menantang, tapi kisahnya sungguh asyik terlebih menautkannya dengan kisah perjalanan Dakwah Imam Lapeo di tanah Jawa.
Catatan perjalanan berikut teruntai detail dalam isi buku, hingga di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Selanjutnya, perjalanan penelitian di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo saya tidak singgung di sini karena, bisa dikatakan, bagian ini menjadi daging inti isi buku ini. 10 hari sebelum memasuki Ramadhan 2026, saya kembali dari Palu, Sulawesi Tengah. Itu berarti tujuan penting provinsi ke-13, Sulawesi Tenggara, terutama sekali untuk dua titik penting yakni Kota Kolaka dan Kota Kendari menjadi batal.
Penjelasan Memilih Judul
Buku ini diberi judul: IMAM LAPEO, Figur Ulama di Pesisir Nusantara
EMBRIO keulamaan Imam Lapeo sudah mulai terbaca sejak kecil di Pambusuang, Mandar, tempat kelahiran beliau. Junaihin Namli adalah nama kecil pemberian ayahnya mengalami ujian serius saat ayahnya membawanya melaut. Di atas perahu layar yang kecil di laut Pambusuang, Junaihin Namli jatuh dari perahu. Ayahnya, Haji Muhammad panik tak keruan. Anaknya tenggelam di laut. Ia berdoa. Ia berusaha dan berdoa di malam hari itu untuk bisa menemukan kembali anaknya dalam keadaan selamat.
Ayahnya kerap memanggil namanya: Junaihin. Doa beliau terkabul. Seketika di ujung perahu tampak air membuih. Ada gerakan dari bawah laut. Ayahnya mencoba menurunkan tangan dan mencapai lengan Junaihin, dan dengan sekuat tenaga ayahnya mengangkat anaknya ke perahu. Junaihin selamat. Ia masih hidup. Kelak menjadi Ulama pesohor di Nusantara.
Keluar dari kampung Pambusuang, kata KH Syarifuddin Muhsin, sekitar tahun 1844-45, akibat pergolakan membuat keluarga Junaihin Namli sampai ke Jampue, Pinrang, Sulawesi Selatan. Ibunya membawa Junaihin iikut dalam rombongan dari Pambusuang ke Pinrang.
Selama tinggal di rumah Kadhi Jampue, seorang keturunan Arab-Bugis yang kaya, tak punya anak, Junaihin menunjukkan minatnya belajar Agama Islam, dan terutama sekali rajin menbaca Al-Quran.
Beliau melakukan perjalanan panjang antara tahun 1845 s.d. 1860 umtuk masa pembelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan 6 tahun berkeliling di Sulawesi sebagai implementasi dari syiar Islam sebelum kembali ke Mandar umtuk pertama kali sejak beliau meninggalkan Pambusuang mengungsi ke Jampue, Pinrang.
Terima Kasih para Dermawan
Setiap daerah yang kupijak, kudapati orang-orang baik. Ada menginapkan di rumahnya, mengajak makan di warung bahkan yang ikhlas memberi sedikit uang. Walau penelitian ini saya lakukan mandiri, tak lepas uluran tangan banyak orang yang membantu. Di Pulau Salemo, Pangkep, Datuk Salemo dan keluaga kecilnya mengajariku makan Kepiting hasil tangkapan di laut. Super enaknya kepiting tersembunyi di balik karapas yang keras dan rapat.
Masih di atas kapal PELNI rute Makassar - Bima, Farah, seorang mahasiswi AIPI Makassar asli Bima memperkenalkan nama Dharma Lautan Utama (DLU). "Itu kapal swasta yang bagus," kata mahasiswi ini pada saya. Seorang lelaki di Cafetaria kapal, setelah berkenalan singkat, menelepon seorang tokoh Bugis yang sukses di Kota Bima. "Beliau sering membantu. Sudah banyak masjid dibangun," katanya. Ia sertakan nomor kontak bersangkutan, dan benar beliau menemui saya di Bima beberapa hari kemudian. Beliau ini juga fasiilitasi kamar inap sederhana ketika saya tiba di Sumbawa.
Selama 4 hari di Bima, keluarga pak Baharuddin sangat baik. Kakak iparnya malah bersedia mengantar saya keliling Bima dengan Katana tua putih -- seputih jenggot beliau. Pak Hasan namanya. Anak lelakinya tak kalah baik. Dijemput ke pelabuhan, dan ia mengaku rela istirahat kerja bengkel selama saya ada di Bima.
Mataram, NTB, sangat istimewa menurutku. Empat profesor kampus keagamaan negeri menerimaku dengan lapang. Rektor UIN Mataram Prof. Masnun, Prof. Fahrurozy Dahlan mengajak buka, menyantap makanan khas Kota Mataram, ayam bakar sayang-sayang. Prof. Jamaluddin mengatur benar kunjungan saya ke rumahnya. Obyekan sejarah Islam ditebar di atas meja, salah satunya kitab Al-Quran yang telah berumur 500 tahun. Lupa tanyakan ke beliau apa nama makanan khas yang dibungkus daun pisang: isinya rupa-rupa, enak, bikin kenyang tapi sedikit pedas.
Prof. Syamsul Hadi dari kampus UIN Pamekasan sengaja berkendara untuk menemui saya di Bangkalan, Madura. Jaraknya relatif jauh, 2 s.d. 3 jam berkendara. Pak Rektor Syamsul Hadi melewati Masjid Syaikhona Muhammad Kholil untuk masuk ke gang kecil tempat saya indekost selama 4 hari. Pejabat sederhana, dan guyonannya selalu teringat hingga kini. Terima kasih pak rektor telah mengenalkan saya dengan Prof. KH Muhammad Hasan, cucu Pahlawan Nasional (2025), Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.
Kebaikan Haji Aceng dan Kangta' di Sukadiri, Kasemen, Serang, saya ucapkan terima kasih. Haji Aceng berkenan menerima saya di penginapannya yang lengang dan asri menjelang waktu dinihari. Tumpangan semalam di bawah rintik hujan sungguh berarti bagi saya saat itu. Kangta' memiliki rumah sepetak berpembatas tengah. Kelapangan hati keluarga ini sungguh luas. Rumah ini dihuni 2 kepala keluarga: Kangta' dan orangtuanya. Di bagian depan setelah teras ada ruang berukuran selonjoran orang dewasa, di situlah 5 hari saya ngekost. Mesin air berada di dapur. Setiap kali mesin bunyi di malam hari getarannya membangunkanku. Selama lima hari itu di Kasemen, Serang, seolah waktu terbuang bagi Idris, driver ojol. Lelaki asal Bone, Sulsel, ini yang setia membonceng.
Doktor H. Afrizen di Kota Padang. Satu keluarga sangat baik. Selama 10 hari di Sumatera Barat, sangat terbantu tidak sering merogoh kocek lantaran pak Afrizen menjamin kebutuhan hari-hari saya, bahkan hingga urusan asap. Staf beliau di UPT Asrama Haji Padang welcome mengantar menyusuri pinggiran Kota Padang. Sesekali Afrizen sendiri turun tangan menyetir mobilnya, dan itu membuat saya terasa berat mendapat perlakuan istimewa dari beliau. Pemuda Heri dan Iwan mengantar saya sampai ke Ulakan, Padang Pariaman. Meski bukan sekali ini datang ke Kota Padang, tapi kunjungan untuk penelitian kali ini sangat berkesan. Terima kasih semuanya.
Gang Kramat Sentiong I, Senen, Jakarta, menjadi titik penting untuk saya bisa mengakses lebih cepat ke Perpustakaan Nasional RI di Jl. Medan Merdeka Selatan Nomor 11 Jakarta Pusat. 9 hari lamanya menempati satu kamar berpendingin di Sentiong itu. Terima kasih ibu Gemilang Sukma.
Perjalanan ke pulau seberang dua setengah bulan lamanya menjadi penelitian singkat dan super hemat. Berapa pun jumlah uang yang disumbangkan selama melakukan penelitian, saya ucapkan terima kasih. Karena Anda semua, dokumentasi ini bisa dilakukan. Setiap orang yang telah berempati pada perjuangan penelitian ini, bukan soal berapa jumlahnya, tapi nilai dari sumbangan itu menjadi faktor terpenting setiap gerak langkah, terutama sekali ketika saya berada di kampung orang yang cukup jauh dari Sulawesi.
Para dermawan yang telah menunjukkan kepeduliannya yakni: Muhammad Zain, Sukriadi, H. Ahmad Multazam, Kompas, H. Suhardi Duka, Welem Sambolangi, H. Tribowo Riswahyudi, H. Arsal Aras, Ibnu Taufan, H. Afrizen, Irvandi Demmatande, H. Salim S. Mengga, H. Munis Syamsuddin, H. Hamzah Hapati Hasan, Tamzil Tahir, Endra Putra Sempo, Liitha Febriani, Yaumil Ambo Djiwa, H. Damris, Arham Bustaman, Andik Siswanto, Munandar Wijaya Ramlan, Bang Heru, Ahmad Saehu, Sahar, Muh. Kahlil Gibran, Mario Said Saggaf, Nirmalasari Aras, Muzawir Az Isam, Gemilang Sukma, Iryaana, Rudi Rahmadi, Windy Putra Philips, Fadli Balikpapan, Arwin Rahman, Marhuding, Holden Simanjuntak, Alyas Handi, Sainal Ali Dullah, Syahril, Suarna Kasim, H. Amin Badawi, Muh. Arsyad, Alyas Hamdi, Ardiansyah, Hj. Aisyah, H. Samiran, Irham Azis, Haerul Suardi, Hamzah Sabir, Jupran, Abdi Latif, St. Marwah Sahuding., Ruli Syamsil, Hanapi Pelu, Baim, Anas Makkarumpa, Aco Kamil.
Tentulah tak cukup kata-kata di ruang ini untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikan para dermawan. Balasan untuk Anda semua setimpal. Ikhtiar dan Doa saya di waktu-waktu Maqbul dan Mustajab selalu menyertakan nama Anda semua: diberi keselamatan, kesehatan, kesuksesan dalam karir, serta umur yang panjang. Semoga doaku ini diijabah oleh Allah SWT. Aamiin
Makassar, April 2026
| Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Prabowonomics Mengubah Market Share Menjadi Market Power |
|
|---|
| Keberpihakan terhadap Ekologi Perspektif Sustainable Ethics dan Ekoteologi Kontekstual di Mamasa |
|
|---|
| Manipulasi Narasi Digital & Profesionalisme Penegakan Hukum: Melawan Arus Trial by Social Media |
|
|---|
| Momentum Pertumbuhan dan Tantangan Kualitas Belanja |
|
|---|