Opini
Imam Lapeo : Cinta, Teladan dan Inspirator
Di penghujung Oktober di Mamuju, kanda Syafiuddin Kadir menemukan jalan kelola bathin dan menyarankan pelarian
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/sarmamnsda.jpg)
Oleh : Sarman Sahuding
Wartawan/Penulis
TRIBUN-SULBAR.COM- RENCANA awal ke Lapeo dilatari peristiwa bathin sepulang dari Mambi, Oktober 2011. Kepergian ibu saya untuk selamanya di RS Wahidin Sudiro Husodo, Makassar, Sulsel, pada Rabu, 11 September mengguncang kerinduan saya pada seorang sosok pengasuh yang sungguh menenangkan hidup. Dalam sebulan itu -- hingga beberapa bulan berikutnya -- memandang dunia buyar. Semangat hidup menurun serendah-rendahnya.
Di penghujung Oktober di Mamuju, kanda Syafiuddin Kadir menemukan jalan kelola bathin dan menyarankan pelarian saya ke Lapeo: berziarah sekaligus menulis terkait KH Muhammad Thahir atau Imam Lapeo.
Saya berada di Lapeo, Campalagian, Polewali Mandar, untuk beberapa hari. Menetap di rumah Shaifuddin Kadir Moha, tak begitu jauh dari Masjid Nuruttaubah, masjid besar yang dibangun Imam Lapeo 120-an tahun silam.
Bersama Kak Shae, sapaan Shaifuddin Kadir, kami diterima baik oleh KH Syarifuddin Muhsin Thahir, Imam Besar Masjid Nuruttaubah Lapeo ketika itu. Setelah melakukan ritual ziarah ke Makam Imam Lapeo, dan I'tikaf di masjid bersejarah, kami mulai berdiskusi dengan Kiai Syarifuddin, termasuk Haji Bayanuddin Muhsin Thahir yang tinggal di Ugi Baru, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar.
Setelah beberapa hari di Lapeo, saya kembali ke Mamuju, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Barat, dan kak Shae ke Makassar, tempat istri dan anak-anaknya bermukim sudah sejak lama.
Kumpulan materi wawancara, diskusi selama di Lapeo serta sebuah buku yang dijilid sederhana adalah bekal penting membuat tulisan terkait Imam Lapeo. Buku kecil itu diserahkan langsung oleh KH Syarifuddin Muhsin yang disaksikan oleh H. Ahmad Saehu -- pengurus inti Masjid Nuruttaubah yang belakangan saya ketahui kalau beliau termasuk cucu Imam Lapeo.
Alhasil, saya menyelesaikan tulisan panjang sampai 19 halaman dalam Laporan Utama pada sebuah majalah lokal yang saya bina di Mamuju, kala itu.
Shaifuddin bangga setelah membaca tulisan itu, dan merasa berhasil menuntun jalan ke Lapeo. Sebuah majalah lokal dengan Laporan Utama Imam Lapeo pada terbitan edisi khusus sampai dicetak dua kali dengan oplah mendekati seribu examplar. Dengan ini teringat pernyataan Kiai Syarifuddin Muhsin: "Pernah juga Penulis datang dari Makassar dan Parepare, mengaku laku keras hasil tulisannya tentang Imam Lapeo."
Mengapa Menulis Imam Lapeo?
Nama Mambi sebagai kelurahan dan salah satu kecamatan tua yang lahir pada tahun 1960 bersamaan tiga kecamatan di pegunungan dalam wilayah Dati II Polewali Mamasa, yakni Kecamatan Mamasa, Kecamatan Sumarorong dan Kecamatan Pana'. Seiring waktu, empat kecamatan di pegunungan memekarkan diri dan menghasilkan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Mamasa pada tahun 2002. Disusul pembentukan kecamatan baru hingga mencapai 17 kecamatan saat ini.
Saya menyebut Mambi yang di dalamnya terdapat Desa Sendana, tempat kelahiran saya. Informasi menurun bahwa leluhur kami mengenal Islam berkat dakwah Imam Lapeo ke pegunungan melalui daerah Matangnga, Kabupaten Polewali Mandar. Sepeninggal Imam Lapeo, diilanjutkan oleh anak biologis beliau: KH Najamuddin Thahir dan KH Muhsin Thahir. "Beliau sering naik kuda ke Mambi," kata sumber di Lapeo, Mandar, suatu ketika.
Syiar agama Islam yang dilakukan oleh Imam Lapeo dan anak-anaknya sudah menjadi informasi umum di pegunungan manakala ditelaah awal Islam di kawasan ini. Pengajaran Islam Imam Lapeo di antara warga Mambi kemudian murid-murid beliau itu umumnya berprofesi Guru Agama Islam dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Sejak masa kecil di kampung Mambi, saya menyaksikan bagaimana guru-guru agama hasil didikan Lapeo itu mengajar mengaji kepada anak-anak generasi Mambi dengan tekun, tak mengenal waktu, dan di luar waktu kedinasannya selaku aparat Negara. Beliau-beliau mengajar mengaji Al-Quran dengan tanpa imbalan apa pun dari santri yang diajar. Terus-menerus dari generasi ke generasi hingga mereka pensiun dan menua.
Yang disaluti, bagaimana Imam Lapeo dan penerusnya Kiai Najamuddin Thahir dan KH Muhsin Thahir menanamkan ilmu agama, kedisiplinan, dan keteguhan kepada murid-muridnya itu. Sesuatu yang bisa dipercakapkan tapi tentu tidak gampang mempraktekkannya di zaman kini. Seorang Guru besar dalam bidang agama mampu melahirkan murid yang Istiqamah, kuat dalam prinsip, terbukti teruji dalam ruang dan waktu.
| Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Prabowonomics Mengubah Market Share Menjadi Market Power |
|
|---|
| Keberpihakan terhadap Ekologi Perspektif Sustainable Ethics dan Ekoteologi Kontekstual di Mamasa |
|
|---|
| Manipulasi Narasi Digital & Profesionalisme Penegakan Hukum: Melawan Arus Trial by Social Media |
|
|---|
| Momentum Pertumbuhan dan Tantangan Kualitas Belanja |
|
|---|