Minggu, 31 Mei 2026

Opini

Imam Lapeo : Cinta, Teladan dan Inspirator

Di penghujung Oktober di Mamuju, kanda Syafiuddin Kadir menemukan jalan kelola bathin dan menyarankan pelarian

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Imam Lapeo : Cinta, Teladan dan Inspirator
Istimewa/istimewa
SARMAN SAHUDING PENULIS 

Mambi di awal abad ke-20 mengenal Islam yang dibawa oleh Imam Lapeo -- diteruskan oleh KH Najamuddin Thahir di Lapeo dan anak kedua tertua beliau yakni KH Muhsin Thahir berbasis di daerah Tanro, Polewali. Makanya di daerah pegunungan keislamannya berkarakter Ahlussunnah wal Jamaah dengan Mazhab Imam Syafi'i. Karena Mambi -- termasuk di dalamnya kakek saya di Sendana -- mengenal Islam dari Lapeo, maka inilah kemudian yang menjadi panggilan meneliti serius Imam Lapeo.

Dari seorang tokoh, tetua Pulau Keramat, saya mendengar jelas suara sesegukan dan melihat kedua telapak tangan beliau mengelap air mata yang menitis, menjadi pemandangan tak biasa ketika kedua tungkai saya beranjak dari Pulau Salemo, Kabupaten Pangkajene, Sulsel, untuk menaiki perahu kayu bermesin pada pekan ketiga bulan Desember 2024.

Guru Ince Abdurrahman masih memakai peci, kaos putih dan bawaan sarung putih saat mengantar saya ke Dermaga Pulau Salemo di waktu petang, 18 Desember 2024. Jika tak salah ingat saat itu pukul 17.00 wita. Beliau meminta untuk tidak pulang dulu dan sebaiknya tinggal bermalam. Saya janji beliau di waktu lain datang lagi untuk bermalam di Salemo, di rumah beliau. Sembari berjalan di dermaga kecil yang sudah berumur, Guru Ince kembali bertanya pada saya -- pertanyaan yang sama ketika awal tiba di rumah beliau beberapa jam sebelumnya. Apanyaki' Imam Lapeo? Saya jelaskan posisi saya sebagai Penulis biasa, bukan kerabat dekat Imam Lapeo.

Harapan dan ajakan untuk tinggal semalam di Salemo seolah terbantahkan lantaran rintik hujan berhenti dan, di luar dugaan, kabut terbelah digantikan cahaya mentari selaksa di waktu siang hari. Padahal sore itu sudah mulai lewat jam 5. Mesin perahu berbunyi, beliau memeluk, tanda untuk melepas saya naik ke perahu, "Apanyaki sebetulnya Imam Lapeo?" Saya tak menjawab dan hanya memandanngi mata beliau yang sembab. Beberapa perahu bermesin menggeliat di laut yang tenang di bawah sinar mentari sore yang cukup cerah. Alhamdulillah.

Di atas sepeda motor sambil mencari-cari persinggahan di awal malam kala itu di Kecamatan Ma'rang, Pangkep, di benak coba mencari jawaban yang sesungguhnya, ada apa di balik pertanyaan Guru Ince itu. Saya tak menemukannya. Dan sejak kejadian itulah justru semakin menguatkan tekad saya untuk terus meneliti sosok Imam Lapeo. Saat mengetik kisah pendek ini -- bahkan setiap kali membacanya dalam proses editing -- air mata saya menetes. Sebuah bayangan mendalam sosok Imam Lapeo yang menghunjam dalam rongga dadaku. Teramat mengagumi beliau, terutama sekali pada perjuangan kerasnya dalam Dakwah.

Prof. Azyumardi Azra, Ph.D., M.Phil., M.A., CBE dalam Pengantar buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, 2013:

"Salah satu agenda perenial itu adalah penelitian, kajian, dan penulisan tentang jaringan ulama abad ke-19-20. Saya sendiri sejak mulai meneliti jaringan ulama pada akhir 1980-an, telah mulai mengumpulkan bahan-bahan yang terkait dan relevan dengan jaringan ulama periode ini; untuk suatu waktu kelak bisa saya tulis secara komprehensif pula. Tetapi, kesibukan yang terus meningkat sejak kembali ke tanah air pada 1993, membuat niat tersebut tinggal obsesi, yang dalam perjalanan waktu kian suliit diwujudkan. Padahal sepanjang abad ke-19-20, jaringan ulama itu menawarkan figur-figur ulama sangat penting dan amat kontributif pada dinamika intelektual dan sosial Islam Indonesia. ....."

"..... Jika tidak dilakukan penelitian, kajian, dan penulisan, terjadilah apa yang disebut (Profesor) Oman Fathurrahman sebagai 'jaringan yang terlupakan' ('Aceh, Banten, dan Mindanao', Republika, 9 Maret 2012). Dalam artikel singkat ini, Oman mengungkapkan bukti-bukti awal tentang jaringan yang pernah terwujud antara ulama Aceh, Banten, Cirebon dan Mindanao. Jaringan seperti itu pasti juga eksis di tempat-tempat lain di Nusantara. Salah satu hal terpokok yang perlu dilakukan adalah membaca secara cermat berbagai sumber semasa, khususnya naskah-naskah Islam Nusantara. Khasanah naskah Islam Nusantara sangat kaya, tetapi memerlukan ketekunan dan kecermatan untuk dapat mengungkapkan kekayaan intelektual dan historis yang tersimpan di dalamnya. Jika ini bisa dilakukan, terlihat kian jelas kekayaan dan ketinggian intelektualisme Islam Nusantara. Wallahu a'lam bi al-shawab."

Imam Lapeo sebagai Fakta Sejarah

HERMAN Hafsah, Jurnalis MetroTV, tentu bawa guyon ketika meminta waktu sejenak untuk singgah sholat Sunnah di Masjid Nuruttaubah, Lapeo, Campalagian, pada 2000. Kala itu saya menemani wartawan senior ini untuk sebuah reportase di Tinambung, Polewali Mandar. "Mau singgah sholat dulu, sembari minta doa: tambah istri," demikian Herman mencandai saya kala itu.

Di masa kecilnya di Kabupaten Pinrang, Sulsel, Herman Hafsah sudah sering mendengar para tetua di daerahnya menyebut nama Imam Lapeo. "Kekeramatan beliau sering diceritakan warga kampung, bahwa seorang Ulama di Mandar punya Karomah, tapi dibumbui penyebutan kesaktian," kata Herman suatu ketika. Perjalanan spritual Imam Lapeo menjadi kisah yang penuh warna dalam mozaik dan wajah Keislaman di Sulawesi.

Presiden RI KH Abdurrahman Wahid pernah berbicara kepada salah seorang anggota Paspampres di lingkungan Istana, Jakarta. "Saya mengenal dua Ulama kharismtik di Sulawesi, yakni Imam Lapeo dan Ambo Dalle," kata Gus Dur, sapaan Kiai Abdurahman Wahid, kepada Mayor TNI Bachtiar Syam, tahun 2000. Hal itu diceritakan Bachtiar Syam pada saya di rumahnya, kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, tahun 2001.

Selama waktu penelitian, paling tidak di wilayah Sulsel, Sulbar, dan Sulteng, saya menyaksikan tak sedikit orang bereaksi beragam ketika mengenalkan nama seorang Ulama dari Mandar, Imam Lapeo. Ada yang bercerita terbata-bata sembari menitiskan air mata. Saya menganggap sebagai bentuk kerinduan pada sosok tokoh dengan Karomah yang itu menjadi jembatan pengaruh pada banyak orang. Ada juga tiba-tiba duduk seraya mendaraskan Doa, menengadahkan kedua telapak tangan lalu menghusap dada.

Ada juga yang tampak bergidik sembari kedua telapak menyapu sekujur tubuh. Terkadang kalimat yang diungkapkan tak begitu jelas dengan sorot mata tajam ke depan, memandang jauh di tempat duduk. Imam Lapeo adalah Guru masyarakat yang begitu dihormati, dicintai. Itu yang bisa saya simpulkan dari refleksi gerakan dan penyambutan mereka ketika mendengar nama Kiai besar itu.

Semakin usur para tokoh-tokoh di banyak kampung yang saya datangi, semakin mendapatkan cerita detail terkait Imam Lapeo. Di antara mereka bahkan butuh waktu berbilang jam untuk mendaptkan keterangan sesuai pertanyaan yang saya ajukan. Terkadang lebih sering geleng-geleng kepala. Sebuah tanda perkenalan kepada Imam Lapeo yang seolah sulit diutarakan, tapi mengenal mendalam sosok Ulama itu.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved