Minggu, 31 Mei 2026

Opini

Imam Lapeo : Cinta, Teladan dan Inspirator

Di penghujung Oktober di Mamuju, kanda Syafiuddin Kadir menemukan jalan kelola bathin dan menyarankan pelarian

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Imam Lapeo : Cinta, Teladan dan Inspirator
Istimewa/istimewa
SARMAN SAHUDING PENULIS 

"Beliau luar biasa. Beliau adalah Panrita," kata Haji Mustafa Kampil di Mamuju, Sulbar, Desember 2025. Kalimat pendek di atas menjadi kosakata umum, diucapkan pelbagai tokoh-tokoh agama, Imam Masjid, dan tetua Adat. Imam Lapeo adalah fakta sejarah: sejarah kepenyiaran Islam di separuh wilayah pesisir pulau Sulawesi.

Di Pulau Jawa, saya sempat datang ke Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, pada 18 Agustus 2025, dan selama lima hari di sana. Bertemu Tubagus Ofa Mushofa Al-Abbas (46 tahun) di lokasi Masjid Agung Banten, tak jauh dari Makam Syekh Maulana Hasanuddin -- tokoh agama, penyiar Islam, dan pejuang Banten. Nama KH Muhammad Thahir atau Imam Lapeo tak asing di telinga beliau. Bahkan pengelola masjid dan makam wali Banten itu berjanji kelak akan berkunjung ke Makam Wali Besar di Tosora, Kabupaten Wajo, Sulsel, dan semoga bisa ke Mandar, berziarah di Masjid Imam Lapeo.

Tokoh muda Kota Serang, Banten, itu bercerita singkat nama-nama besar Ulama dari Sulawesi, terkhusus sosok Syekh Yusuf al-Makassari. Ulama besar dari Makassar, Sulsel, ini memiliki irisan kuat dengan Banten di masa penjajahan Belanda dan tentu pula zaman kepenyiaran Islam di Banten dan Sulawesi sekitar Abad ke-17.

Sebelumnya, di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Rabu, 13 Agustus 2025, berhasil menyibak jalan dari ribuan pengunjung di lokasi Makam Syekh Burhanuddiin. Dari pengelola makam, Haji Sabaruddin (70-an tahun) meski tidak mengenal spesifik nama Imam Lapeo yang pernah ke Sumatera belajar Agama Islam. Tapi beliau tak menampik, "Ya, memang ada orang dari Sulawesi yang pernah ke Sumatera belajar agama," kata Haji Sabaruddin, penguasa penunggu makam di puncak HAUL Syekh Burhanuddin Ulakan.

Imam Lapeo memperkuat ilmu keislamannya dengan meneruskan pembelajarannya di Banten dan Jawa Barat. Dalam sejarah disebutkan, kalau Samudera Pasai (Aceh) dan Sumatera Barat sebagai tonggak awal Islam di Kepulauan Nusantara, maka kedatangannya di Banten dan Jawa Barat mengkonfirmasi bahwa Imam Lapeo menapak tilas ilmu agama Islam yang disebarkan oleh Wali Songo (Sembilan Wali Penyebar Islam di Jawa). Jawa Barat, juga Banten, dikenal basis penyiaran Islam seorang grup Wali Songo: Sunan Gunung Jati yang berpusat di Cirebon, Jawa Barat.

Meski Syekh Rohimuddin Nawawi al-Bantani -- cucu tokoh penyebar Islam pelanjut Wali Songo di Banten -- menunjukkan respek terhadap Imam Lapeo yang dibuktikan telah dua kali mengunjungi Mandar. Di Mandar, cucu Wali besar Banten ini menyampaikan ceramah agama, spesifik pengenalan dan luasan cakupan Ilmu Tasawwuf -- salah satu cabang Ilmu dalam Islam yang sangat diminati Imam Lapeo. Saya menemui Syekh Rohimuddin di markas besar Majelis Zikir binaannya di Bekasi, Jawa Barat, Juli 2025.

"Kerja-kerja kepenyiaran Islam yang dilakukan oleh Ulama tempo dulu, sebenarnya sama dengan apa yang berkembang saat ini. Hanya dulu itu manusia (Nusantara) belum terlalu banyak. Wilayahnya luas Umat belum banyak. Nah, sekarang, Anda lihat kan, Umat sudah kayak apa banyaknya. Itu saja bedanya," jelas Syekh Rohimuddin al-Bantani pada Minggu sore di rumah beliau, Bekasi, Jawa Barat.

Jawa Timur, di dalamnya Madura, tempat belajar berikutnya sekaligus menegaskan bahwa Imam Lapeo menggenapi pembelajaran Islamnya di kawasan Sunan Ampel, Surabaya. Imam Lapeo tentu sangat terkait dengan Ulama besar Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Dari nama beliau jelas berasal dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Syaikhona lahir tahun 1825, hanya terpaut belasan tahun waktu kelahiran Imam Lapeo, 1839.

Di masa remaja, atau di usia beliau masih belasan tahun, berangkat ke Mekkah belajar agama Islam. Kedatangan Imam Lapeo di Jawa Timur sekitar tahun 1860, dari banyak sumber sejarah menyebutkan, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan masih bermukim di Mekkah. Dengan fakta ini, Imam Lapeo dan Ulama Bangkalan itu tak sempat bertemu di Madura, atau lebih tepatnya Imam Lapeo tidak pernah berguru langsung kepada Ulama Madura tersebut -- menjadi paradoks dari banyak literasi yang mengulas bahwa Imam Lapeo adalah murid Syaikhona Kholil Bangkalan.

Pertemuan Imam Lapeo dengan Syaikhona Kholil terjadi ketika berlangsung pertemuan para Alim Ulama se-Nusantara di Madura berpuluh tahun kemudian. Kisah dan fakta sejarah ini akan diterangkan dalam isi buku.

Telusur Pesisir Pulau Sulawesi

IMAM Lapeo adalah sosok Ulama pesisir: pesisir di Pulau Sulawesi. Sepulang dari Sumatera dan Jawa belajar Agama Islam yang dilakoninya kurang lebih 16 tahun lamanya, Imam Lapeo tidak langsung kembali ke Mandar, tempat kelahirannya. Kiai Syarifuddin Muhsin menyebut, beliau berkeliling setidaknya di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Bahkan ada yang menyebut sampai ke Gorontalo. Tahun 1861 wilayah provinsi ini masih berstatus kerajaan-kerajaan. Setiap wilayah dipimpin oleh seorang raja dengan otoritasnya masing-masing. Di masa ini pula, secara umum Nusantara berada di bawah pemerintahan kolonial atau Hindia Belanda.

Perjalanan muhibah di kawasan yang disebut di atas, Imam Lapeo menjalin hubungan erat dengan para Kadhi dan Saudagar Bugis-Makassar. Di daerah Sulawesi Selatan, nama Imam Lapeo -- saat itu msih menyandang nama Junaihin Namli -- mulai dikenal luas sebagai Guru muda dengan penguasaan Ilmu Agama Islam yang mumpuni. Beralasan sebab Imam Lapeo menyelesaikan pengembaraan ilmu Islam di jantung awal Islam: daerah basis para Ulama Nusantara di Sumatera dan Jawa. Kekhususan sebagai tambahan kelebihan beliau, selama muhibahnya di Sumatera Barat ia mempelajari teknik bela diri. Beliau belajar dari para Datok dan Kato Melayu. Ditunjang fisik beliau yang tinggi dan kekar, dengan lmu bela dirinya itu, dakwah permulaan yang dilakoninya di tanah Sulawesi berperan penting ketika dalam banyak cerita beliau menghadapi rintangan atau semacam perlawanan.

Menurut Kiai Syarifuddin Muhsin, Kadhi Barru bersama beberapa kerabatnya ingin menunaikan Ibadah Haji ke Mekkah jika Imam Lapeo bersedia menemaninya. Ada dua catatan penting mengapa berhaji di masa itu perlu pertimbangan matang dan menghitung segala resiko.

Pertama, pemerintah Kolonial Belanda sebagai pemegang otoritas dan titah stempel bagi setiap warga Hindia Belanda memberlakukan pengetatan. Setiap pelabuhan-pelabuhan di daerah-daerah jajahan dijaga ketat. 

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved