Minggu, 31 Mei 2026

Opini

Imam Lapeo : Cinta, Teladan dan Inspirator

Di penghujung Oktober di Mamuju, kanda Syafiuddin Kadir menemukan jalan kelola bathin dan menyarankan pelarian

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Imam Lapeo : Cinta, Teladan dan Inspirator
Istimewa/istimewa
SARMAN SAHUDING PENULIS 

Oleh : Sarman Sahuding
Wartawan/Penulis

TRIBUN-SULBAR.COM- RENCANA awal ke Lapeo dilatari peristiwa bathin sepulang dari Mambi, Oktober 2011. Kepergian ibu saya untuk selamanya di RS Wahidin Sudiro Husodo, Makassar, Sulsel, pada Rabu, 11 September mengguncang kerinduan saya pada seorang sosok pengasuh yang sungguh menenangkan hidup. Dalam sebulan itu -- hingga beberapa bulan berikutnya -- memandang dunia buyar. Semangat hidup menurun serendah-rendahnya.

Di penghujung Oktober di Mamuju, kanda Syafiuddin Kadir menemukan jalan kelola bathin dan menyarankan pelarian saya ke Lapeo: berziarah sekaligus menulis terkait KH Muhammad Thahir atau Imam Lapeo.

Saya berada di Lapeo, Campalagian, Polewali Mandar, untuk beberapa hari. Menetap di rumah Shaifuddin Kadir Moha, tak begitu jauh dari Masjid Nuruttaubah, masjid besar yang dibangun Imam Lapeo 120-an tahun silam.

Bersama Kak Shae, sapaan Shaifuddin Kadir, kami diterima baik oleh KH Syarifuddin Muhsin Thahir, Imam Besar Masjid Nuruttaubah Lapeo ketika itu. Setelah melakukan ritual ziarah ke Makam Imam Lapeo, dan I'tikaf di masjid bersejarah, kami mulai berdiskusi dengan Kiai Syarifuddin, termasuk Haji Bayanuddin Muhsin Thahir yang tinggal di Ugi Baru, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar.

Setelah beberapa hari di Lapeo, saya kembali ke Mamuju, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Barat, dan kak Shae ke Makassar, tempat istri dan anak-anaknya bermukim sudah sejak lama.

Kumpulan materi wawancara, diskusi selama di Lapeo serta sebuah buku yang dijilid sederhana adalah bekal penting membuat tulisan terkait Imam Lapeo. Buku kecil itu diserahkan langsung oleh KH Syarifuddin Muhsin yang disaksikan oleh H. Ahmad Saehu -- pengurus inti Masjid Nuruttaubah yang belakangan saya ketahui kalau beliau termasuk cucu Imam Lapeo.

Alhasil, saya menyelesaikan tulisan panjang sampai 19 halaman dalam Laporan Utama pada sebuah majalah lokal yang saya bina di Mamuju, kala itu.

Shaifuddin bangga setelah membaca tulisan itu, dan merasa berhasil menuntun jalan ke Lapeo. Sebuah majalah lokal dengan Laporan Utama Imam Lapeo pada terbitan edisi khusus sampai dicetak dua kali dengan oplah mendekati seribu examplar. Dengan ini teringat pernyataan Kiai Syarifuddin Muhsin: "Pernah juga Penulis datang dari Makassar dan Parepare, mengaku laku keras hasil tulisannya tentang Imam Lapeo."

Mengapa Menulis Imam Lapeo?

Nama Mambi sebagai kelurahan dan salah satu kecamatan tua yang lahir pada tahun 1960 bersamaan tiga kecamatan di pegunungan dalam wilayah Dati II Polewali Mamasa, yakni Kecamatan Mamasa, Kecamatan Sumarorong dan Kecamatan Pana'. Seiring waktu, empat kecamatan di pegunungan memekarkan diri dan menghasilkan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Mamasa pada tahun 2002. Disusul pembentukan kecamatan baru hingga mencapai 17 kecamatan saat ini.

Saya menyebut Mambi yang di dalamnya terdapat Desa Sendana, tempat kelahiran saya. Informasi menurun bahwa leluhur kami mengenal Islam berkat dakwah Imam Lapeo ke pegunungan melalui daerah Matangnga, Kabupaten Polewali Mandar. Sepeninggal Imam Lapeo, diilanjutkan oleh anak biologis beliau: KH Najamuddin Thahir dan KH Muhsin Thahir. "Beliau sering naik kuda ke Mambi," kata sumber di Lapeo, Mandar, suatu ketika.

Syiar agama Islam yang dilakukan oleh Imam Lapeo dan anak-anaknya sudah menjadi informasi umum di pegunungan manakala ditelaah awal Islam di kawasan ini. Pengajaran Islam Imam Lapeo di antara warga Mambi kemudian murid-murid beliau itu umumnya berprofesi Guru Agama Islam dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Sejak masa kecil di kampung Mambi, saya menyaksikan bagaimana guru-guru agama hasil didikan Lapeo itu mengajar mengaji kepada anak-anak generasi Mambi dengan tekun, tak mengenal waktu, dan di luar waktu kedinasannya selaku aparat Negara. Beliau-beliau mengajar mengaji Al-Quran dengan tanpa imbalan apa pun dari santri yang diajar. Terus-menerus dari generasi ke generasi hingga mereka pensiun dan menua.

Yang disaluti, bagaimana Imam Lapeo dan penerusnya Kiai Najamuddin Thahir dan KH Muhsin Thahir menanamkan ilmu agama, kedisiplinan, dan keteguhan kepada murid-muridnya itu. Sesuatu yang bisa dipercakapkan tapi tentu tidak gampang mempraktekkannya di zaman kini. Seorang Guru besar dalam bidang agama mampu melahirkan murid yang Istiqamah, kuat dalam prinsip, terbukti teruji dalam ruang dan waktu.

Mambi di awal abad ke-20 mengenal Islam yang dibawa oleh Imam Lapeo -- diteruskan oleh KH Najamuddin Thahir di Lapeo dan anak kedua tertua beliau yakni KH Muhsin Thahir berbasis di daerah Tanro, Polewali. Makanya di daerah pegunungan keislamannya berkarakter Ahlussunnah wal Jamaah dengan Mazhab Imam Syafi'i. Karena Mambi -- termasuk di dalamnya kakek saya di Sendana -- mengenal Islam dari Lapeo, maka inilah kemudian yang menjadi panggilan meneliti serius Imam Lapeo.

Dari seorang tokoh, tetua Pulau Keramat, saya mendengar jelas suara sesegukan dan melihat kedua telapak tangan beliau mengelap air mata yang menitis, menjadi pemandangan tak biasa ketika kedua tungkai saya beranjak dari Pulau Salemo, Kabupaten Pangkajene, Sulsel, untuk menaiki perahu kayu bermesin pada pekan ketiga bulan Desember 2024.

Guru Ince Abdurrahman masih memakai peci, kaos putih dan bawaan sarung putih saat mengantar saya ke Dermaga Pulau Salemo di waktu petang, 18 Desember 2024. Jika tak salah ingat saat itu pukul 17.00 wita. Beliau meminta untuk tidak pulang dulu dan sebaiknya tinggal bermalam. Saya janji beliau di waktu lain datang lagi untuk bermalam di Salemo, di rumah beliau. Sembari berjalan di dermaga kecil yang sudah berumur, Guru Ince kembali bertanya pada saya -- pertanyaan yang sama ketika awal tiba di rumah beliau beberapa jam sebelumnya. Apanyaki' Imam Lapeo? Saya jelaskan posisi saya sebagai Penulis biasa, bukan kerabat dekat Imam Lapeo.

Harapan dan ajakan untuk tinggal semalam di Salemo seolah terbantahkan lantaran rintik hujan berhenti dan, di luar dugaan, kabut terbelah digantikan cahaya mentari selaksa di waktu siang hari. Padahal sore itu sudah mulai lewat jam 5. Mesin perahu berbunyi, beliau memeluk, tanda untuk melepas saya naik ke perahu, "Apanyaki sebetulnya Imam Lapeo?" Saya tak menjawab dan hanya memandanngi mata beliau yang sembab. Beberapa perahu bermesin menggeliat di laut yang tenang di bawah sinar mentari sore yang cukup cerah. Alhamdulillah.

Di atas sepeda motor sambil mencari-cari persinggahan di awal malam kala itu di Kecamatan Ma'rang, Pangkep, di benak coba mencari jawaban yang sesungguhnya, ada apa di balik pertanyaan Guru Ince itu. Saya tak menemukannya. Dan sejak kejadian itulah justru semakin menguatkan tekad saya untuk terus meneliti sosok Imam Lapeo. Saat mengetik kisah pendek ini -- bahkan setiap kali membacanya dalam proses editing -- air mata saya menetes. Sebuah bayangan mendalam sosok Imam Lapeo yang menghunjam dalam rongga dadaku. Teramat mengagumi beliau, terutama sekali pada perjuangan kerasnya dalam Dakwah.

Prof. Azyumardi Azra, Ph.D., M.Phil., M.A., CBE dalam Pengantar buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, 2013:

"Salah satu agenda perenial itu adalah penelitian, kajian, dan penulisan tentang jaringan ulama abad ke-19-20. Saya sendiri sejak mulai meneliti jaringan ulama pada akhir 1980-an, telah mulai mengumpulkan bahan-bahan yang terkait dan relevan dengan jaringan ulama periode ini; untuk suatu waktu kelak bisa saya tulis secara komprehensif pula. Tetapi, kesibukan yang terus meningkat sejak kembali ke tanah air pada 1993, membuat niat tersebut tinggal obsesi, yang dalam perjalanan waktu kian suliit diwujudkan. Padahal sepanjang abad ke-19-20, jaringan ulama itu menawarkan figur-figur ulama sangat penting dan amat kontributif pada dinamika intelektual dan sosial Islam Indonesia. ....."

"..... Jika tidak dilakukan penelitian, kajian, dan penulisan, terjadilah apa yang disebut (Profesor) Oman Fathurrahman sebagai 'jaringan yang terlupakan' ('Aceh, Banten, dan Mindanao', Republika, 9 Maret 2012). Dalam artikel singkat ini, Oman mengungkapkan bukti-bukti awal tentang jaringan yang pernah terwujud antara ulama Aceh, Banten, Cirebon dan Mindanao. Jaringan seperti itu pasti juga eksis di tempat-tempat lain di Nusantara. Salah satu hal terpokok yang perlu dilakukan adalah membaca secara cermat berbagai sumber semasa, khususnya naskah-naskah Islam Nusantara. Khasanah naskah Islam Nusantara sangat kaya, tetapi memerlukan ketekunan dan kecermatan untuk dapat mengungkapkan kekayaan intelektual dan historis yang tersimpan di dalamnya. Jika ini bisa dilakukan, terlihat kian jelas kekayaan dan ketinggian intelektualisme Islam Nusantara. Wallahu a'lam bi al-shawab."

Imam Lapeo sebagai Fakta Sejarah

HERMAN Hafsah, Jurnalis MetroTV, tentu bawa guyon ketika meminta waktu sejenak untuk singgah sholat Sunnah di Masjid Nuruttaubah, Lapeo, Campalagian, pada 2000. Kala itu saya menemani wartawan senior ini untuk sebuah reportase di Tinambung, Polewali Mandar. "Mau singgah sholat dulu, sembari minta doa: tambah istri," demikian Herman mencandai saya kala itu.

Di masa kecilnya di Kabupaten Pinrang, Sulsel, Herman Hafsah sudah sering mendengar para tetua di daerahnya menyebut nama Imam Lapeo. "Kekeramatan beliau sering diceritakan warga kampung, bahwa seorang Ulama di Mandar punya Karomah, tapi dibumbui penyebutan kesaktian," kata Herman suatu ketika. Perjalanan spritual Imam Lapeo menjadi kisah yang penuh warna dalam mozaik dan wajah Keislaman di Sulawesi.

Presiden RI KH Abdurrahman Wahid pernah berbicara kepada salah seorang anggota Paspampres di lingkungan Istana, Jakarta. "Saya mengenal dua Ulama kharismtik di Sulawesi, yakni Imam Lapeo dan Ambo Dalle," kata Gus Dur, sapaan Kiai Abdurahman Wahid, kepada Mayor TNI Bachtiar Syam, tahun 2000. Hal itu diceritakan Bachtiar Syam pada saya di rumahnya, kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, tahun 2001.

Selama waktu penelitian, paling tidak di wilayah Sulsel, Sulbar, dan Sulteng, saya menyaksikan tak sedikit orang bereaksi beragam ketika mengenalkan nama seorang Ulama dari Mandar, Imam Lapeo. Ada yang bercerita terbata-bata sembari menitiskan air mata. Saya menganggap sebagai bentuk kerinduan pada sosok tokoh dengan Karomah yang itu menjadi jembatan pengaruh pada banyak orang. Ada juga tiba-tiba duduk seraya mendaraskan Doa, menengadahkan kedua telapak tangan lalu menghusap dada.

Ada juga yang tampak bergidik sembari kedua telapak menyapu sekujur tubuh. Terkadang kalimat yang diungkapkan tak begitu jelas dengan sorot mata tajam ke depan, memandang jauh di tempat duduk. Imam Lapeo adalah Guru masyarakat yang begitu dihormati, dicintai. Itu yang bisa saya simpulkan dari refleksi gerakan dan penyambutan mereka ketika mendengar nama Kiai besar itu.

Semakin usur para tokoh-tokoh di banyak kampung yang saya datangi, semakin mendapatkan cerita detail terkait Imam Lapeo. Di antara mereka bahkan butuh waktu berbilang jam untuk mendaptkan keterangan sesuai pertanyaan yang saya ajukan. Terkadang lebih sering geleng-geleng kepala. Sebuah tanda perkenalan kepada Imam Lapeo yang seolah sulit diutarakan, tapi mengenal mendalam sosok Ulama itu.

"Beliau luar biasa. Beliau adalah Panrita," kata Haji Mustafa Kampil di Mamuju, Sulbar, Desember 2025. Kalimat pendek di atas menjadi kosakata umum, diucapkan pelbagai tokoh-tokoh agama, Imam Masjid, dan tetua Adat. Imam Lapeo adalah fakta sejarah: sejarah kepenyiaran Islam di separuh wilayah pesisir pulau Sulawesi.

Di Pulau Jawa, saya sempat datang ke Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, pada 18 Agustus 2025, dan selama lima hari di sana. Bertemu Tubagus Ofa Mushofa Al-Abbas (46 tahun) di lokasi Masjid Agung Banten, tak jauh dari Makam Syekh Maulana Hasanuddin -- tokoh agama, penyiar Islam, dan pejuang Banten. Nama KH Muhammad Thahir atau Imam Lapeo tak asing di telinga beliau. Bahkan pengelola masjid dan makam wali Banten itu berjanji kelak akan berkunjung ke Makam Wali Besar di Tosora, Kabupaten Wajo, Sulsel, dan semoga bisa ke Mandar, berziarah di Masjid Imam Lapeo.

Tokoh muda Kota Serang, Banten, itu bercerita singkat nama-nama besar Ulama dari Sulawesi, terkhusus sosok Syekh Yusuf al-Makassari. Ulama besar dari Makassar, Sulsel, ini memiliki irisan kuat dengan Banten di masa penjajahan Belanda dan tentu pula zaman kepenyiaran Islam di Banten dan Sulawesi sekitar Abad ke-17.

Sebelumnya, di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Rabu, 13 Agustus 2025, berhasil menyibak jalan dari ribuan pengunjung di lokasi Makam Syekh Burhanuddiin. Dari pengelola makam, Haji Sabaruddin (70-an tahun) meski tidak mengenal spesifik nama Imam Lapeo yang pernah ke Sumatera belajar Agama Islam. Tapi beliau tak menampik, "Ya, memang ada orang dari Sulawesi yang pernah ke Sumatera belajar agama," kata Haji Sabaruddin, penguasa penunggu makam di puncak HAUL Syekh Burhanuddin Ulakan.

Imam Lapeo memperkuat ilmu keislamannya dengan meneruskan pembelajarannya di Banten dan Jawa Barat. Dalam sejarah disebutkan, kalau Samudera Pasai (Aceh) dan Sumatera Barat sebagai tonggak awal Islam di Kepulauan Nusantara, maka kedatangannya di Banten dan Jawa Barat mengkonfirmasi bahwa Imam Lapeo menapak tilas ilmu agama Islam yang disebarkan oleh Wali Songo (Sembilan Wali Penyebar Islam di Jawa). Jawa Barat, juga Banten, dikenal basis penyiaran Islam seorang grup Wali Songo: Sunan Gunung Jati yang berpusat di Cirebon, Jawa Barat.

Meski Syekh Rohimuddin Nawawi al-Bantani -- cucu tokoh penyebar Islam pelanjut Wali Songo di Banten -- menunjukkan respek terhadap Imam Lapeo yang dibuktikan telah dua kali mengunjungi Mandar. Di Mandar, cucu Wali besar Banten ini menyampaikan ceramah agama, spesifik pengenalan dan luasan cakupan Ilmu Tasawwuf -- salah satu cabang Ilmu dalam Islam yang sangat diminati Imam Lapeo. Saya menemui Syekh Rohimuddin di markas besar Majelis Zikir binaannya di Bekasi, Jawa Barat, Juli 2025.

"Kerja-kerja kepenyiaran Islam yang dilakukan oleh Ulama tempo dulu, sebenarnya sama dengan apa yang berkembang saat ini. Hanya dulu itu manusia (Nusantara) belum terlalu banyak. Wilayahnya luas Umat belum banyak. Nah, sekarang, Anda lihat kan, Umat sudah kayak apa banyaknya. Itu saja bedanya," jelas Syekh Rohimuddin al-Bantani pada Minggu sore di rumah beliau, Bekasi, Jawa Barat.

Jawa Timur, di dalamnya Madura, tempat belajar berikutnya sekaligus menegaskan bahwa Imam Lapeo menggenapi pembelajaran Islamnya di kawasan Sunan Ampel, Surabaya. Imam Lapeo tentu sangat terkait dengan Ulama besar Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Dari nama beliau jelas berasal dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Syaikhona lahir tahun 1825, hanya terpaut belasan tahun waktu kelahiran Imam Lapeo, 1839.

Di masa remaja, atau di usia beliau masih belasan tahun, berangkat ke Mekkah belajar agama Islam. Kedatangan Imam Lapeo di Jawa Timur sekitar tahun 1860, dari banyak sumber sejarah menyebutkan, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan masih bermukim di Mekkah. Dengan fakta ini, Imam Lapeo dan Ulama Bangkalan itu tak sempat bertemu di Madura, atau lebih tepatnya Imam Lapeo tidak pernah berguru langsung kepada Ulama Madura tersebut -- menjadi paradoks dari banyak literasi yang mengulas bahwa Imam Lapeo adalah murid Syaikhona Kholil Bangkalan.

Pertemuan Imam Lapeo dengan Syaikhona Kholil terjadi ketika berlangsung pertemuan para Alim Ulama se-Nusantara di Madura berpuluh tahun kemudian. Kisah dan fakta sejarah ini akan diterangkan dalam isi buku.

Telusur Pesisir Pulau Sulawesi

IMAM Lapeo adalah sosok Ulama pesisir: pesisir di Pulau Sulawesi. Sepulang dari Sumatera dan Jawa belajar Agama Islam yang dilakoninya kurang lebih 16 tahun lamanya, Imam Lapeo tidak langsung kembali ke Mandar, tempat kelahirannya. Kiai Syarifuddin Muhsin menyebut, beliau berkeliling setidaknya di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Bahkan ada yang menyebut sampai ke Gorontalo. Tahun 1861 wilayah provinsi ini masih berstatus kerajaan-kerajaan. Setiap wilayah dipimpin oleh seorang raja dengan otoritasnya masing-masing. Di masa ini pula, secara umum Nusantara berada di bawah pemerintahan kolonial atau Hindia Belanda.

Perjalanan muhibah di kawasan yang disebut di atas, Imam Lapeo menjalin hubungan erat dengan para Kadhi dan Saudagar Bugis-Makassar. Di daerah Sulawesi Selatan, nama Imam Lapeo -- saat itu msih menyandang nama Junaihin Namli -- mulai dikenal luas sebagai Guru muda dengan penguasaan Ilmu Agama Islam yang mumpuni. Beralasan sebab Imam Lapeo menyelesaikan pengembaraan ilmu Islam di jantung awal Islam: daerah basis para Ulama Nusantara di Sumatera dan Jawa. Kekhususan sebagai tambahan kelebihan beliau, selama muhibahnya di Sumatera Barat ia mempelajari teknik bela diri. Beliau belajar dari para Datok dan Kato Melayu. Ditunjang fisik beliau yang tinggi dan kekar, dengan lmu bela dirinya itu, dakwah permulaan yang dilakoninya di tanah Sulawesi berperan penting ketika dalam banyak cerita beliau menghadapi rintangan atau semacam perlawanan.

Menurut Kiai Syarifuddin Muhsin, Kadhi Barru bersama beberapa kerabatnya ingin menunaikan Ibadah Haji ke Mekkah jika Imam Lapeo bersedia menemaninya. Ada dua catatan penting mengapa berhaji di masa itu perlu pertimbangan matang dan menghitung segala resiko.

Pertama, pemerintah Kolonial Belanda sebagai pemegang otoritas dan titah stempel bagi setiap warga Hindia Belanda memberlakukan pengetatan. Setiap pelabuhan-pelabuhan di daerah-daerah jajahan dijaga ketat. 

Dalam buku Dr. H. Shaleh Putuhena: Historioggrafi Haji Indonesia, LKIS, 2007, disebutkan, meskipun keadaan pelayaran niaga ke Timur Tengah dan suasana politik tidak kondusif untuk perjalanan haji, sepanjang abad XVIII masih juga secara sporadis banyak penduduk Nusantara yang mengunjungi Haramain. Bagi sebagian orang, kunjungan itu adalah untuk menuntut ilmu, sebagaimana pada permulaan haji, dan bagi sebagian yang lain untuk menunaikan ibadah haji, biasanya segera kembali ke Nusantara.

Perjalanan haji dan terutama untuk tujuan belajar Agama Islam ke Haramain, tidak berjalan mulus. Utusan tokoh dari Nusantara yang hendak ke Haramain, seiring waktu kemudian mengalami hambatan akibat penguasa Belanda tidak mengizinkan pelayaran dari Nusantarra ke Jeddah, Timur Tengah.

Kedua, seperti yang disebutkan oleh Kiai Syarifuddin Muhsin, bahwa permulaan ibadah haji Imam Lapeo bersama rombongan Kadhi Barru, kondisi Arab Saudi ketika itu rawan keamanan. Tak ada jaminan keamanan perjalanan dari Jeddah ke Mekkah, pasukan bersenjata menghadang walau itu alasan beribadah. Di Mekkah saat itu, kelebihan awal Imam Lapeo disaksikan secara kasat oleh rombongan, di sisi lain -- lantaran cukup lama rombongan ini di tanah Mekkah -- informasi yang sampai ke Mandar, tak ada jaminan Imam Lapeo dan rombongan haji selamat kembali ke Nusantara (Sulawesi).

Sekembalinya dari Mekkah, Imam Lapeo meneruskan dakwahnya. "Beliau ke tanah Luwu, Kolaka (Sulawesi Tenggara), dan sering ke Pulau Salemo (Pangkep)," kata Kiai Syarifuddin Muhsin Thahir.

Setelah enam tahun berkeliling dakwah di kawasan Sulawesi bagian selatan dan tenggara, Imam Lapeo kembali ke Mandar.

Di Mandar, Imam Lapeo yang sudah memasuki umur kedewasaan memasifkan pengajaran Agama Islam. Masa itu, kehidupan keagamaan di kawasan Mandar masih menganut animisme. Imam Lapeo memilih Campalagian sebagai basis pengajaran Agama Islam. Membangun Surau, Musolla di daerah Laliko. Inilah embrio kebangkiran syiar Islam di tanah Mandar secara massif. Dan, awal puncaknya -- akhir abad XIX -- memulai pembangunan Masjid Nuruttaubah di Lapeo. Pembangunan masjid ini di bawah kendali langsung oleh Imam Lapeo.

Karakter Masjid Nurutraubah di Lapeo mengadopsi unsur-unsur masjid di daerah yang pernah beliau kunjungi: Sumatera, Banten, dan Jawa Timur. Menara Masjid Gantiang di Kota Padang, tiang-tiang penyanggah masjid dari kayu pilihan yang kokoh di Banten lama dan Masjid Sunan Ampel di Surabaya, termasuk bentuk dan ukuran Beduq, semacam terduplikasi ke Masjid Nuruttaubah Lapeo, Campalagian, Polewali Mandar, Sulawesi Barat sekarang.

Sejak berdirinya masjid tua di  Sulawesi bagian barat ini pada awal abad XX Masehi, Imam Lapeo bertindak selaku Imam Masjid. Sejak 120-an tahun itulah nama Imam Lapeo mulai akrab di telinga khalayak ramai hingga hari ini. Kisah penamaan KH Muhammad Thahir akan terurai dalam isi buku.

Pernikahan pertama Imam Lapeo dilangsungkan ketika umur beliau menginjak 59 tahun. Sebuah fakta terang menjelaskan bahwa Imam Lapeo terlampau kuat dan disiplin dalam berdakwah. Nama Sayyid Alwi bin Abdullah bin Sahl Jamalullail yang menyarankan Imam Lapeo menikah. Kisahnya ada dalam isi buku.

Imam Lapeo melakukan penbelajaran syiar Islam ke daerah Manakarra -- Mamuju, Mamuju Tengah, dan Pasangkayu -- saat ini. Bahkan secara rutin mengunjungi Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Salah satu bukti sejarah mengenali jejak Imam Lapeo sampai ke Manakarra dan Sulawesi Tengah, ditemukan 85 masjid yang dibanngun beliau. Kisah ini terangkum panjang dalam ini buku.

Perjalanan 12 Provinsi

Selama penelitian, mendatangi 12 provinsi di Indonesia, 79 kabupaten/kota, 156 kecamatan. Dan, ratusan desa/kelurahan.

Mewawancarai 268 Narasumber: Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat, Pemuda, dan Mahasiswa di 12 Provinsi.

MAKASSAR, Sabtu,  12 Juli 2025, sekitar pukul 15.30 wita, saya naik di KM Binaiya berbendera Merah Putih -- Indonesia. Sebelum waktu magrib, satu dari 26 armada kapal milik PELNI ini mulai bergerak meninggalkan Dermaga Pelabuhan Sorkarno-Hatta, Jl. Penghibur, Makassar, Sulsel. Pelayaran kapal penumpang pelat merah ini transit di Pelabuhan Labuan Bajo, NTT. Dari atas kapal yang sedang berdiam diri di Dermaga Labuan Bajo berpenghuni tiga ribuan penumpang, saya menikmati benar kawasan laut Labuan Bajo. Sabtu, 13 Juli, sekitar pukul 13.00 wita. Banyak kapal pesiar pelbagai ukuran dengan artistiknya yang memesona lalulalang: Labuan Bajo - Pulau Komodo. Di bawah sinar mentari yang menyengat, cukup berpindah-pindah di dek kapal di mana tidak terpapar langsung sinar matahari. Di malam hari sekitar pukul 22.45 wita, KM Binaiya sandar di Pelabuhan Bima, NTB.

Setelah 4 hari di Kota Bima, sebuah mobil ekspedisi trans Nusa Tenggara membawa saya ke Kabupaten Sumbawa. Kisah panjang dan eksotisme Gunung Tambora hanya sambil lalu di telinga saya yang diceritakan oleh bapak Hasan, pemilik rumah yang saya tumpangi setia menemani selama di Kota Bima.

Perjalanan darat Bima - Sumbawa cukup menantang. Di atas bus mini padat penumpang, lalai sejenak berpegang kuat bisa terlempar ke kursi depan. Drivernya ugal-ugalan. Kecepatan tinggi. Tak ada beda tanjakan, penurunan, dan kelokan tajam gas tetap diinjak. Bus melaju. Bagi penumpang lain ini sudah biasa. Meski dalam suasana perjalanan miris, saya masih bisa menikmati keelokan pegunungan Bima, Dompu, dan Sumbawa sebelum gelap malam. Tak lebih 24 jam saja di Sumbawa Besar, selain hanya pertelepon ke beberapa pihak. Selanjutnya ke Kota Mataram: Jawa kecil di Nusa Tenggara.

Nuansa Islam di Mataram, Lombok Tengah, dan Lombok Timur -- daerah yang saya kunjungi -- tak lepas peran tokoh besar Tuan Guru KH Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW) ini adalah Pahlawan Nasional. Sejumlah Guru Besar di UIN Mataram yang saya temui, takzim benar ketika bercerita mengenai sosok Ulama besar NTB ini. Bersyukur bisa bertemu Tuan Guru KH Burhanuddin di Lombok Tengah, Sabtu, 19 Juli 2025. Ketika itu beliau sedang dirawat di RS Praya Lombok Tengah. Beliau masih tampak ceria dan kerap tersenyum di atas bansal. Keterangan keluarga dekat, Tuan Guru Burhan, sapaannya, kecapean setelah habis mengunjungi 8 provinsi dalam rangka pembenahan pengurus daerah NW -- organisasi sosial kemasyarakatan Islam  yang bergerak di bidang pendidikan dan dakwah.

Tuan Guru Burhan seolah tak mau menyerah dari kelelahannya bahkan nyaris terjatuh dari mimbar saat beri sambutan di Kota Denpasar, Bali, dan sejak itu beliau dilarikan ke Jakarta lalu dibawa ke Lombok setelah kondisi kesehatannya sudah tidak terlalu mengkuatirkan.

Keteguhan Dakwah Tuan Guru Burhan seolah mengingatkan kita upaya dan kerja keras ulama terdahulu membimbing umat. Beliau-beliau bekerja tak kenal menyerah. Ditambah lagi, untuk periode dulu, Ulama di Nusantara bergerak mendidik Umat di bawah tekanan penjajah Belanda.

Paparan singkat di atas menjadi gambaran bahwa betapa Ulama kita terdahulu adalah wujud Hadist Nabi Muhammad SAW (HR. Turmidzi dan Abu Daud): Al-Ulama Waratsatul Anbiya (Ulama adalah Pewaris Para Nabi).

Saya meninggalkan NTB menaiki kapal mewah Dharma Lautan Utama (DLU) menuju Surabaya, Jawa Timur. Di Pelabujan Tanjung Perak, Surabaya, saya cukup berjalan kaki menuju dermaga tempat kapal penumpang umum tujuan Bangkalan, Madura. Setelah empat hari di Bangkalan, saya kembali ke Surabaya dan langsung menuju kawasan Ampel. Lima hari mondok di dekat Masjid Sunan Ampel lalu meneruskan perjalanan ke Kota Yogyakarta untuk waktu dua hari-malam. Tujuan ke kampus Fakultas Sejarah UGM dan rumah kediaman Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun.

Dari kota Yogya kembali menaiki bus antarprovinsi ke DKI Jakarta, Selasa, 29 Juli 2025. Sejak awal berangkat di Makassar, saya sengaja memilih perjalanan laut dan darat saja, lebih murah meski tentu kelelahan: digoyang obak, diguncang hentakan jalan di atas bus dengan waktu tempuh setiap perjalanan relatif lama. Di Jakarta, mengetahui kondisi ini, sahabat saya Doktor Muhammad Zain dan adinda Sukriadi sebenarnya menawarkan perjalanan berikutnya pakai pesawat terbang. Saya menolak. Ini bukan perjalanan wisata, itu yang tertanam di pikiranku. Dukungan kedua kolega tadi membangkitkan semangat saya untuk bergerak ke Sumatera, juga Banten. Lalu kembali ke Jawa Timur untuk tujuan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Sumenep. Saya kembali mondok 5 hari di kawasan Ampel Denta, Kota Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Sumenep, Madura, dan selanjutkan ke Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Perjalanannya menantang, tapi kisahnya sungguh asyik terlebih menautkannya dengan kisah perjalanan Dakwah Imam Lapeo di tanah Jawa.

Catatan perjalanan berikut teruntai detail dalam isi buku, hingga di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Selanjutnya, perjalanan penelitian di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo saya tidak singgung di sini karena, bisa dikatakan, bagian ini menjadi daging inti isi buku ini. 10 hari sebelum memasuki Ramadhan 2026, saya kembali dari Palu, Sulawesi Tengah. Itu berarti tujuan penting provinsi ke-13, Sulawesi Tenggara, terutama sekali untuk dua titik penting yakni Kota Kolaka dan Kota Kendari menjadi batal.

Penjelasan Memilih Judul

Buku ini diberi judul: IMAM LAPEO, Figur Ulama di Pesisir Nusantara

EMBRIO keulamaan Imam Lapeo sudah mulai terbaca sejak kecil di Pambusuang, Mandar, tempat kelahiran beliau. Junaihin Namli adalah nama kecil pemberian ayahnya mengalami ujian serius saat ayahnya membawanya melaut. Di atas perahu layar yang kecil di laut Pambusuang, Junaihin Namli jatuh dari perahu. Ayahnya, Haji Muhammad panik tak keruan. Anaknya tenggelam di laut. Ia berdoa. Ia berusaha dan berdoa di malam hari itu untuk bisa menemukan kembali anaknya dalam keadaan selamat.

Ayahnya kerap memanggil namanya: Junaihin. Doa beliau terkabul. Seketika di ujung perahu tampak air membuih. Ada gerakan dari bawah laut. Ayahnya mencoba menurunkan tangan dan mencapai lengan Junaihin, dan dengan sekuat tenaga ayahnya mengangkat anaknya ke perahu. Junaihin selamat. Ia masih hidup. Kelak menjadi Ulama pesohor di Nusantara.

Keluar dari kampung Pambusuang, kata KH Syarifuddin Muhsin, sekitar tahun 1844-45, akibat pergolakan membuat keluarga Junaihin Namli sampai ke Jampue, Pinrang, Sulawesi Selatan. Ibunya membawa Junaihin iikut dalam rombongan dari Pambusuang ke Pinrang.

Selama tinggal di rumah Kadhi Jampue, seorang keturunan Arab-Bugis yang kaya, tak punya anak, Junaihin menunjukkan minatnya belajar Agama Islam, dan terutama sekali rajin menbaca Al-Quran.

Beliau melakukan perjalanan panjang antara tahun 1845 s.d. 1860 umtuk masa pembelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan 6 tahun berkeliling di Sulawesi sebagai implementasi dari syiar Islam sebelum kembali ke Mandar umtuk pertama kali sejak beliau meninggalkan Pambusuang mengungsi ke Jampue, Pinrang.

Terima Kasih para Dermawan

Setiap daerah yang kupijak, kudapati orang-orang baik. Ada menginapkan di rumahnya, mengajak makan di warung bahkan yang ikhlas memberi sedikit uang. Walau penelitian ini saya lakukan mandiri, tak lepas uluran tangan banyak orang yang membantu. Di Pulau Salemo, Pangkep, Datuk Salemo dan keluaga kecilnya mengajariku makan Kepiting hasil tangkapan di laut. Super enaknya kepiting tersembunyi di balik karapas yang keras dan rapat.

Masih di atas kapal PELNI rute Makassar - Bima, Farah, seorang mahasiswi AIPI Makassar asli Bima memperkenalkan nama Dharma Lautan Utama (DLU). "Itu kapal swasta yang bagus," kata mahasiswi ini pada saya. Seorang lelaki di Cafetaria kapal, setelah berkenalan singkat, menelepon seorang tokoh Bugis yang sukses di Kota Bima. "Beliau sering membantu. Sudah banyak masjid dibangun," katanya. Ia sertakan nomor kontak bersangkutan, dan benar beliau menemui saya di Bima beberapa hari kemudian. Beliau ini juga fasiilitasi kamar inap sederhana ketika saya tiba di Sumbawa.

Selama 4 hari di Bima, keluarga pak Baharuddin sangat baik. Kakak iparnya malah bersedia mengantar saya keliling Bima dengan Katana tua putih -- seputih jenggot beliau. Pak Hasan namanya. Anak lelakinya tak kalah baik. Dijemput ke pelabuhan, dan ia mengaku rela istirahat kerja bengkel selama saya ada di Bima.

Mataram, NTB, sangat istimewa menurutku. Empat profesor kampus keagamaan negeri menerimaku dengan lapang. Rektor UIN Mataram Prof. Masnun, Prof. Fahrurozy Dahlan mengajak buka, menyantap makanan khas Kota  Mataram, ayam bakar sayang-sayang. Prof. Jamaluddin mengatur benar kunjungan saya ke rumahnya. Obyekan sejarah Islam ditebar di atas meja, salah satunya kitab Al-Quran yang telah berumur 500 tahun. Lupa tanyakan ke beliau apa nama makanan khas yang dibungkus daun pisang: isinya rupa-rupa, enak, bikin kenyang tapi sedikit pedas.

Prof. Syamsul Hadi dari kampus UIN Pamekasan sengaja berkendara untuk menemui saya di Bangkalan, Madura. Jaraknya relatif jauh, 2 s.d. 3 jam berkendara. Pak Rektor Syamsul Hadi melewati Masjid Syaikhona Muhammad Kholil untuk masuk ke gang kecil tempat saya indekost selama 4 hari. Pejabat sederhana, dan guyonannya selalu teringat hingga kini. Terima kasih pak rektor telah mengenalkan saya dengan Prof. KH Muhammad Hasan, cucu Pahlawan Nasional (2025), Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.

Kebaikan Haji Aceng dan Kangta' di Sukadiri, Kasemen, Serang, saya ucapkan terima kasih. Haji Aceng berkenan menerima saya di penginapannya yang lengang dan asri menjelang waktu dinihari. Tumpangan semalam di bawah rintik hujan sungguh berarti bagi saya saat itu. Kangta' memiliki rumah sepetak berpembatas tengah. Kelapangan hati keluarga ini sungguh luas. Rumah ini dihuni 2 kepala keluarga: Kangta' dan orangtuanya. Di bagian depan setelah teras ada ruang berukuran selonjoran orang dewasa, di situlah 5 hari saya ngekost. Mesin air berada di dapur. Setiap kali mesin bunyi di malam hari getarannya membangunkanku. Selama lima hari itu di Kasemen, Serang, seolah waktu terbuang bagi Idris, driver ojol. Lelaki asal Bone, Sulsel, ini yang setia membonceng.

Doktor H. Afrizen di Kota Padang. Satu keluarga sangat baik. Selama 10 hari di Sumatera Barat, sangat terbantu tidak sering merogoh kocek lantaran pak Afrizen menjamin kebutuhan hari-hari saya, bahkan hingga urusan asap. Staf beliau di UPT Asrama Haji Padang welcome mengantar menyusuri pinggiran Kota Padang. Sesekali Afrizen sendiri turun tangan menyetir mobilnya, dan itu membuat saya terasa berat mendapat perlakuan istimewa dari beliau. Pemuda Heri dan Iwan mengantar saya sampai ke Ulakan, Padang Pariaman. Meski bukan sekali ini datang ke Kota Padang, tapi kunjungan untuk penelitian kali ini sangat berkesan. Terima kasih semuanya.

Gang Kramat Sentiong I, Senen, Jakarta, menjadi titik penting untuk saya bisa mengakses lebih cepat ke Perpustakaan Nasional RI di Jl. Medan Merdeka Selatan Nomor 11 Jakarta Pusat. 9 hari lamanya menempati satu kamar berpendingin di Sentiong itu. Terima kasih ibu Gemilang Sukma.

Perjalanan ke pulau seberang dua setengah bulan lamanya menjadi penelitian singkat dan super hemat. Berapa pun jumlah uang yang disumbangkan selama melakukan penelitian, saya ucapkan terima kasih. Karena Anda semua, dokumentasi ini bisa dilakukan. Setiap orang yang telah berempati pada perjuangan penelitian ini, bukan soal berapa jumlahnya, tapi nilai dari sumbangan itu menjadi faktor terpenting setiap gerak langkah, terutama sekali ketika saya berada di kampung orang yang cukup jauh dari Sulawesi.

Para dermawan yang telah menunjukkan kepeduliannya yakni: Muhammad Zain, Sukriadi, H. Ahmad Multazam, Kompas, H. Suhardi Duka, Welem Sambolangi, H. Tribowo Riswahyudi, H. Arsal Aras, Ibnu Taufan, H. Afrizen, Irvandi Demmatande, H. Salim S. Mengga, H. Munis Syamsuddin, H. Hamzah Hapati Hasan, Tamzil Tahir, Endra Putra Sempo, Liitha Febriani, Yaumil Ambo Djiwa, H. Damris, Arham Bustaman, Andik Siswanto, Munandar Wijaya Ramlan, Bang Heru, Ahmad Saehu, Sahar, Muh. Kahlil Gibran, Mario Said Saggaf, Nirmalasari Aras, Muzawir Az Isam, Gemilang Sukma, Iryaana, Rudi Rahmadi, Windy Putra Philips, Fadli Balikpapan, Arwin Rahman, Marhuding, Holden Simanjuntak, Alyas Handi, Sainal Ali Dullah, Syahril, Suarna Kasim, H. Amin Badawi, Muh. Arsyad, Alyas Hamdi, Ardiansyah, Hj. Aisyah, H. Samiran, Irham Azis, Haerul Suardi, Hamzah Sabir, Jupran, Abdi Latif, St. Marwah Sahuding., Ruli Syamsil, Hanapi Pelu, Baim, Anas Makkarumpa, Aco Kamil. 

Tentulah tak cukup kata-kata di ruang ini untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikan para dermawan. Balasan untuk Anda semua setimpal. Ikhtiar dan Doa saya di waktu-waktu Maqbul dan Mustajab selalu menyertakan nama Anda semua: diberi keselamatan, kesehatan, kesuksesan dalam karir, serta umur yang panjang. Semoga doaku ini diijabah oleh Allah SWT. Aamiin 

Makassar, April 2026

 

Sumber: Tribun sulbar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved