Opini
Rupiah di Titik Kritis Suatu Ujian Ketahanan Bagi Ekonomi di Daerah
Kondisi tersebut dinilai bukan lagi sekadar gejolak pasar keuangan nasional, melainkan telah menjadi sinyal tekanan struktural yang berdampak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Dr-Wahyu-Maulid-Adha-Akademisi-Unsulbar.jpg)
Akibatnya, margin keuntungan petani semakin tertekan, sementara daya beli masyarakat berpendapatan rendah ikut melemah.
Meski penguatan Dolar AS berpotensi meningkatkan nilai ekspor komoditas, manfaatnya dinilai belum sepenuhnya dirasakan daerah penghasil seperti Sulawesi Barat.
Tanpa penguatan hilirisasi dan efisiensi distribusi, keuntungan ekspor lebih banyak dinikmati pelaku usaha besar dibanding petani kecil.
Karena itu, pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) didorong memperkuat langkah mitigasi melalui pengembangan pupuk organik berbasis desa, penguatan konektivitas logistik laut, stabilisasi harga pangan hingga optimalisasi pasar murah di pedesaan.
Situasi ini juga dinilai menjadi momentum penting bagi Sulawesi Barat untuk memperkuat fondasi ekonomi lokal agar tidak terlalu bergantung pada transfer pusat dan bahan baku impor.
Pelemahan Rupiah pada akhirnya bukan sekadar persoalan kurs mata uang, melainkan cerminan tantangan besar dalam membangun kemandirian ekonomi daerah dan nasional secara berkelanjutan.(*)